alexametrics
25.1 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Perusahaan Siap Pulangkan Delapan Pekerja

SUMENEP – Nasib delapan pekerja asal Sumenep yang telantar di Kalimantan Timur menemui titik terang. PT Bahteri Pesat Lintasbanua (BPL) siap menampung dan membiayai pemulangan mereka.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja Sumenep M. Syahrial kemarin (22/5). Dia mengatakan, para pekerja keluar tanpa pamit ke perusahaan. ”Mereka mungkin berselisih dengan perusahaan,” ucapnya.

Kedua pihak akan dipertemukan. Keputusannya mau berhenti atau tidak, tergantung musyawarah. ”Perusahaan siap menampung dan juga siap membiayai kepulangan jika ingin berhenti,” ucapnya.

Mantan kepala DLH itu mengungkapkan, Disnaker Kutai Kartanegara juga bersedia membantu. Perselisihan antara pekerja dan perusahaan akan diselesaikan dalam pertemuan bersama. ”Akan bertemu kapan karena ini terkendala hari libur,” terangnya.

Delapan warga itu berasal dari empat kecamatan. Perinciannya, Hosni Tamrin dan Mohammad Riskiyanto (putri Hosni Tamrin) berasal dari Kecamatan Kota Sumenep;, Surahmat dari Arjasa; Lisnun dan Sumahra dari Kangayan; serta Moh. Bakri, Matlawan, dan Baihaqi dari Sapeken.

Baca Juga :  Honorer K-2 Tuntut Cabut Permen PAN-RB

Saat ini Hosni Tamrin, Sumahra, Lisun, dan Surahmad ditampung UPTD Dinas Sosial Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sementara Mohammad Riskiyanto ikut orang Pasuruan. Sedangkan tiga orang lainnya tidak jelas.

Kepala UPTD Dinas Sosial Kutai Kartanegara Sukandar mengatakan, sesuai SOP, mereka ditampung dua pekan. Pihaknya membantu koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Kutai Kartanegara. ”Saat ini momen Lebaran dan musim korona. Nanti mau dimediasi dari kedua belah pihak, menunggu Lebaran selesai,” terangnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kutai Kartanegara Hamly akan memfasilitasi warga Sumenep yang mengalami permasalahan dengan tempat kerjanya. Lembaganya akan menyampaikan informasi ke perusahaan terkait tanggung jawab untuk memulangkan kembali.

”Seharusnya sejak awal perekrutan sudah dibikin perjanjian kerja supaya tahu hak dan kewajiban. Kami belum mengetahui batasan-batasan kedua belah pihak,” terangnya.

Informasi yang dia terima dari perusahaan, mereka meninggalkan tempat lokasi kerja dan mendapat kerja di tempat lain. Namun, informasi ini masih simpang siur. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Kadisnaker Sumenep. ”Kami siap kapan saja untuk mempertemukan kedua belah pihak,” terangnya.

Baca Juga :  48 PMI dari Swiss Tiba, Diimbau Isolasi Mandiri 14 Hari

Hosni Tamrin mengaku tertampung sejak 20 Mei lalu. Sebelumnya terkatung-katung di jalan. Beruntnung mendapat bantuan seorang kepala desa di Kecamatan Tenggarong untuk diantarkan ke disnaker. ”Kami dikasih uang Rp 300 ribu untuk makan dan diantar kepala desa ke disnaker,” ucapnya.

Perjanjian awal, mereka akan digaji Rp 5 juta per bulan. Selain itu pada 15 hari pertama ada pijaman uang Rp 5 juta, dapat sembako dua kali sepekan, tempat tidur, dan gaji borongan bertambah. Namun, dalam realisasinya tidak sesuai dengan perjanjian. Mereka tidak digaji, pinjaman uang tidak ada, sembako sekali sepekan, tidur beralas terpal, dan tidak dapat bayaran borongan. (mi)

SUMENEP – Nasib delapan pekerja asal Sumenep yang telantar di Kalimantan Timur menemui titik terang. PT Bahteri Pesat Lintasbanua (BPL) siap menampung dan membiayai pemulangan mereka.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja Sumenep M. Syahrial kemarin (22/5). Dia mengatakan, para pekerja keluar tanpa pamit ke perusahaan. ”Mereka mungkin berselisih dengan perusahaan,” ucapnya.

Kedua pihak akan dipertemukan. Keputusannya mau berhenti atau tidak, tergantung musyawarah. ”Perusahaan siap menampung dan juga siap membiayai kepulangan jika ingin berhenti,” ucapnya.


Mantan kepala DLH itu mengungkapkan, Disnaker Kutai Kartanegara juga bersedia membantu. Perselisihan antara pekerja dan perusahaan akan diselesaikan dalam pertemuan bersama. ”Akan bertemu kapan karena ini terkendala hari libur,” terangnya.

Delapan warga itu berasal dari empat kecamatan. Perinciannya, Hosni Tamrin dan Mohammad Riskiyanto (putri Hosni Tamrin) berasal dari Kecamatan Kota Sumenep;, Surahmat dari Arjasa; Lisnun dan Sumahra dari Kangayan; serta Moh. Bakri, Matlawan, dan Baihaqi dari Sapeken.

Baca Juga :  Dugaan Korupsi APBDes Se-Kecamatan Arjasa

Saat ini Hosni Tamrin, Sumahra, Lisun, dan Surahmad ditampung UPTD Dinas Sosial Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sementara Mohammad Riskiyanto ikut orang Pasuruan. Sedangkan tiga orang lainnya tidak jelas.

Kepala UPTD Dinas Sosial Kutai Kartanegara Sukandar mengatakan, sesuai SOP, mereka ditampung dua pekan. Pihaknya membantu koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Kutai Kartanegara. ”Saat ini momen Lebaran dan musim korona. Nanti mau dimediasi dari kedua belah pihak, menunggu Lebaran selesai,” terangnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kutai Kartanegara Hamly akan memfasilitasi warga Sumenep yang mengalami permasalahan dengan tempat kerjanya. Lembaganya akan menyampaikan informasi ke perusahaan terkait tanggung jawab untuk memulangkan kembali.

”Seharusnya sejak awal perekrutan sudah dibikin perjanjian kerja supaya tahu hak dan kewajiban. Kami belum mengetahui batasan-batasan kedua belah pihak,” terangnya.

Informasi yang dia terima dari perusahaan, mereka meninggalkan tempat lokasi kerja dan mendapat kerja di tempat lain. Namun, informasi ini masih simpang siur. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Kadisnaker Sumenep. ”Kami siap kapan saja untuk mempertemukan kedua belah pihak,” terangnya.

Baca Juga :  Nasib 5.178 Sukwan Terkatung-katung

Hosni Tamrin mengaku tertampung sejak 20 Mei lalu. Sebelumnya terkatung-katung di jalan. Beruntnung mendapat bantuan seorang kepala desa di Kecamatan Tenggarong untuk diantarkan ke disnaker. ”Kami dikasih uang Rp 300 ribu untuk makan dan diantar kepala desa ke disnaker,” ucapnya.

Perjanjian awal, mereka akan digaji Rp 5 juta per bulan. Selain itu pada 15 hari pertama ada pijaman uang Rp 5 juta, dapat sembako dua kali sepekan, tempat tidur, dan gaji borongan bertambah. Namun, dalam realisasinya tidak sesuai dengan perjanjian. Mereka tidak digaji, pinjaman uang tidak ada, sembako sekali sepekan, tidur beralas terpal, dan tidak dapat bayaran borongan. (mi)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/