alexametrics
22.4 C
Madura
Monday, August 15, 2022

15 Perceraian karena Murtad Setahun PA Terima 3.947 Perkara

SUMENEP – Angka perceraian di Kabupaten Sumenep masih tinggi. Penyebabnya bermacam-macam. Di antaranya, murtad dengan jumlah 15 kasus. Jumlah tersebut terhitung sejak Januari–Oktober 2019.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Sumenep M. Arifin menyampaikan, istilah murtad dalam Islam berarti keluar dari agama Islam. Istilah tersebut juga digunakan di PA. Yaitu, sebagai salah satu faktor penyebab perceraian.

Untuk perceraian karena pindah agama, pengadilan hanya memutus kasus perceraiannya. PA tidak mengintervensi keyakinan beragama.

Dalam sepuluh bulan terakhir, PA menerima 1.733 perkara. Sementara sisa sebelumnya berjumlah 2.214 perkara. Dengan demikian, total kasus yang ditangani selama 2019 sebanyak 3.947 perkara.

Cerai gugat lebih mendominasi, yakni 863 kasus. Sebanyak 749 perkara sudah diputus. Sementara cerai talak 583 kasus. Ada 512 perkara yang telah diputus.

Baca Juga :  Melawan, Tiga Tersangka Kasus Curanmor Didor

Arifin menambahkan, banyak penyebab terjadinya perceraian. Di antaranya, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), poligami, ekonomi, dan murtad.

Menurut dia, perlu kedewasaan dari pasangan suami istri untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Dengan demikian, jika ada masalah tidak langsung diseleaikan dengan perceraian.

Maryanti Agustina, warga Desa/Kecamatan Bluto, menyampaikan, dirinya datang ke PA untuk mengikuti sidang perceraian. Perempuan 29 tahun itu mengaku, keluarga kecilnya mengalami pertikaian terus-menerus.

Dia menegaskan, permasalahan dalam keluarga kecilnya tidak disebabkan faktor murtad atau pindah keyakinan dalam beragama. ”Tidaklah, masalah kami tidak sampai sedemikian, apalagi sampai membawa agama,” jelasnya. (c3)

 

SUMENEP – Angka perceraian di Kabupaten Sumenep masih tinggi. Penyebabnya bermacam-macam. Di antaranya, murtad dengan jumlah 15 kasus. Jumlah tersebut terhitung sejak Januari–Oktober 2019.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Sumenep M. Arifin menyampaikan, istilah murtad dalam Islam berarti keluar dari agama Islam. Istilah tersebut juga digunakan di PA. Yaitu, sebagai salah satu faktor penyebab perceraian.

Untuk perceraian karena pindah agama, pengadilan hanya memutus kasus perceraiannya. PA tidak mengintervensi keyakinan beragama.


Dalam sepuluh bulan terakhir, PA menerima 1.733 perkara. Sementara sisa sebelumnya berjumlah 2.214 perkara. Dengan demikian, total kasus yang ditangani selama 2019 sebanyak 3.947 perkara.

Cerai gugat lebih mendominasi, yakni 863 kasus. Sebanyak 749 perkara sudah diputus. Sementara cerai talak 583 kasus. Ada 512 perkara yang telah diputus.

Baca Juga :  Ungkap Kasus Narkoba Belum Sentuh Bandar

Arifin menambahkan, banyak penyebab terjadinya perceraian. Di antaranya, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), poligami, ekonomi, dan murtad.

Menurut dia, perlu kedewasaan dari pasangan suami istri untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Dengan demikian, jika ada masalah tidak langsung diseleaikan dengan perceraian.

- Advertisement -

Maryanti Agustina, warga Desa/Kecamatan Bluto, menyampaikan, dirinya datang ke PA untuk mengikuti sidang perceraian. Perempuan 29 tahun itu mengaku, keluarga kecilnya mengalami pertikaian terus-menerus.

Dia menegaskan, permasalahan dalam keluarga kecilnya tidak disebabkan faktor murtad atau pindah keyakinan dalam beragama. ”Tidaklah, masalah kami tidak sampai sedemikian, apalagi sampai membawa agama,” jelasnya. (c3)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/