alexametrics
25.4 C
Madura
Monday, May 16, 2022

Bakal Sulap TPA Jadi Wisata Paralayang

SUMENEP – Tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah identik dengan bau, kotor, dan kumuh. Namun, hal itu dilihat berbeda oleh Pemkab Sumenep. TPA yang terletak di Desa/Kecamatan Batuan rencananya bakal disulap menjadi salah satu destinasi wisata.

Wakil Bupati (Wabup) Sumenep Achmad Fauzi menyampaikan, pemkab memprogramkan pembangunan TPA menjadi wisata paralayang. Pemkab akan mengembangkan pengolahan sampah dengan menambah fasilitas berupa insinerator.

Alat tersebut merupakan teknologi pengolahan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3). Salah satunya sampah dan limbah medis. Menurutnya, limbah medis tersebut bisa diolah menjadi pupuk dengan teknologi insinerator. ”Limbah medis se-Madura nanti dikumpulkan lalu diolah di sini,” ungkapnya kemarin (23/3).

Direncanakan, pengolahan sampah medis menggunakan insinerator direalisasikan tahun ini. Pemkab masih menunggu proses pengurusan analisis dampak lingkungan (amdal). Untuk menyulap TPA menjadi ekowisata dan pengolahan sampah medis, pemkab menyiapkan anggaran Rp 2,8 miliar. ”Ada paralayang nanti untuk pariwisata. Terintegrasi nanti, multifungsi,” jelas Fauzi.

Baca Juga :  KMP DBS III Tetap Angkut Penumpang

Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep Agus Salam menjelaskan, TPA tidak hanya berfungsi untuk pembuangan dan pengolahan sampah. Saat ini TPA sudah melakukan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.

Sampah nonorganik dipilah untuk didaur ulang. Sampah plastik didaur ulang menjadi bahan kerajinan tangan. Seperti pot bunga, keranjang, tas, dan lain-lain. Selain itu, DLH membuka ruang edukasi bagi pelajar atau masyarakat umum yang ingin mengetahui pengolahan sampah untuk bisa dimanfaatkan kembali. ”Sebelum sampah masuk TPA, sudah dipisah antara organik dan nonorganik. Itu untuk memperkecil sampah yang masuk ke TPA,” jelasnya.

TPA akan dilengkapi pengolahan sampah medis dengan teknologi insinerator dan wisata paralayang. Realisasi pembangunan dimulai tahun ini meski tidak secara keseluruhan. ”Dilakukan secara bertahap,” ucapnya.

Untuk tahap awal DLH masih melakukan penataan. Dimulai menanam ratusan bibit bunga tabebuya. Jika tumbuh, bunga ini akan memberikan warna yang berbeda-beda. DLH juga mulai menanam bibit pohon kopi. Tujuannya, menyerap bau sampah yang menyengat dari TPA. ”Pohon kopi bisa menyerap bau. Kami juga tanam beberapa bibit lain. Untuk awal, penghijauan dulu,” kata Agus.

Baca Juga :  Percikan Api Las Diduga Jadi Pemicu Kebakaran, Enam Truk Damkar Siaga

Selain melakukan penghijauan, DLH akan mengalokasikan pengadaan permainan anak-anak. Nantinya di TPA akan disediakan area bermain. Agus mengaku sudah menyiapkan tempat untuk wisata paralayang. ”View-nya bagus. Keterjalannya memungkinkan. Landasan di atas TPA. Kami akan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengelola wisata paralayang ini,” ucap pria berkumis itu.

Dia menambahkan, untuk sementara pihaknya mendapat kucuran dana Rp 500 juta. Anggaran tersebut untuk realisasi tahap awal dari total anggaran yang disiapkan Rp 2,8 miliar. ”Penanaman sudah dimulai. Kami akan letakkan beberapa gazebo nanti di tempat ini untuk bersantai. Memang butuh waktu untuk mewujudkannya,” tukas dia.

SUMENEP – Tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah identik dengan bau, kotor, dan kumuh. Namun, hal itu dilihat berbeda oleh Pemkab Sumenep. TPA yang terletak di Desa/Kecamatan Batuan rencananya bakal disulap menjadi salah satu destinasi wisata.

Wakil Bupati (Wabup) Sumenep Achmad Fauzi menyampaikan, pemkab memprogramkan pembangunan TPA menjadi wisata paralayang. Pemkab akan mengembangkan pengolahan sampah dengan menambah fasilitas berupa insinerator.

Alat tersebut merupakan teknologi pengolahan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3). Salah satunya sampah dan limbah medis. Menurutnya, limbah medis tersebut bisa diolah menjadi pupuk dengan teknologi insinerator. ”Limbah medis se-Madura nanti dikumpulkan lalu diolah di sini,” ungkapnya kemarin (23/3).

Direncanakan, pengolahan sampah medis menggunakan insinerator direalisasikan tahun ini. Pemkab masih menunggu proses pengurusan analisis dampak lingkungan (amdal). Untuk menyulap TPA menjadi ekowisata dan pengolahan sampah medis, pemkab menyiapkan anggaran Rp 2,8 miliar. ”Ada paralayang nanti untuk pariwisata. Terintegrasi nanti, multifungsi,” jelas Fauzi.

Baca Juga :  Sedot Dana APBD Rp 3,66 Miliar

Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep Agus Salam menjelaskan, TPA tidak hanya berfungsi untuk pembuangan dan pengolahan sampah. Saat ini TPA sudah melakukan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.

Sampah nonorganik dipilah untuk didaur ulang. Sampah plastik didaur ulang menjadi bahan kerajinan tangan. Seperti pot bunga, keranjang, tas, dan lain-lain. Selain itu, DLH membuka ruang edukasi bagi pelajar atau masyarakat umum yang ingin mengetahui pengolahan sampah untuk bisa dimanfaatkan kembali. ”Sebelum sampah masuk TPA, sudah dipisah antara organik dan nonorganik. Itu untuk memperkecil sampah yang masuk ke TPA,” jelasnya.

TPA akan dilengkapi pengolahan sampah medis dengan teknologi insinerator dan wisata paralayang. Realisasi pembangunan dimulai tahun ini meski tidak secara keseluruhan. ”Dilakukan secara bertahap,” ucapnya.

Untuk tahap awal DLH masih melakukan penataan. Dimulai menanam ratusan bibit bunga tabebuya. Jika tumbuh, bunga ini akan memberikan warna yang berbeda-beda. DLH juga mulai menanam bibit pohon kopi. Tujuannya, menyerap bau sampah yang menyengat dari TPA. ”Pohon kopi bisa menyerap bau. Kami juga tanam beberapa bibit lain. Untuk awal, penghijauan dulu,” kata Agus.

Baca Juga :  KMP DBS III Tetap Angkut Penumpang

Selain melakukan penghijauan, DLH akan mengalokasikan pengadaan permainan anak-anak. Nantinya di TPA akan disediakan area bermain. Agus mengaku sudah menyiapkan tempat untuk wisata paralayang. ”View-nya bagus. Keterjalannya memungkinkan. Landasan di atas TPA. Kami akan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengelola wisata paralayang ini,” ucap pria berkumis itu.

Dia menambahkan, untuk sementara pihaknya mendapat kucuran dana Rp 500 juta. Anggaran tersebut untuk realisasi tahap awal dari total anggaran yang disiapkan Rp 2,8 miliar. ”Penanaman sudah dimulai. Kami akan letakkan beberapa gazebo nanti di tempat ini untuk bersantai. Memang butuh waktu untuk mewujudkannya,” tukas dia.

Artikel Terkait

Most Read

THR untuk PNS Sedot Rp 31 Miliar

Belasan SMA/SMK Tak Jalankan E-Rapor

Lagi, Polres Gagal Tangkap Bandar Narkoba

Kocok Ulang Hadapi Babak 8 Besar

Artikel Terbaru

/