alexametrics
29.1 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Kado Pahit Hari Tani 2019 bagi Petani Tembakau

Tata niaga tembakau menjadi kado pahit Hari Agraria Nasional atau Hari Tani 2019. Penjualan tembakau kering benar-benar tidak laris. Kalaupun laku, petani dipastikan menanggung rugi.

 

HARGA tembakau di tingkat petani kian terjun bebas. Tak hanya itu, petani kian menjerit karena rugi. Belum lagi masih banyak tembakau hasil panen yang tak kunjung terjual.

Seperti dialami Miskiyanto, warga Desa Sentol Laok, Kecamatan Pragaan, Sumenep. Saat ini harga tembakau di tingkat petani Rp 23 ribu hingga Rp 45 ribu. Bahkan ada yang ditawar di bawah Rp 20 ribu.

Harga tersebut untuk tembakau kering siap jual. Meski diketahui nominal rupiahnya, banyak petani belum mendapat uang sepeser pun dari pedagang.

Pada masa awal panen, harga tembakau banyak bertahan di harga Rp 45 ribuan. Tapi, sekarang kebanyakan sudah di bawah Rp 30 ribu. Meski mengetahui harga tembakau anjlok, petani tetap panen. Jika dibiarkan mengering di sawah akan tambah rugi. Konsekuensi jika dipanen sendiri, harus keluar modal lagi untuk kebutuhan perajangan.

Kualitas tembakau tahun ini cukup bagus.Petani berharap harga segera bersahabat. Setidaknya, jerih payah yang dilalui selama masa tanam berwujud hasil sesuai harapan.

Bukan hanya waktu dan tenaga, biaya bertani tembakau juga besar. Jika diperinci, untuk 1.000 bibit tembakau, harga belinya Rp 20 ribu. Biaya air Rp 110 ribu dalam 1.000 bibit. Bajak sawah menggunakan traktor Rp 400 ribu untuk setengah hari kerja. Kalau pakai bajak sapi cukup Rp 80 ribu. Itu pun biasanya tidak selesai. Harus dikerjakan selama dua hari. Dengan demikian, petani harus merogoh kocek Rp 160 ribu.

Baca Juga :  Program Pembibitan Tembakau Dihapus

Kemudian, tukang cangkul setengah hari Rp 40 ribu per orang. Biasanya mengongkos empat orang. Itu dilakukan dua kali dalam sekali tanam. Mencangkul sawah sebelum penanaman dikenal dengan istilah nyokla’. Kedua kalinya yakni ngardunge atau meninggikan gundukan tanah yang ditanami tembakau. Kemudian, arao (membersihkan rumput) Rp 25 ribu per orang. Belum lagi biaya makan pekerja dan beli pupuk.

”Jarang ada yang tenam 1.000 bibit. Biasanya 2.000 bibit. Paling sedikit 1.500 bibit. Tinggal kalikan biayanya,” terang pria 57 tahun itu kemarin (24/9).

Biaya panensatu bendel (satu ikat karung) petani biasa mengeluarkan biaya lebih dari Rp 500 ribu. Beda lagi dengan sewa transportasi yang akan mengangkut tembakau dari sawah ke rumah.Setelah panen, untuk memprosesnya sebelum dirajang juga keluar ongkos menggulung daun tembakau. Perorang Rp 40 ribu.

Setelah itu, mengongkos tokang pasat (perajang) satu bendel Rp 40 ribu per orang. Tukang tata tembakau untuk dikeringkan Rp 35 ribu per orang. Pemilik tembakau biasanya mengongkos empat sampai lima orang dalam satu bidang pekerjaan berbeda.

Beberapa petani di desanya mengeluarkan modal Rp 3 juta hingga Rp 6 juta. Bahkan, mungkin ada yang lebih. Dibandingkan dengan harga jual saat ini, petani tidak bisa mendapat keuntungan. Malah rugi.

”Ambil saja di harga terendah Rp 20 ribu dengan bobot 1 kuintal per bal hanya Rp 2 juta. Bisa balik modal saja sudah bersyukur,” keluh Miski.

Selain menjual tembakau kering, ada petani yang melepas harga di sawah. Sebab, tak ingin keluar modal lagi untuk biaya panen. Beberapa tembakau petani di sawah sudah mendapat tawaran harga dari pedagang. Tapi, kebanyakan digagalkan. ”Karena sekarang informasinya pabrik gak beli. Jangankan mau disortir, mau masuk ke gudang aja susah. Tolong perhatikan nasib kami,” ujarnya.

Baca Juga :  Enam Pabrik Tembakau Sudah Tentukan Harga Pembelian

Bukan hanya persoalan biaya. Tenaga dan pikiran juga terkuras selama bertani tembakau. Bagaimana tidak, setiap hari petani harus rutin menyiram tembakau. Kemudian, rutin memupuk pada waktu tertentu. ”Badan sudah remuk. Pikiran mumet. Mau pijat, uangnya gak ada,” keluhnya sembari bercanda.

Sementara ribuan bal tembakau di gudang penyimpanan PT Surya Kahuripan Semesta semakin menggunung. Tembakau-tembakau kering siap jual di gudang di Desa Gunggung, Kecamatan Batuan, Sumenep, itu terus berdatangan. Penumpukan terjadi akibat pabrikan tidak lagi melakukan pembelian. Kemasan-kemasan tembakau banyak yang rusak.

Tengkulak juga khawatir tembakau yang dibawa petani tidak laku. Ratusan bal masih diakad utang kepada petani. Bahkan tengkulak rela tak pulang dari gudang karena selalu ditagih petani. Padahal, tembakau yang dibawa juga belum terjual sehingga tak ada uang untuk dibawa pulang.

”Saya bawa lagi 100 bal. Sebelumnya ada 700 bal yang belum laku. Sebanyak 200 bal sudah dibawa ke pabrik, tapi belum dibayar,” kata Madruka, 55, tengkulak asal Desa Tobai, Kecamatan Sokobanah, Sampang.

Harga petani melalui perantara berkisar Rp 35 ribu–Rp 45 ribu per kilogram. Ada juga harga di atas Rp 50 ribu, tetapi tidak banyak.

Madruka berharap pabrik kembali melakukan penyerapan. Pria berkopiah hitam itu menjelaskan, setiap 100 bal yang dibawa bernilai sekitar Rp 219 juta. ”Masih banyak yang belum diambil di petani. Belum berani bawa. Yang sebelumnya saja belum terbayarkan,” tuturnya. 

Tata niaga tembakau menjadi kado pahit Hari Agraria Nasional atau Hari Tani 2019. Penjualan tembakau kering benar-benar tidak laris. Kalaupun laku, petani dipastikan menanggung rugi.

 

HARGA tembakau di tingkat petani kian terjun bebas. Tak hanya itu, petani kian menjerit karena rugi. Belum lagi masih banyak tembakau hasil panen yang tak kunjung terjual.


Seperti dialami Miskiyanto, warga Desa Sentol Laok, Kecamatan Pragaan, Sumenep. Saat ini harga tembakau di tingkat petani Rp 23 ribu hingga Rp 45 ribu. Bahkan ada yang ditawar di bawah Rp 20 ribu.

Harga tersebut untuk tembakau kering siap jual. Meski diketahui nominal rupiahnya, banyak petani belum mendapat uang sepeser pun dari pedagang.

Pada masa awal panen, harga tembakau banyak bertahan di harga Rp 45 ribuan. Tapi, sekarang kebanyakan sudah di bawah Rp 30 ribu. Meski mengetahui harga tembakau anjlok, petani tetap panen. Jika dibiarkan mengering di sawah akan tambah rugi. Konsekuensi jika dipanen sendiri, harus keluar modal lagi untuk kebutuhan perajangan.

Kualitas tembakau tahun ini cukup bagus.Petani berharap harga segera bersahabat. Setidaknya, jerih payah yang dilalui selama masa tanam berwujud hasil sesuai harapan.

Bukan hanya waktu dan tenaga, biaya bertani tembakau juga besar. Jika diperinci, untuk 1.000 bibit tembakau, harga belinya Rp 20 ribu. Biaya air Rp 110 ribu dalam 1.000 bibit. Bajak sawah menggunakan traktor Rp 400 ribu untuk setengah hari kerja. Kalau pakai bajak sapi cukup Rp 80 ribu. Itu pun biasanya tidak selesai. Harus dikerjakan selama dua hari. Dengan demikian, petani harus merogoh kocek Rp 160 ribu.

Baca Juga :  Enam Pabrik Tembakau Sudah Tentukan Harga Pembelian

Kemudian, tukang cangkul setengah hari Rp 40 ribu per orang. Biasanya mengongkos empat orang. Itu dilakukan dua kali dalam sekali tanam. Mencangkul sawah sebelum penanaman dikenal dengan istilah nyokla’. Kedua kalinya yakni ngardunge atau meninggikan gundukan tanah yang ditanami tembakau. Kemudian, arao (membersihkan rumput) Rp 25 ribu per orang. Belum lagi biaya makan pekerja dan beli pupuk.

”Jarang ada yang tenam 1.000 bibit. Biasanya 2.000 bibit. Paling sedikit 1.500 bibit. Tinggal kalikan biayanya,” terang pria 57 tahun itu kemarin (24/9).

Biaya panensatu bendel (satu ikat karung) petani biasa mengeluarkan biaya lebih dari Rp 500 ribu. Beda lagi dengan sewa transportasi yang akan mengangkut tembakau dari sawah ke rumah.Setelah panen, untuk memprosesnya sebelum dirajang juga keluar ongkos menggulung daun tembakau. Perorang Rp 40 ribu.

Setelah itu, mengongkos tokang pasat (perajang) satu bendel Rp 40 ribu per orang. Tukang tata tembakau untuk dikeringkan Rp 35 ribu per orang. Pemilik tembakau biasanya mengongkos empat sampai lima orang dalam satu bidang pekerjaan berbeda.

Beberapa petani di desanya mengeluarkan modal Rp 3 juta hingga Rp 6 juta. Bahkan, mungkin ada yang lebih. Dibandingkan dengan harga jual saat ini, petani tidak bisa mendapat keuntungan. Malah rugi.

”Ambil saja di harga terendah Rp 20 ribu dengan bobot 1 kuintal per bal hanya Rp 2 juta. Bisa balik modal saja sudah bersyukur,” keluh Miski.

Selain menjual tembakau kering, ada petani yang melepas harga di sawah. Sebab, tak ingin keluar modal lagi untuk biaya panen. Beberapa tembakau petani di sawah sudah mendapat tawaran harga dari pedagang. Tapi, kebanyakan digagalkan. ”Karena sekarang informasinya pabrik gak beli. Jangankan mau disortir, mau masuk ke gudang aja susah. Tolong perhatikan nasib kami,” ujarnya.

Baca Juga :  Cagar Budaya Hanya Masjid Jamik

Bukan hanya persoalan biaya. Tenaga dan pikiran juga terkuras selama bertani tembakau. Bagaimana tidak, setiap hari petani harus rutin menyiram tembakau. Kemudian, rutin memupuk pada waktu tertentu. ”Badan sudah remuk. Pikiran mumet. Mau pijat, uangnya gak ada,” keluhnya sembari bercanda.

Sementara ribuan bal tembakau di gudang penyimpanan PT Surya Kahuripan Semesta semakin menggunung. Tembakau-tembakau kering siap jual di gudang di Desa Gunggung, Kecamatan Batuan, Sumenep, itu terus berdatangan. Penumpukan terjadi akibat pabrikan tidak lagi melakukan pembelian. Kemasan-kemasan tembakau banyak yang rusak.

Tengkulak juga khawatir tembakau yang dibawa petani tidak laku. Ratusan bal masih diakad utang kepada petani. Bahkan tengkulak rela tak pulang dari gudang karena selalu ditagih petani. Padahal, tembakau yang dibawa juga belum terjual sehingga tak ada uang untuk dibawa pulang.

”Saya bawa lagi 100 bal. Sebelumnya ada 700 bal yang belum laku. Sebanyak 200 bal sudah dibawa ke pabrik, tapi belum dibayar,” kata Madruka, 55, tengkulak asal Desa Tobai, Kecamatan Sokobanah, Sampang.

Harga petani melalui perantara berkisar Rp 35 ribu–Rp 45 ribu per kilogram. Ada juga harga di atas Rp 50 ribu, tetapi tidak banyak.

Madruka berharap pabrik kembali melakukan penyerapan. Pria berkopiah hitam itu menjelaskan, setiap 100 bal yang dibawa bernilai sekitar Rp 219 juta. ”Masih banyak yang belum diambil di petani. Belum berani bawa. Yang sebelumnya saja belum terbayarkan,” tuturnya. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/