alexametrics
24.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Mengenang Koreografer Tari Muwang Sangkal RP Taufikurrahman

SUMENEP – Tari muwang sangkal sangat terkenal. Setiap ada tamu penting pasti disambut tarian ini. Kini, penciptanya telah berpulang. Kabar duka itu begitu cepat menyebar di kalangan seniman Selasa (20/11) pagi. Dalam pesan berantai dan media sosial dikabarkan bahwa pencipta tari muwang sangkal berpulang. Dia adalah Taufikurrahman yang selama hidupnya didedikasikan untuk kebudayaan.

Dari tangan Taufik lahir beberapa karya tari. Di antaranya muwang sangkal, topeng kekke’, codhi’ sumekkar, sape sono’, panyongsong, dan langenna ate. Selama hidupnya dia juga berbagi ilmu melalui Sanggar Tari Bume Jokotole binaannya.

RadarMadura.id banyak mendapat informasi tentang pria yang lahir pada 10 Oktober 1940 itu dari keponakannya, Abd. Kadir alias Sadey Gozal. Sadey, begitu musisi ini biasa dipanggil, menuturkan, Taufikurrahman menurunkan ilmu tari-tariannya kepada murid dan keponakannya. ”Alhamdulillah, keponakannya sampai sekarang sudah bisa melanjutkan tariannya dan sudah mengajar,” tuturnya.

Inna Syakuru Islami Haji adalah keponakan Sadey yang mengikuti jejak Taufik. Selain belajar kepada Taufik, dia melanjutkan kuliah ke Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Ambil jurusan seni drama, tari, dan musik (sendratasik). ”Dan sekarang sudah mengajar di SMPN 1 Sumenep,” kata Sadey.

Yang menarik, mata kuliah yang dipelajari Inna di kampus adalah tari karya saudara kandung neneknya, Taufikurrahman. Dari beberapa karyanya itu pula Taufik pernah melanglang ke beberapa negara untuk misi kebudayaan.

Sedikitnya ada tujuh negara sudah disinggahi. Di antaranya Prancis yang saat itu bersama tim Topeng Dalang Samiden. Waktu itu angkatannya masih ada, Baisuni dan Edhi Setiawan. ”Itu generasi atau angkatannya Mbah Piek sekitar tahun 70-an” katanya.

Mbah Piek ke Prancis dan Belgia pada 1982. Ke Jepang pada 1992 membawa topeng dalang. ”Yang jelas, tujuh negara Mbah Piek sudah singgahi. Mengusung kesenian termasuk tari muwang sangkal karya beliau itu” katanya.

Baca Juga :  Plus Minus Jalur Laut dan Udara Menuju Kepulauan di Sumenep

Namun, sejak sekitar tiga tahun lalu dia sakit. Namun, penyakit yang dideritanya tidak membuatnya putus asa. Sadey menyebutkan bahwa sepekan sebelum meninggal, Mbah Piek masih berkunjung ke rumahnya.

Setiap hari dan kalau mau keluar pasti ditemani saudaranya, Enni. Dalam mendidik murid dan keponakannya dia dikenal keras. Kata yang sering didengar adalah profesional, kerja keras, dan kesungguhan dalam menggarap seni dan budaya. ”Semua sudah tahu bagaimana hasil didikannya meski beliau keras,” jelas gitaris Saltis itu sambil tertawa.

Taufik memiliki delapan saudara. Sembilan bersaudara itu putra putri pasangan RA Romlah (alm.) dan RP Gamaruddin Atmowidjoyo (alm). Kini yang masih hidup RP Abdurrahman, RA Emmi Sudartini, RP Ahmad Yani, dan RA Irrawati. Sedangkan yang meninggal adalah RP Moh. Romli, Moh. Rusdi, RA Siti Rukmini, dan RA Kurmawati Utari.

”Keluarga yang ditinggalkan hanya saudaranya, karena semasa hidupnya belum kawin atau menikah,” ucapnya.

Menurut Sadey, Taufik paham bahwa di Sumenep ada keraton. Sehingga tari muwang sangkal yang tumbuh dan berkembang dari keraton dikemas dalam bentuk tari. ”Mudah-mudahan yang bekerja sama dan sudah mengenal beliau bisa memaafkan” pintanya.

Inna Syakuru Islami Haji, cucu almarhum RA Rukmini (saudara Taufik) membenarkan bahwa tarian muwang sangkal diajarkan di kampus. ”Sudah dijadikan mata kuliah di Unesa. Kebetulan saya masuk tanpa dites karena dosen tahu kalau saya cucunya beliau,” kata perempuan yang kemarin memakai kerudung hitam itu.

Baca Juga :  BPRS Bhakti Sumekar Apresiasi Buku Komala

Menurut dia, tarian muwang sangkal dijadikan mata kuliah karena nilai estetikanya. Busana dan gerakannya memang sederhana. Tapi yang istimewa itu ada kesakralannya. Selain di Unesa Surabaya, muwang sangkal juga diajarkan di ISI Jogjakarta dan ISI Surakarta.

Tari muwang sangkal itu sebenarnya sebagai penyambutan tamu. Namun, beras kuningnya itu bertujuan menghilangkan tolak bala. Sebelum menciptakan tarian itu, Taufik puasa putih. ”Orang Madura mengatakan powasa mote, hanya makan nasi sama melati dan air,” katanya.

Syarat penari muwang sangkal harus perawan dan tidak sedang datang bulan. Pernah ada kejadian kalau datang bulan itu terjadi rintangan. Jumlah penarinya harus ganjil. ”Kalau beliau yang menciptakan sebenarnya sembilan penari, karena di tubuh wanita ada sembilan lubang,” katanya.

Busananya khas Keraton Sumenep. Namanya lega. Lega ada dua, parianom dan cocco’ kapodhang. ”Yang paling agung memang cocok merah,” katanya. Sementara yang kuning itu parianom, seperti padi. ”Bahkan sanggar di Surabaya, riasan kepala tari muwang sangkal itu dijadikan favorit karena anggun,” katanya.

Sementara itu, budayawan Syaf Anton Wr mengenal koreografer Taufikurrahman sebagai seorang seniman gaek yang populer dan karyanya sering dimainkan banyak kalangan. Tari muwang sangkal telah didaftarkan dan dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta pada 2002.

Selain muwang sangkal, Taufik mencipta 10 tarian lainnya. Antara lain, codhi’ sumekkar, langenna ate, nyandhang taresna, sape sono’, topa’ panglobar, pecut, moksa, pelteng, nelayan, dan ya robbi ya robbi.

”Patutlah kita berbangga mempunyai koreografer sedahsyat Taufik dengan membuktikan hasil karya kreatifnya yang terus melegenda dan menjadi ikon tari di Sumenep,” tutup Anton.

- Advertisement -

SUMENEP – Tari muwang sangkal sangat terkenal. Setiap ada tamu penting pasti disambut tarian ini. Kini, penciptanya telah berpulang. Kabar duka itu begitu cepat menyebar di kalangan seniman Selasa (20/11) pagi. Dalam pesan berantai dan media sosial dikabarkan bahwa pencipta tari muwang sangkal berpulang. Dia adalah Taufikurrahman yang selama hidupnya didedikasikan untuk kebudayaan.

Dari tangan Taufik lahir beberapa karya tari. Di antaranya muwang sangkal, topeng kekke’, codhi’ sumekkar, sape sono’, panyongsong, dan langenna ate. Selama hidupnya dia juga berbagi ilmu melalui Sanggar Tari Bume Jokotole binaannya.

RadarMadura.id banyak mendapat informasi tentang pria yang lahir pada 10 Oktober 1940 itu dari keponakannya, Abd. Kadir alias Sadey Gozal. Sadey, begitu musisi ini biasa dipanggil, menuturkan, Taufikurrahman menurunkan ilmu tari-tariannya kepada murid dan keponakannya. ”Alhamdulillah, keponakannya sampai sekarang sudah bisa melanjutkan tariannya dan sudah mengajar,” tuturnya.


Inna Syakuru Islami Haji adalah keponakan Sadey yang mengikuti jejak Taufik. Selain belajar kepada Taufik, dia melanjutkan kuliah ke Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Ambil jurusan seni drama, tari, dan musik (sendratasik). ”Dan sekarang sudah mengajar di SMPN 1 Sumenep,” kata Sadey.

Yang menarik, mata kuliah yang dipelajari Inna di kampus adalah tari karya saudara kandung neneknya, Taufikurrahman. Dari beberapa karyanya itu pula Taufik pernah melanglang ke beberapa negara untuk misi kebudayaan.

Sedikitnya ada tujuh negara sudah disinggahi. Di antaranya Prancis yang saat itu bersama tim Topeng Dalang Samiden. Waktu itu angkatannya masih ada, Baisuni dan Edhi Setiawan. ”Itu generasi atau angkatannya Mbah Piek sekitar tahun 70-an” katanya.

Mbah Piek ke Prancis dan Belgia pada 1982. Ke Jepang pada 1992 membawa topeng dalang. ”Yang jelas, tujuh negara Mbah Piek sudah singgahi. Mengusung kesenian termasuk tari muwang sangkal karya beliau itu” katanya.

Baca Juga :  Rombongan Bupati Diturunkan di Tengah Laut

Namun, sejak sekitar tiga tahun lalu dia sakit. Namun, penyakit yang dideritanya tidak membuatnya putus asa. Sadey menyebutkan bahwa sepekan sebelum meninggal, Mbah Piek masih berkunjung ke rumahnya.

Setiap hari dan kalau mau keluar pasti ditemani saudaranya, Enni. Dalam mendidik murid dan keponakannya dia dikenal keras. Kata yang sering didengar adalah profesional, kerja keras, dan kesungguhan dalam menggarap seni dan budaya. ”Semua sudah tahu bagaimana hasil didikannya meski beliau keras,” jelas gitaris Saltis itu sambil tertawa.

Taufik memiliki delapan saudara. Sembilan bersaudara itu putra putri pasangan RA Romlah (alm.) dan RP Gamaruddin Atmowidjoyo (alm). Kini yang masih hidup RP Abdurrahman, RA Emmi Sudartini, RP Ahmad Yani, dan RA Irrawati. Sedangkan yang meninggal adalah RP Moh. Romli, Moh. Rusdi, RA Siti Rukmini, dan RA Kurmawati Utari.

”Keluarga yang ditinggalkan hanya saudaranya, karena semasa hidupnya belum kawin atau menikah,” ucapnya.

Menurut Sadey, Taufik paham bahwa di Sumenep ada keraton. Sehingga tari muwang sangkal yang tumbuh dan berkembang dari keraton dikemas dalam bentuk tari. ”Mudah-mudahan yang bekerja sama dan sudah mengenal beliau bisa memaafkan” pintanya.

Inna Syakuru Islami Haji, cucu almarhum RA Rukmini (saudara Taufik) membenarkan bahwa tarian muwang sangkal diajarkan di kampus. ”Sudah dijadikan mata kuliah di Unesa. Kebetulan saya masuk tanpa dites karena dosen tahu kalau saya cucunya beliau,” kata perempuan yang kemarin memakai kerudung hitam itu.

Baca Juga :  Dari Ladang Jagung: Mencari Praktik Seni Penyadaran

Menurut dia, tarian muwang sangkal dijadikan mata kuliah karena nilai estetikanya. Busana dan gerakannya memang sederhana. Tapi yang istimewa itu ada kesakralannya. Selain di Unesa Surabaya, muwang sangkal juga diajarkan di ISI Jogjakarta dan ISI Surakarta.

Tari muwang sangkal itu sebenarnya sebagai penyambutan tamu. Namun, beras kuningnya itu bertujuan menghilangkan tolak bala. Sebelum menciptakan tarian itu, Taufik puasa putih. ”Orang Madura mengatakan powasa mote, hanya makan nasi sama melati dan air,” katanya.

Syarat penari muwang sangkal harus perawan dan tidak sedang datang bulan. Pernah ada kejadian kalau datang bulan itu terjadi rintangan. Jumlah penarinya harus ganjil. ”Kalau beliau yang menciptakan sebenarnya sembilan penari, karena di tubuh wanita ada sembilan lubang,” katanya.

Busananya khas Keraton Sumenep. Namanya lega. Lega ada dua, parianom dan cocco’ kapodhang. ”Yang paling agung memang cocok merah,” katanya. Sementara yang kuning itu parianom, seperti padi. ”Bahkan sanggar di Surabaya, riasan kepala tari muwang sangkal itu dijadikan favorit karena anggun,” katanya.

Sementara itu, budayawan Syaf Anton Wr mengenal koreografer Taufikurrahman sebagai seorang seniman gaek yang populer dan karyanya sering dimainkan banyak kalangan. Tari muwang sangkal telah didaftarkan dan dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta pada 2002.

Selain muwang sangkal, Taufik mencipta 10 tarian lainnya. Antara lain, codhi’ sumekkar, langenna ate, nyandhang taresna, sape sono’, topa’ panglobar, pecut, moksa, pelteng, nelayan, dan ya robbi ya robbi.

”Patutlah kita berbangga mempunyai koreografer sedahsyat Taufik dengan membuktikan hasil karya kreatifnya yang terus melegenda dan menjadi ikon tari di Sumenep,” tutup Anton.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/