alexametrics
21.1 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

Pulau Sabuntan Terdampak Kekeringan

SUMENEP – Musim kemarau panjang mengakibatkan Pulau/Desa Sabuntan, Kecamatan Sapeken, dilanda kekeringan. Air di sumur-sumur warga mengering. Hingga kini, untuk mendapatkan air bersih, warga harus berjalan dengan jarak yang cukup jauh.

Berdasarkan penuturan Rasyid, 51, warga Pulau/Desa Sabuntan, kondisi tersebut sudah setiap tahun terjadi. Dari sekian banyak sumur, mayoritas mengalami kekeringan. Hanya dua sumber mata air alami yang tak pernah kering meski musim kemarau panjang.

”Sumber Buek Bual dan Jariangau. Kalau kemarau hampir semua warga Pulau Sabuntan  ambil air ke sumber ini,” ungkapnya kemarin (24/11).

Diterangkan, untuk sumber air Buek Bual biasa digunakan warga untuk kebutuhan seperti mandi dan mencuci. Sementara sumber air Jariangau dimanfaatkan warga untuk kebutuhan konsumsi.

Baca Juga :  Buek Bual Sumber Kehidupan Masyarakat Pulau Sabuntan

”Airnya bagus untuk dikonsumsi langsung. Sudah seperti air mineral. Kalau sumber Buek Bual cuma biasa dipakai buat mandi dan mengaliri sawah,” papar Rasyid.

Warga berharap nantinya sumber air alami tersebut bisa diperhatikan pemerintah. Agar mendapat bantuan mesin penyedot yang bisa menyalurkan air ke rumah-rumah warga.

”Kalau bisa disalurkan langsung ke rumah. Jadi warga tidak repot lagi dapat air bersih saat kemarau,” tuturnya.

Sementara itu, Pj Kepala Desa Sabuntan Ainurrahmat memaparkan, pemerintah desa sudah menyediakan tandon air bersih untuk disalurkan ke rumah-rumah warga. Itu supaya masyarakat tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih.

Hanya, di musim kemarau, menurutnya sumber air dari sumur yang biasa untuk menyuplai air ke tandon ikut mengering. Jadi tidak bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan air ke rumah warga.

Baca Juga :  Konservasi Kakaktua Butuh Rencana Jangka Panjang

”Kebanyakan warga langsung mengambil ke sumber mata air alami. Sebab, di sumber itu tidak kering walaupun kemarau,” tandasnya. 

SUMENEP – Musim kemarau panjang mengakibatkan Pulau/Desa Sabuntan, Kecamatan Sapeken, dilanda kekeringan. Air di sumur-sumur warga mengering. Hingga kini, untuk mendapatkan air bersih, warga harus berjalan dengan jarak yang cukup jauh.

Berdasarkan penuturan Rasyid, 51, warga Pulau/Desa Sabuntan, kondisi tersebut sudah setiap tahun terjadi. Dari sekian banyak sumur, mayoritas mengalami kekeringan. Hanya dua sumber mata air alami yang tak pernah kering meski musim kemarau panjang.

”Sumber Buek Bual dan Jariangau. Kalau kemarau hampir semua warga Pulau Sabuntan  ambil air ke sumber ini,” ungkapnya kemarin (24/11).


Diterangkan, untuk sumber air Buek Bual biasa digunakan warga untuk kebutuhan seperti mandi dan mencuci. Sementara sumber air Jariangau dimanfaatkan warga untuk kebutuhan konsumsi.

Baca Juga :  Bakal Lelang Delapan Jabatan Kepala OPD

”Airnya bagus untuk dikonsumsi langsung. Sudah seperti air mineral. Kalau sumber Buek Bual cuma biasa dipakai buat mandi dan mengaliri sawah,” papar Rasyid.

Warga berharap nantinya sumber air alami tersebut bisa diperhatikan pemerintah. Agar mendapat bantuan mesin penyedot yang bisa menyalurkan air ke rumah-rumah warga.

”Kalau bisa disalurkan langsung ke rumah. Jadi warga tidak repot lagi dapat air bersih saat kemarau,” tuturnya.

Sementara itu, Pj Kepala Desa Sabuntan Ainurrahmat memaparkan, pemerintah desa sudah menyediakan tandon air bersih untuk disalurkan ke rumah-rumah warga. Itu supaya masyarakat tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih.

Hanya, di musim kemarau, menurutnya sumber air dari sumur yang biasa untuk menyuplai air ke tandon ikut mengering. Jadi tidak bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan air ke rumah warga.

Baca Juga :  Buek Bual Sumber Kehidupan Masyarakat Pulau Sabuntan

”Kebanyakan warga langsung mengambil ke sumber mata air alami. Sebab, di sumber itu tidak kering walaupun kemarau,” tandasnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/