alexametrics
20.9 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Pelaksana Proyek Gardu Induk Dikeluhkan

SUMENEP – Pelaksana pembangunan proyek gardu induk 150 kv di Desa Bataal Barat, Kecamatan Ganding, dikeluhkan. Sebab, pembayaran bahan material tidak sesuai perjanjian. Bahkan supplier mengaku penundaan pembayaran lebih sebulan dari kesepakatan.

Hamdan, salah seorang supplier material, mengatakan bahwa dirinya dirugikan atas molornya pembayaran. Sebab, uang yang semestinya bisa digunakan menjalankan bisnis jadi macet. Padahal, proyek tersebut dianggarkan melalui APBN dan nilainya miliaran rupiah.

Pria asal Kecamatan Guluk-Guluk itu menuturkan, ada beberapa jenis material yang saat ini belum terbayar. Di antaranya, semen 450 sak. Harga per sak Rp 42 ribu. Total harga Rp 18.900.000.

Kemudian, material batu 4 drump truck. Tiap satu dump truck seharga Rp 1.100.000 atau total Rp 4,4 juta. ”Saya dijanjikan mulai awal Januari pembayarannya. Tapi, sampai sekarang belum dibayar,” kata Hamdan sekitar pukul 11.30 kemarin (21/2).

Baca Juga :  Kunjungan Wisman Tak Capai Target

Yang membuatnya heran, saat ini pihak kontraktor tidak lagi mengambil material kepada dirinya. Tapi sejak pembayaran menunggak, pihak kontraktor tidak lagi meminta kiriman material kepadanya.

”Saya gak dipakai lagi. Punya saya tidak dibayar dan langsung ambil ke pihak lain,” tegas pria berkumis tersebut.

Keterlambatan pembayaran bahan material itu berdampak sistemik. Sebab, Hamdan juga mendatangkan dari Faisal, supplier asal Kecamatan Pragaan. Tak pelak, Faisal pun ikut mengeluh dengan proyek tersebut.

”Saya gak enak sama pihak toko (penyedia material, Red). Sebab, janjinya sudah lebih dari satu bulan, tapi tak kunjung dibayar,” katanya.

Dikonfirmasi, supervisi PT Bangun Prima Semesta Efendi mengaku tidak punya hubungan kerja dengan Hamdan ataupun Faisal. Sebab, dirinya hanya menjalin kerja sama dengan Sekdes Bataal Barat H Adnan. Adnan ditugaskan mendatangkan material oleh perusahaannya.

Baca Juga :  Rekanan Proyek Lanskap Terancam Kena┬áDenda

”Pengaturan pembayaran di Pak Sekdes. Kita hubungannya dengan Pak Sekdes,” tegasnya.

Terkait tidak lagi dipakainya jasa Hamdan, menurut dia, itu hal wajar. Pihak kontraktor bisa saja membeli dari supplier lain yang harganya lebih murah. Hal tersebut berlaku dalam setiap pekerjaan proyek pembangunan. ”Kalau ada yang lebih murah, tentu kita beralih ke yang lebih murah,” tuturnya.

Sementara itu, Adnan mengaku sudah menerima uang dari subkontraktor. Pihaknya tinggal mencairkan kepada para supplier. Dia berjanji paling lambat Jumat (23/2) uang sudah diterima.

”Uang sudah turun tadi malam (Selasa malam, Red). Akan segera dibayarkan,” katanya saat dikonfirmasi di lokasi proyek.

SUMENEP – Pelaksana pembangunan proyek gardu induk 150 kv di Desa Bataal Barat, Kecamatan Ganding, dikeluhkan. Sebab, pembayaran bahan material tidak sesuai perjanjian. Bahkan supplier mengaku penundaan pembayaran lebih sebulan dari kesepakatan.

Hamdan, salah seorang supplier material, mengatakan bahwa dirinya dirugikan atas molornya pembayaran. Sebab, uang yang semestinya bisa digunakan menjalankan bisnis jadi macet. Padahal, proyek tersebut dianggarkan melalui APBN dan nilainya miliaran rupiah.

Pria asal Kecamatan Guluk-Guluk itu menuturkan, ada beberapa jenis material yang saat ini belum terbayar. Di antaranya, semen 450 sak. Harga per sak Rp 42 ribu. Total harga Rp 18.900.000.


Kemudian, material batu 4 drump truck. Tiap satu dump truck seharga Rp 1.100.000 atau total Rp 4,4 juta. ”Saya dijanjikan mulai awal Januari pembayarannya. Tapi, sampai sekarang belum dibayar,” kata Hamdan sekitar pukul 11.30 kemarin (21/2).

Baca Juga :  Blangko Kosong, Dispenduk Keluarkan Suket

Yang membuatnya heran, saat ini pihak kontraktor tidak lagi mengambil material kepada dirinya. Tapi sejak pembayaran menunggak, pihak kontraktor tidak lagi meminta kiriman material kepadanya.

”Saya gak dipakai lagi. Punya saya tidak dibayar dan langsung ambil ke pihak lain,” tegas pria berkumis tersebut.

Keterlambatan pembayaran bahan material itu berdampak sistemik. Sebab, Hamdan juga mendatangkan dari Faisal, supplier asal Kecamatan Pragaan. Tak pelak, Faisal pun ikut mengeluh dengan proyek tersebut.

”Saya gak enak sama pihak toko (penyedia material, Red). Sebab, janjinya sudah lebih dari satu bulan, tapi tak kunjung dibayar,” katanya.

Dikonfirmasi, supervisi PT Bangun Prima Semesta Efendi mengaku tidak punya hubungan kerja dengan Hamdan ataupun Faisal. Sebab, dirinya hanya menjalin kerja sama dengan Sekdes Bataal Barat H Adnan. Adnan ditugaskan mendatangkan material oleh perusahaannya.

Baca Juga :  Rekanan Proyek Lanskap Terancam Kena┬áDenda

”Pengaturan pembayaran di Pak Sekdes. Kita hubungannya dengan Pak Sekdes,” tegasnya.

Terkait tidak lagi dipakainya jasa Hamdan, menurut dia, itu hal wajar. Pihak kontraktor bisa saja membeli dari supplier lain yang harganya lebih murah. Hal tersebut berlaku dalam setiap pekerjaan proyek pembangunan. ”Kalau ada yang lebih murah, tentu kita beralih ke yang lebih murah,” tuturnya.

Sementara itu, Adnan mengaku sudah menerima uang dari subkontraktor. Pihaknya tinggal mencairkan kepada para supplier. Dia berjanji paling lambat Jumat (23/2) uang sudah diterima.

”Uang sudah turun tadi malam (Selasa malam, Red). Akan segera dibayarkan,” katanya saat dikonfirmasi di lokasi proyek.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Sip, Izin Operasional RSU Waru Keluar

Bantuan Bibit Jagung Tidak Merata

Delapan SDN Bakal Ditutup

Artikel Terbaru

/