alexametrics
22.3 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Habiskan Anggaran Miliaran, Pasar Ternak Terpadu Tak Diminati

SUMENEP – Pasar ternak terpadu di Desa Pakandangan Sangra, Kecamatan Bluto, kurang dimintai. Pedagang sapi enggan mendatangi pasar yang menghabiskan anggaran lebih dari Rp 2,3 miliar tersebut. Pemicunya, diduga, lokasi pasar dianggap tidak menguntungkan para petani.

            ”Pasar sapi di sana tidak diminati oleh pedagang. Tempatnya sangat jauh dari pasar sebelumnya. Dengan demikian, pengunjung yang datang sedikit. Pedagang otomatis malas yang mau datang ke pasar tersebut,” ucap Asmuni, 47, salah seorang pedagang sapi yang ditemui di pasar , Rabu (20/9).

            Asmuni menerangkan, selama ini hanya ada beberapa pedagang sapi yang bertahan di pasar tersebut. Sebagian besar pedagang memilih datang ke pasar lain. Misalnya, pasar sapi di Kecamatan Lenteng. Sebab, meski lokasinya jauh, pasar tersebut lebih ramai dan menguntungkan para pedagang

Baca Juga :  Musim Kemarau, Harga Cabai di Sumenep Bisa Capai Rp 19 Ribu Sekilo

            Menurut dia, wajar bila warga banyak memilih datang ke pasar lain. Sebab, jika terus bertahan di pasar tersebut, para pedagang akan rugi. Jumlah pengunjung, jelas Asmuni, menjadi pertimbangan utama bagi para pedagang. Terlebih, biaya transportasi yang harus dikeluarkan relatif mahal.

            Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumenep Edy Sutrisno belum bisa memberikan keterangan. Didatangi ke kantornya tidak berhasil. Bahkan saat dihubungi, nomor ponselnya tidak tersambung.

Sejak awal pembangunan, pasar tersebut sudah diterpa beberapa masalah. Selain status tanah, pengoprasian pasar tersebut selalu meleset. Meski direncanakan pada 2015, pengoperasian pasar tersebut baru terealisasi 2016. Pasar itu juga menyedot anggaran yang cukup besar.

Baca Juga :  Segera Fungsikan SPAM Pulau Oksigen

            Pada 2014, dana yang digelontorkan Rp 2,3 miliar bersumber dari APBN. Kemudian, pada tahun berikutnya, digelontorkan dana Rp 200 juta. Dana itu diambilkan dari APBD kabupaten. Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan gedung pusat kesehatan hewan (puskeswan).

 

 

SUMENEP – Pasar ternak terpadu di Desa Pakandangan Sangra, Kecamatan Bluto, kurang dimintai. Pedagang sapi enggan mendatangi pasar yang menghabiskan anggaran lebih dari Rp 2,3 miliar tersebut. Pemicunya, diduga, lokasi pasar dianggap tidak menguntungkan para petani.

            ”Pasar sapi di sana tidak diminati oleh pedagang. Tempatnya sangat jauh dari pasar sebelumnya. Dengan demikian, pengunjung yang datang sedikit. Pedagang otomatis malas yang mau datang ke pasar tersebut,” ucap Asmuni, 47, salah seorang pedagang sapi yang ditemui di pasar , Rabu (20/9).

            Asmuni menerangkan, selama ini hanya ada beberapa pedagang sapi yang bertahan di pasar tersebut. Sebagian besar pedagang memilih datang ke pasar lain. Misalnya, pasar sapi di Kecamatan Lenteng. Sebab, meski lokasinya jauh, pasar tersebut lebih ramai dan menguntungkan para pedagang

Baca Juga :  Pamekasan Masuk Tiga Besar Lomba Paramedis Puskeswan

            Menurut dia, wajar bila warga banyak memilih datang ke pasar lain. Sebab, jika terus bertahan di pasar tersebut, para pedagang akan rugi. Jumlah pengunjung, jelas Asmuni, menjadi pertimbangan utama bagi para pedagang. Terlebih, biaya transportasi yang harus dikeluarkan relatif mahal.

            Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumenep Edy Sutrisno belum bisa memberikan keterangan. Didatangi ke kantornya tidak berhasil. Bahkan saat dihubungi, nomor ponselnya tidak tersambung.

Sejak awal pembangunan, pasar tersebut sudah diterpa beberapa masalah. Selain status tanah, pengoprasian pasar tersebut selalu meleset. Meski direncanakan pada 2015, pengoperasian pasar tersebut baru terealisasi 2016. Pasar itu juga menyedot anggaran yang cukup besar.

Baca Juga :  Empat Korban Terakhir Ditemukan, Begini Kondisinya

            Pada 2014, dana yang digelontorkan Rp 2,3 miliar bersumber dari APBN. Kemudian, pada tahun berikutnya, digelontorkan dana Rp 200 juta. Dana itu diambilkan dari APBD kabupaten. Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan gedung pusat kesehatan hewan (puskeswan).

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/