alexametrics
21.3 C
Madura
Saturday, October 1, 2022

Khusus Puskesmas Sapeken dalam Sebulan

Klaim JKN Capai Rp 400 Juta

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Anggaran pemerintah untuk program kesehatan tidak sedikit. Salah satunya dikucurkan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Klaim peserta setiap bulan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Klaim peserta JKN di Puskesmas Sapeken, Sumenep, rata-rata tembus Rp 400 jutaan tiap bulan. Besaran klaim berdasarkan jumlah kunjungan peserta yang terlayani. Baik peserta JKN yang datang ke puskesmas maupun kunjungan pegawai puskesmas.

Bendahara Puskesmas Sapeken M. Salim menyampaikan, kegiatan yang bersumber dari dana kapitasi tertuang dalam rencana bisnis anggaran (RBA). Dana tersebut di antaranya dimanfaatkan untuk belanja operasional puskesmas.

Selain itu, digunakan untuk pembayaran pembiayaan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Misalnya untuk pelayanan masyarakat tidak mampu yang ditandai dengan surat pernyataan miskin (SPM). Termasuk juga biaya pelayanan rawat inap, bersalin yang tergolong BPJS Kesehatan atau KIS masuk di dalamnya.

”Sisanya digunakan untuk operasional. Nominalnya saya tidak hafal karena ada beberapa perinciannya,” ujarnya kemarin (22/9).

Salim menerangkan, anggaran untuk kegiatan operasional bermacam-macam. Biasanya digunakan untuk belanja alat tulis kantor (ATK), biaya pengiriman alat kesehatan dari darat hingga kepulauan dan sebaliknya. Honor tenaga operasional juga diambil dari dana kapitasi.

Baca Juga :  Kembali Kedatangan Turis Asing

Menurut Salim, tenaga operasional yang dibayar dari dana kapitasi hanya ada tiga. Yakni tenaga sekuriti, sopir ambulans, dan petugas kebersihan (cleaning service). Tiap tenaga mendapat honor Rp 1,5 juta per bulan.

”Kalau kontrak dokter, dari pemkab yang membiayai. Keuangan kami tidak mampu kalau dibebankan ke puskesmas,” terang pria kelahiran 30 Januari 1976 itu.

Kendati begitu, tenaga dokter mendapat biaya jasa pelayanan (jaspel) setiap menangani pasien. Jaspel yang diterima dokter tiap bulan tidak sama. Bergantung pada klaim peserta JKN yang mendapat pelayanan di puskesmas.

Salim mengungkapkan, jumlah tenaga dokter di Puskesmas Sapeken ada empat. Tiga dokter umum dan satu dokter gigi. Karena itu, klaim setiap peserta JKN nominalnya Rp 10 ribu. ”Di Sumenep sekitar delapan puskesmas yang mendapat klaim Rp 10 ribu per orang,” ungkap alumnus sarjana keperawatan Universitas Wiraraja itu.

Cakupan peserta JKN di Puskesmas Sapeken mencapai 35 ribu orang. Setiap bulan peserta yang memanfaatkan layanan JKN rata-rata sekitar empat ribuan. Dengan begitu, klaim peserta JKN tiap bulan bisa mencapai Rp 400 juta. Nominal tersebut berdasarkan kalkulasi dari jumlah kunjungan rata-rata dikalikan klaim peserta JKN.

Baca Juga :  Peringati HUT Ke-54, BPJS Kesehatan Gelar Senam dan Donor Darah

Salim mengutarakan, realisasi dana kapitasi hingga Agustus baru mencapai 65 persen. Menurutnya, realisasi serapan dana kapitasi bergantung kehadiran peserta ke puskesmas. Baik kunjungan ke rumah peserta atau ke puskesmas, termasuk posyandu. ”Rata-rata kunjungan tiap bulan baik sehat dan sakit sekitar empat ribuan,” jelasnya.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) edisi Kamis (22/9) mengungkap dugaan pemotongan terhadap dana kapitasi yang diterima puskesmas. Informasi yang dihimpun JPRM, anggaran setiap puskesmas yang disunat mencapai 20 persen. Namun, Salim mengelak jika di Puskesmas Sapekan ada pemotongan.

Dia mengklaim, pemotongan tidak mungkin dilakukan. Sebab, proses pencairan ditransfer langsung ke rekening tiap penerima. Dana yang diterima sesuai dengan hitungan aplikasi dari pemerintah pusat.

”Bagaimana mau memotong, itu kan langsung ditransfer ke rekening mereka. Kalau di Sapeken proses pencairan menggunakan BPRS,” paparnya. (bil/luq)

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Anggaran pemerintah untuk program kesehatan tidak sedikit. Salah satunya dikucurkan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Klaim peserta setiap bulan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Klaim peserta JKN di Puskesmas Sapeken, Sumenep, rata-rata tembus Rp 400 jutaan tiap bulan. Besaran klaim berdasarkan jumlah kunjungan peserta yang terlayani. Baik peserta JKN yang datang ke puskesmas maupun kunjungan pegawai puskesmas.

Bendahara Puskesmas Sapeken M. Salim menyampaikan, kegiatan yang bersumber dari dana kapitasi tertuang dalam rencana bisnis anggaran (RBA). Dana tersebut di antaranya dimanfaatkan untuk belanja operasional puskesmas.


Selain itu, digunakan untuk pembayaran pembiayaan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Misalnya untuk pelayanan masyarakat tidak mampu yang ditandai dengan surat pernyataan miskin (SPM). Termasuk juga biaya pelayanan rawat inap, bersalin yang tergolong BPJS Kesehatan atau KIS masuk di dalamnya.

”Sisanya digunakan untuk operasional. Nominalnya saya tidak hafal karena ada beberapa perinciannya,” ujarnya kemarin (22/9).

Salim menerangkan, anggaran untuk kegiatan operasional bermacam-macam. Biasanya digunakan untuk belanja alat tulis kantor (ATK), biaya pengiriman alat kesehatan dari darat hingga kepulauan dan sebaliknya. Honor tenaga operasional juga diambil dari dana kapitasi.

Baca Juga :  Kembali Kedatangan Turis Asing

Menurut Salim, tenaga operasional yang dibayar dari dana kapitasi hanya ada tiga. Yakni tenaga sekuriti, sopir ambulans, dan petugas kebersihan (cleaning service). Tiap tenaga mendapat honor Rp 1,5 juta per bulan.

- Advertisement -

”Kalau kontrak dokter, dari pemkab yang membiayai. Keuangan kami tidak mampu kalau dibebankan ke puskesmas,” terang pria kelahiran 30 Januari 1976 itu.

Kendati begitu, tenaga dokter mendapat biaya jasa pelayanan (jaspel) setiap menangani pasien. Jaspel yang diterima dokter tiap bulan tidak sama. Bergantung pada klaim peserta JKN yang mendapat pelayanan di puskesmas.

Salim mengungkapkan, jumlah tenaga dokter di Puskesmas Sapeken ada empat. Tiga dokter umum dan satu dokter gigi. Karena itu, klaim setiap peserta JKN nominalnya Rp 10 ribu. ”Di Sumenep sekitar delapan puskesmas yang mendapat klaim Rp 10 ribu per orang,” ungkap alumnus sarjana keperawatan Universitas Wiraraja itu.

Cakupan peserta JKN di Puskesmas Sapeken mencapai 35 ribu orang. Setiap bulan peserta yang memanfaatkan layanan JKN rata-rata sekitar empat ribuan. Dengan begitu, klaim peserta JKN tiap bulan bisa mencapai Rp 400 juta. Nominal tersebut berdasarkan kalkulasi dari jumlah kunjungan rata-rata dikalikan klaim peserta JKN.

Baca Juga :  Persalinan Nyaman di Bidan Jejaring, Riska: Terima kasih BPJS Kesehatan

Salim mengutarakan, realisasi dana kapitasi hingga Agustus baru mencapai 65 persen. Menurutnya, realisasi serapan dana kapitasi bergantung kehadiran peserta ke puskesmas. Baik kunjungan ke rumah peserta atau ke puskesmas, termasuk posyandu. ”Rata-rata kunjungan tiap bulan baik sehat dan sakit sekitar empat ribuan,” jelasnya.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) edisi Kamis (22/9) mengungkap dugaan pemotongan terhadap dana kapitasi yang diterima puskesmas. Informasi yang dihimpun JPRM, anggaran setiap puskesmas yang disunat mencapai 20 persen. Namun, Salim mengelak jika di Puskesmas Sapekan ada pemotongan.

Dia mengklaim, pemotongan tidak mungkin dilakukan. Sebab, proses pencairan ditransfer langsung ke rekening tiap penerima. Dana yang diterima sesuai dengan hitungan aplikasi dari pemerintah pusat.

”Bagaimana mau memotong, itu kan langsung ditransfer ke rekening mereka. Kalau di Sapeken proses pencairan menggunakan BPRS,” paparnya. (bil/luq)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/