alexametrics
28.5 C
Madura
Saturday, August 13, 2022

Apen Sumenep, Jajanan Legendaris Lintas Generasi

SUMENEP – Sumenep tidak hanya layak disebut sebagai kota wisata. Tetapi, juga menjadi pusat kuliner. Sebab, daerah yang pernah dipimpin oleh Adipati Arya Wiraraja ini memiliki banyak sekali makanan atau jajanan yang menggugah selera.

 Salah-satunya jajanan apen. Apen merupakan jajanan lintas generasi. Sejak zaman old hingga zaman now, jajanan ini tetap eksis. Penikmatnya pun melintasi zaman, mulai dari generasi tua hingga anak-anak sangat doyan makan Apen.

Di Sumenep banyak sekali pedagang apen. Salah satunya, Hj Nurul Aisyah. Perempuan yang sudah memiliki tiga cucu ini mengaku sudah berjualan apen sejak masih remaja. Dia belajar teknik membuat Apen dari mendiang ibunya.

”Saya sudah puluhan tahun jualan apen. Mulai masih muda sampai sekarang. Bahkan, sayalah yang pertama kali jualan apen di daerah ini,” kata Nurul saat ditemui di warungnya yang terletak di sebelah timur Pasar Bangkal, Kota Sumenep, Rabu (22/5).

Baca Juga :  Harkitnas, Wabup Fauzi Ajak Tingkatkan Kapasitas Diri

Bahan-bahan untuk membuat apen sangat simpel. Bahan dasarnya hanya tepung beras, santan, dan gula merah. Tepung beras untuk membuat apen, sedangkan santan dan gula merah sebagai kuahnya.

Yang sulit menurut Nurul adalah cara agar apen tersebut lembut dan matang. Sebab, ada orang yang bikin terkadang keras. Ada pula yang lembut, tapi kurang matang. Karena itu, butuh trik khusus agar kualitas apen bisa ideal.

Bentuk apen hampir sama dengan kue serabi. Bedanya, serabi berbahan dasar tepung terigu dicampur dengan parutan kelapa, sedangkan apen hanya berbahan tepung beras. Saat ini ada banyak varian sara apen. Misalnya, rasa original, rasa telur, rasa pandan, atau rasa cokelat.

Baca Juga :  Campor Lenteng yang Bikin Ketagihan

Untuk memasaknya juga hampir sama dengan memasak serabi. Alat-alat yang digunakan cukup sederhana. Adona apen dipanggang di atas wajan kecil dari tanah liat di atas tungku menggunakan kayu bakar. Cara masak tradisional ini membuat aroma apen sangat khas. ”Apen ini paling enak kalau dinikmati pas masih hangat,” tegas Nurul.

 

SUMENEP – Sumenep tidak hanya layak disebut sebagai kota wisata. Tetapi, juga menjadi pusat kuliner. Sebab, daerah yang pernah dipimpin oleh Adipati Arya Wiraraja ini memiliki banyak sekali makanan atau jajanan yang menggugah selera.

 Salah-satunya jajanan apen. Apen merupakan jajanan lintas generasi. Sejak zaman old hingga zaman now, jajanan ini tetap eksis. Penikmatnya pun melintasi zaman, mulai dari generasi tua hingga anak-anak sangat doyan makan Apen.

Di Sumenep banyak sekali pedagang apen. Salah satunya, Hj Nurul Aisyah. Perempuan yang sudah memiliki tiga cucu ini mengaku sudah berjualan apen sejak masih remaja. Dia belajar teknik membuat Apen dari mendiang ibunya.


”Saya sudah puluhan tahun jualan apen. Mulai masih muda sampai sekarang. Bahkan, sayalah yang pertama kali jualan apen di daerah ini,” kata Nurul saat ditemui di warungnya yang terletak di sebelah timur Pasar Bangkal, Kota Sumenep, Rabu (22/5).

Baca Juga :  Tiga Proyek Dinas PU Bina Marga di Kangean, Berpotensi Libas Deadline

Bahan-bahan untuk membuat apen sangat simpel. Bahan dasarnya hanya tepung beras, santan, dan gula merah. Tepung beras untuk membuat apen, sedangkan santan dan gula merah sebagai kuahnya.

Yang sulit menurut Nurul adalah cara agar apen tersebut lembut dan matang. Sebab, ada orang yang bikin terkadang keras. Ada pula yang lembut, tapi kurang matang. Karena itu, butuh trik khusus agar kualitas apen bisa ideal.

Bentuk apen hampir sama dengan kue serabi. Bedanya, serabi berbahan dasar tepung terigu dicampur dengan parutan kelapa, sedangkan apen hanya berbahan tepung beras. Saat ini ada banyak varian sara apen. Misalnya, rasa original, rasa telur, rasa pandan, atau rasa cokelat.

Baca Juga :  Cari Tempat Tongkrongan yang Nyaman? Areya Kopi Jawabannya
- Advertisement -

Untuk memasaknya juga hampir sama dengan memasak serabi. Alat-alat yang digunakan cukup sederhana. Adona apen dipanggang di atas wajan kecil dari tanah liat di atas tungku menggunakan kayu bakar. Cara masak tradisional ini membuat aroma apen sangat khas. ”Apen ini paling enak kalau dinikmati pas masih hangat,” tegas Nurul.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/