alexametrics
22.4 C
Madura
Monday, August 15, 2022

Sambut Musim Hujan, Ini Harapan Pembudi Daya Rumput Laut di Saronggi

SUMENEP  – Budi daya rumput laut di Sumenep sebenarnya tidak mengenal musim. Tapi kalau ditanya penghasilan, sangat bergantung pada cuaca. Saat musim kemarau, diakui pembudi daya kurang menguntungkan.

Hal itu disampaikan Hairuddin, warga Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi. Menurutnya, pada musim kemarau pendapatan pembudi daya rumput laut menurun. Sebab, ombak bisa mengganggu proses pertumbuhan bibit rumput laut.

Pada musim hujan, kondisi perairan laut lebih tenang. Cocok untuk budi daya dan hasilnya bisa lebih banyak. ”Kalau kemarau ombaknya besar. Rumput lautnya nggak cepat besar. Bambu kotaknya juga bisa rusak,” ujarnya.

Hairuddin memaparkan, harga rumput laut kering bisa mencapai Rp 20 ribu lebih per kilogram. Harga tersebut untuk kategori rumput laut tawar. Sementara untuk rumput laut yang menggunakan garam lebih murah. Sekitar Rp 11 ribu sampai Rp 13 ribu per kilogram.

Baca Juga :  80 Penumpang Selamat, Sebagian Dirawat di Puskesmas dan Rumah Warga

Budi daya rumput laut membutuhkan modal dan waktu cukup lama. Kotak bibit rumput laut yang ditanam baru bisa dipanen dalam kurun waktu sekitar 40 hari. Setelah panen, rumput laut dikeringkan selama dua hari.

Rumput laut basah bisa juga langsung dijual. Tapi, harganya lebih murah dibanding dijual dalam kondisi kering. Dengan kondisi cuaca saat ini, lima kotak bibit rumput laut saat dipanen hanya dihargai sekitar Rp 16 juta. Sebab, kualitas tidak sebagus musim penghujan.

Memasuki musim penghujan, pria 48 tahun itu berharap hasil budi daya rumput laut bisa lebih menguntungkan. Dengan begitu, bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga. ”Alhamdulillah. Sedikit atau banyak hasil yang diperoleh tetap disyukuri,” paparnya. (bad/luq)

Baca Juga :  Berbaur dan Cek Lokasi CFD, Wabup Sumenep Berharap HUT JPRM Semarak

SUMENEP  – Budi daya rumput laut di Sumenep sebenarnya tidak mengenal musim. Tapi kalau ditanya penghasilan, sangat bergantung pada cuaca. Saat musim kemarau, diakui pembudi daya kurang menguntungkan.

Hal itu disampaikan Hairuddin, warga Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi. Menurutnya, pada musim kemarau pendapatan pembudi daya rumput laut menurun. Sebab, ombak bisa mengganggu proses pertumbuhan bibit rumput laut.

Pada musim hujan, kondisi perairan laut lebih tenang. Cocok untuk budi daya dan hasilnya bisa lebih banyak. ”Kalau kemarau ombaknya besar. Rumput lautnya nggak cepat besar. Bambu kotaknya juga bisa rusak,” ujarnya.


Hairuddin memaparkan, harga rumput laut kering bisa mencapai Rp 20 ribu lebih per kilogram. Harga tersebut untuk kategori rumput laut tawar. Sementara untuk rumput laut yang menggunakan garam lebih murah. Sekitar Rp 11 ribu sampai Rp 13 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Perusakan Alat Peraga Kampanye Marak

Budi daya rumput laut membutuhkan modal dan waktu cukup lama. Kotak bibit rumput laut yang ditanam baru bisa dipanen dalam kurun waktu sekitar 40 hari. Setelah panen, rumput laut dikeringkan selama dua hari.

Rumput laut basah bisa juga langsung dijual. Tapi, harganya lebih murah dibanding dijual dalam kondisi kering. Dengan kondisi cuaca saat ini, lima kotak bibit rumput laut saat dipanen hanya dihargai sekitar Rp 16 juta. Sebab, kualitas tidak sebagus musim penghujan.

Memasuki musim penghujan, pria 48 tahun itu berharap hasil budi daya rumput laut bisa lebih menguntungkan. Dengan begitu, bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga. ”Alhamdulillah. Sedikit atau banyak hasil yang diperoleh tetap disyukuri,” paparnya. (bad/luq)

Baca Juga :  PLN Sumenep Nihil Tunggakan, Ternyata Ini Resepnya

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/