alexametrics
20.6 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Rawan Gempa, tapi Tak Berpotensi Tsunami

SUMENEP – Bencana tsunami di Selat Sunda mengakibatkan ratusan orang meninggal dan ribuan luka-luka. Bencana itu membuat masyarakat khawatir. Masyarakat yang berdomisili di Sumenep juga waswas.

Akan tetapi, menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep Abd. Rahman Riadi, masyarakat tidak perlu waswas. Sebab, Sumenep tidak termasuk daerah lempengan yang berpotensi tsunami.

Yang perlu diwaspadai hanya ketinggian air laut yang bisa membahayakan bagi nelayan dan masyarakat pesisir. ”Kemungkinan air laut naik karena menjelang bulan purnama,” jelas Rahman Senin (24/12).

Menurut dia, ketinggian gelombang laut saat ini berada di kisaran 1,5 meter hingga 2,5 meter. Dengan ketinggian gelombang itu, nelayan perlu waspada. Terlebih manakala hujan disertai angin kencang. ”Kami mengharapkan nelayan waspada dan sebisa mungkin tidak melaut terlebih dahulu,” sarannya.

Baca Juga :  JKN – KIS Hindarkan Keluarga Kami dari Utang Biaya Pengobatan

Kepala Stasiun BMKG Kalianget Usman Khalid juga memastikan bahwa Sumenep bukan daerah yang rawan tsunami. Namun berdasar rilis BMKG Surabaya, Madura termasuk daerah yang rawan gempa. Di Jawa Timur, menurut dia, ada empat titik rawan yang masuk pada sesar aktif RMKS (Rembang, Madura, Kangean, dan Sakala).

”Tsunami pemicunya bisa disebabkan gempa. Akan tetapi, beberapa kejadian terakhir seperti gempa Situbondo dan beberapa susulannya tidak berpotensi tsunami,” tegas Usman.

Tsunami di Selat Sunda, terang dia, juga bukan semata gempa. Erupsi Anak Gunung Krakatau menjadi penyebab terjadinya tsunami. Sementara di Madura, tidak ada gunung berapi yang membahayakan seperti Anak Krakatau.

”Saya kira masyarakat tidak perlu risau karena Sumenep beda topografi, keadaan tanah, dan lain sebagainya,” papar dia. ”Wilayah Sumenep aman. Tapi, masyarakat tetap harus waspada,” imbaunya. 

Baca Juga :  Bulan Ini Penentu Reposisi Ketua DPRD

- Advertisement -

SUMENEP – Bencana tsunami di Selat Sunda mengakibatkan ratusan orang meninggal dan ribuan luka-luka. Bencana itu membuat masyarakat khawatir. Masyarakat yang berdomisili di Sumenep juga waswas.

Akan tetapi, menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep Abd. Rahman Riadi, masyarakat tidak perlu waswas. Sebab, Sumenep tidak termasuk daerah lempengan yang berpotensi tsunami.

Yang perlu diwaspadai hanya ketinggian air laut yang bisa membahayakan bagi nelayan dan masyarakat pesisir. ”Kemungkinan air laut naik karena menjelang bulan purnama,” jelas Rahman Senin (24/12).


Menurut dia, ketinggian gelombang laut saat ini berada di kisaran 1,5 meter hingga 2,5 meter. Dengan ketinggian gelombang itu, nelayan perlu waspada. Terlebih manakala hujan disertai angin kencang. ”Kami mengharapkan nelayan waspada dan sebisa mungkin tidak melaut terlebih dahulu,” sarannya.

Baca Juga :  Jadikan Sumenep Corong Industri Pertanian, Pusat Bantu Rp 35 Miliar

Kepala Stasiun BMKG Kalianget Usman Khalid juga memastikan bahwa Sumenep bukan daerah yang rawan tsunami. Namun berdasar rilis BMKG Surabaya, Madura termasuk daerah yang rawan gempa. Di Jawa Timur, menurut dia, ada empat titik rawan yang masuk pada sesar aktif RMKS (Rembang, Madura, Kangean, dan Sakala).

”Tsunami pemicunya bisa disebabkan gempa. Akan tetapi, beberapa kejadian terakhir seperti gempa Situbondo dan beberapa susulannya tidak berpotensi tsunami,” tegas Usman.

Tsunami di Selat Sunda, terang dia, juga bukan semata gempa. Erupsi Anak Gunung Krakatau menjadi penyebab terjadinya tsunami. Sementara di Madura, tidak ada gunung berapi yang membahayakan seperti Anak Krakatau.

”Saya kira masyarakat tidak perlu risau karena Sumenep beda topografi, keadaan tanah, dan lain sebagainya,” papar dia. ”Wilayah Sumenep aman. Tapi, masyarakat tetap harus waspada,” imbaunya. 

Baca Juga :  Pembangunan Pelabuhan Dungkek-Gili Iyang 2020

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/