alexametrics
24.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Kakatua Jambul Kuning Pernah Diburu karena Mengganggu

SUMENEP – Kakatua jambul kuning abbotti merupakan endemis Desa/Pulau Masakambing, Kecamatan Masalembu, Sumenep. Jumlah burung yang dilindungi ini pernah mencapai ribuan ekor pada tahun 1980-an. Namun, populasi tersebut semakin berkurang.

Sebab, keberadaan burung ini dianggap hama yang menganggu tanaman petani. Sebab kakatua ini memakan jagung dan biji-bijian lainnya. Parena itu, oleh petani, burung tersebut ditangkap.

Salah satu peneliti dari Konservasi Kakaktua Indonesia (KKI) Dudi Nandika mengatakan, kakaktua jambul kuning jenis abbotti kali pertama ditemukan tahun 1907 oleh Dr WL. Abbott. Karena itu, nama penemu asal Amerika Serikat (AS) itu dijadikan nama jenis burung yang jumlahnya pernah ribuan di Masalembu ini.

Pada 1990 populasi meningkat. Namun, banyak ditangkapi warga karena dianggap hama. Sebab, burung ini juga memakan tanaman jagung warga. Mereka tidak tahu jika burung ini dilindungi. ”Pada 1999 jumlahnya sempat tinggal 5 ekor. Jenis ini endemik di Pulau Masakambing. Pemerintah perlu melakukan terobosan agar tidak punah,” kata pria asal Cirebon, Jawa Barat, ini.

Baca Juga :  Garam Madura Banyak Premium

Untuk mengabadikan sejarah tentang kakaktua jambul kuning, Dudi Nandika bersama Dwi Agustina, Stewart Metz MD., dan Bonnie Zimmermann telah menerbitkan buku. Buku berjudul Kakaktua Langka Abbotti dan Kepulauan Masalembu diterbitkan KKI pada 2013.

Dalam buku itu dibahas tentang keberadaan dan penyebaran kakaktua kecil jambul kuning di Masalembu dan berbagai penyebaran spesies burung di Indonesia. Menurut Dudi, kakaktua jambul kuning memiliki ciri khas warna kuning di pipi dan penutup telinga.

Kasi Konservasi Wilayah IV Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Joko Widodo mengatakan, kakaktua jenis itu hanya terdapat di Pulau Masakambing. Instansinya berupaya menjaga dengan menggandeng warga. BBKSDA menyadarkan masyarakat bahwa burung ini tidak boleh diburu dan ditangkap.

”Alhamdulillah, masyarakat memiliki kesadaran cukup tinggi. Bahwa satwa yang ada di Pulau Masakambing penting dijaga kelestariannya,” kata pejabat asal Solo, Jawa Tengah, ini.

Baca Juga :  Ekonomi Membaik, Kepuasan Masyarakat terhadap Jokowi Meningkat

Kakaktua jambul kuning merupakan satu dari empat satwa yang populasinya menjadi prioritas di Jatim selain elang jawa, banteng, dan rusa bawean. Selama ini, sudah banyak warga yang memerhatikan imbauan agar tidak melanggar undang-undang.

- Advertisement -

SUMENEP – Kakatua jambul kuning abbotti merupakan endemis Desa/Pulau Masakambing, Kecamatan Masalembu, Sumenep. Jumlah burung yang dilindungi ini pernah mencapai ribuan ekor pada tahun 1980-an. Namun, populasi tersebut semakin berkurang.

Sebab, keberadaan burung ini dianggap hama yang menganggu tanaman petani. Sebab kakatua ini memakan jagung dan biji-bijian lainnya. Parena itu, oleh petani, burung tersebut ditangkap.

Salah satu peneliti dari Konservasi Kakaktua Indonesia (KKI) Dudi Nandika mengatakan, kakaktua jambul kuning jenis abbotti kali pertama ditemukan tahun 1907 oleh Dr WL. Abbott. Karena itu, nama penemu asal Amerika Serikat (AS) itu dijadikan nama jenis burung yang jumlahnya pernah ribuan di Masalembu ini.


Pada 1990 populasi meningkat. Namun, banyak ditangkapi warga karena dianggap hama. Sebab, burung ini juga memakan tanaman jagung warga. Mereka tidak tahu jika burung ini dilindungi. ”Pada 1999 jumlahnya sempat tinggal 5 ekor. Jenis ini endemik di Pulau Masakambing. Pemerintah perlu melakukan terobosan agar tidak punah,” kata pria asal Cirebon, Jawa Barat, ini.

Baca Juga :  Garam Madura Banyak Premium

Untuk mengabadikan sejarah tentang kakaktua jambul kuning, Dudi Nandika bersama Dwi Agustina, Stewart Metz MD., dan Bonnie Zimmermann telah menerbitkan buku. Buku berjudul Kakaktua Langka Abbotti dan Kepulauan Masalembu diterbitkan KKI pada 2013.

Dalam buku itu dibahas tentang keberadaan dan penyebaran kakaktua kecil jambul kuning di Masalembu dan berbagai penyebaran spesies burung di Indonesia. Menurut Dudi, kakaktua jambul kuning memiliki ciri khas warna kuning di pipi dan penutup telinga.

Kasi Konservasi Wilayah IV Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Joko Widodo mengatakan, kakaktua jenis itu hanya terdapat di Pulau Masakambing. Instansinya berupaya menjaga dengan menggandeng warga. BBKSDA menyadarkan masyarakat bahwa burung ini tidak boleh diburu dan ditangkap.

”Alhamdulillah, masyarakat memiliki kesadaran cukup tinggi. Bahwa satwa yang ada di Pulau Masakambing penting dijaga kelestariannya,” kata pejabat asal Solo, Jawa Tengah, ini.

Baca Juga :  Jokowi Bakal Bangun Terowongan Toleransi, Warga Sumenep Surati Stafsus

Kakaktua jambul kuning merupakan satu dari empat satwa yang populasinya menjadi prioritas di Jatim selain elang jawa, banteng, dan rusa bawean. Selama ini, sudah banyak warga yang memerhatikan imbauan agar tidak melanggar undang-undang.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/