alexametrics
22.8 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Mendung Halangi Gerhana Matahari

SUMENEP – Gai’ Bintang Klub Astronomi sudah menyiapkan peralatan untuk menyaksikan gerhana matahari cincin (GMC) sejak pukul 14.30 kemarin (21/6). Namun, upaya melihat fenomena alam itu kandas. Sebab, awan hitam menutupi pandangan.

Mendung di bagian barat Kota Keris belum berpindah hingga pukul 15.30. Padahal pada jam tersebut diperkirakan merupakan puncak gerhana. Puncak terjadinya fenomena alam ketika posisi matahari, bulan, dan bumi sejajar.

Ketua Gai’ Bintang Klub Astronomi Januar Herwanto menyampaikan, menyaksikan fenomena alam memang tidak selalu beruntung. Ada kalanya alam tidak bersahabat dan terkadang tidak sesuai prediksi. Menurutnya, langit Kota Sumenep cerah pada pagi hari. Namun menjelang siang, awan hitam mulai menyelimuti.

Baca Juga :  Stttt...Bank Jatim Akhirnya Melunak soal Pencairan Dana tanpa KTP

Gerhana matahari terhalang awan juga pernah terjadi pada 26 Desember 2019. Bahkan, pada detik-detik terjadinya gerhana, wilayah Kota Sumenep saat itu diguyur hujan deras. ”Kami tetap konsisten melaksanakan kegiatan ketika ada fenomena benda-benda langit, baik gerhana matahari maupun bulan,” ungkapnya.

Dia berharap, kegiatan pembelajaran luar sekolah itu bisa diterapkan di dunia pendidikan. Dengan begitu, peserta didik tidak hanya terpaku pada teori. Langkah itu bisa memupuk jiwa riset para generasi bangsa sejak dini. ”Learning by doing itu penting,” ucap Januar.

Kekecewaan karena tidak bisa menyaksikan GMC dirasakan Noer Hasanah. Gadis 15 tahun asal Kelurahan Pejagan, Kecamatan Kota Sumenep itu sebenarnya berharap bisa melihat langsung fenomena alam tersebut. Sebab, selama ini dia mengetahui GMC berdasarkan gambar-gambar yang tersebar di dunia maya.

Baca Juga :  Minta Perahu dan Empat Nelayan Dibebaskan

”Lain waktu mungkin kondisi alamnya bisa lebih mendukung. Sudah dari dua hari lalu saya menantikan momen ini setelah dapat informasi di media sosial,” katanya.

- Advertisement -

SUMENEP – Gai’ Bintang Klub Astronomi sudah menyiapkan peralatan untuk menyaksikan gerhana matahari cincin (GMC) sejak pukul 14.30 kemarin (21/6). Namun, upaya melihat fenomena alam itu kandas. Sebab, awan hitam menutupi pandangan.

Mendung di bagian barat Kota Keris belum berpindah hingga pukul 15.30. Padahal pada jam tersebut diperkirakan merupakan puncak gerhana. Puncak terjadinya fenomena alam ketika posisi matahari, bulan, dan bumi sejajar.

Ketua Gai’ Bintang Klub Astronomi Januar Herwanto menyampaikan, menyaksikan fenomena alam memang tidak selalu beruntung. Ada kalanya alam tidak bersahabat dan terkadang tidak sesuai prediksi. Menurutnya, langit Kota Sumenep cerah pada pagi hari. Namun menjelang siang, awan hitam mulai menyelimuti.

Baca Juga :  Santri Meninggal Terlindas Ambulans

Gerhana matahari terhalang awan juga pernah terjadi pada 26 Desember 2019. Bahkan, pada detik-detik terjadinya gerhana, wilayah Kota Sumenep saat itu diguyur hujan deras. ”Kami tetap konsisten melaksanakan kegiatan ketika ada fenomena benda-benda langit, baik gerhana matahari maupun bulan,” ungkapnya.

Dia berharap, kegiatan pembelajaran luar sekolah itu bisa diterapkan di dunia pendidikan. Dengan begitu, peserta didik tidak hanya terpaku pada teori. Langkah itu bisa memupuk jiwa riset para generasi bangsa sejak dini. ”Learning by doing itu penting,” ucap Januar.

Kekecewaan karena tidak bisa menyaksikan GMC dirasakan Noer Hasanah. Gadis 15 tahun asal Kelurahan Pejagan, Kecamatan Kota Sumenep itu sebenarnya berharap bisa melihat langsung fenomena alam tersebut. Sebab, selama ini dia mengetahui GMC berdasarkan gambar-gambar yang tersebar di dunia maya.

Baca Juga :  Ibu Dirujuk ke Puskesmas, Anak Meninggal

”Lain waktu mungkin kondisi alamnya bisa lebih mendukung. Sudah dari dua hari lalu saya menantikan momen ini setelah dapat informasi di media sosial,” katanya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/