alexametrics
22.8 C
Madura
Wednesday, May 25, 2022

Kakaktua Kecil Jambul Kuning Endemik Masakambing

SUMENEP – Kakaktua kecil jambul kuning spesies abbotti dilindungi undang-undang (UU). Bagi yang sengaja melakukan perburuan dan memperdagangkan terancam hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Itu sesuai amanat UU 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Demikian ditegaskan Kasi Konservasi Wilayah IV Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Joko Widodo. Dia mengatakan, kakaktua jenis itu hanya terdapat di Desa/Pulau Masakambing.

Instansinya berupaya menjaga dengan menggandeng warga setempat. BBKSDA menyadarkan masyarakat bahwa burung berparuh hitam ini tidak boleh diburu dan ditangkap. ”Alhamdulillah, masyarakat memiliki kesadaran cukup tinggi. Bahwa satwa yang ada di Pulau Masakambing penting dijaga kelestariannya,” kata pejabat asal Solo, Jawa Tengah, ini.

Kakaktua jambul kuning merupakan satu dari empat satwa yang populasinya menjadi prioritas di Jatim selain elang jawa, banteng, dan rusa bawean. Selama ini, sudah banyak warga yang memerhatikan imbauan agar tidak melanggar undang-undang.

Dia mengungkapkan, peran warga dalam menjaga kelestarian burung ini dengan tidak menebang pohon sembarangan. Kakaktua berada di lahan milik warga. Biasanya hinggap di pohon kelapa, randu, dan mangrove.

Setiap pohon yang jadi tempat tinggal kakaktua agar tidak ditebang oleh si pemilik. Semua itu dilakukan demi menjaga kelestariannya. ”Pemerintah belum punya hutan konservasi khusus. Semua habitat milik masyarakat,” katanya.

Baca Juga :  Akhir Tahun Terminal Baru Mulai Dioprasikan

Jika warga hendak menebang pohon, BBKSDA berusaha mencegah. Terutama pohon-pohon yang biasa dijadikan tempat tinggal burung. Pendekatan itu dilakukan agar kakaktua tetap bisa berkembang biak.

BBKSDA bersama Konservasi Kakaktua Indonesia (KKI) juga mengadakan pembinaan habitat. Misal mengajak warga menanam pohon randu, kedondong, jambu air, dan belimbing. Sebab, tanaman ini yang buahnya juga kerap dimakan kakaktua.

Joko berharap peran aktif Pemkab Sumenep melindungi kekayaan alam tersebut dengan membuat perda atau perbup perlindungan kakaktua kecil jambul kuning. Peraturan tersebut dinilai penting agar potensi yang berdampak pada kunjungan wisawatan ini tidak punah.

”Kami pernah duduk bareng dengan jajaran Pemkab Sumenep untuk berembuk pentingnya adanya langkah teknis melindungi satwa dan menjaga habitat. Semoga segera ada perda untuk melakukan perlindungan satwa langka ini,” harapnya.

Sementara, salah satu peneliti dari KKI Dudi Nandika mengatakan, kakaktua jambul kuning jenis abbotti kali pertama ditemukan tahun 1907 oleh Dr WL. Abbott. Karena itu, nama penemu asal Amerika Serikat (AS) itu dijadikan nama jenis burung yang jumlahnya pernah ribuan di Masalembu ini.

Baca Juga :  Peserta JKN-KIS Ringankan Beban Isroh Jalani Operasi Hernia

Pada 1990 populasi meningkat. Namun, banyak ditangkapi warga karena dianggap hama. Sebab, burung ini juga memakan tanaman jagung warga. Mereka tidak tahu jika burung ini dilindungi. ”Pada 1999 jumlahnya sempat tinggal 5 ekor. Jenis ini endemik di Pulau Masakambing. Pemerintah perlu melakukan terobosan agar tidak punah,” kata pria asal Cirebon, Jawa Barat, ini.

Untuk mengabadikan sejarah tentang kakaktua jambul kuning, Dudi Nandika bersama Dwi Agustina, Stewart Metz MD., dan Bonnie Zimmermann telah menerbitkan buku. Buku berjudul Kakaktua Langka Abbotti dan Kepulauan Masalembu diterbitkan KKI pada 2013.

Dalam buku itu dibahas tentang keberadaan dan penyebaran kakaktua kecil jambul kuning di Masalembu dan berbagai penyebaran spesies burung di Indonesia. Menurut Dudi, kakaktua jambul kuning memiliki ciri khas warna kuning di pipi dan penutup telinga.

Sulit kelihatan dari jarak yang jauh karena samar. Menurut dia, pemerintah dan masyarakat harus berperan aktif agar satwa ini tidak punah. KKI sudah berperan aktif dengan sosialisasi kepada masyarakat.

”Baik bertemu langsung dengan warga maupun lewat imbauan tertulis yang dipasang di sejumlah jalan Desa Masakambing,” pungkasnya.

SUMENEP – Kakaktua kecil jambul kuning spesies abbotti dilindungi undang-undang (UU). Bagi yang sengaja melakukan perburuan dan memperdagangkan terancam hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Itu sesuai amanat UU 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Demikian ditegaskan Kasi Konservasi Wilayah IV Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Joko Widodo. Dia mengatakan, kakaktua jenis itu hanya terdapat di Desa/Pulau Masakambing.

Instansinya berupaya menjaga dengan menggandeng warga setempat. BBKSDA menyadarkan masyarakat bahwa burung berparuh hitam ini tidak boleh diburu dan ditangkap. ”Alhamdulillah, masyarakat memiliki kesadaran cukup tinggi. Bahwa satwa yang ada di Pulau Masakambing penting dijaga kelestariannya,” kata pejabat asal Solo, Jawa Tengah, ini.


Kakaktua jambul kuning merupakan satu dari empat satwa yang populasinya menjadi prioritas di Jatim selain elang jawa, banteng, dan rusa bawean. Selama ini, sudah banyak warga yang memerhatikan imbauan agar tidak melanggar undang-undang.

Dia mengungkapkan, peran warga dalam menjaga kelestarian burung ini dengan tidak menebang pohon sembarangan. Kakaktua berada di lahan milik warga. Biasanya hinggap di pohon kelapa, randu, dan mangrove.

Setiap pohon yang jadi tempat tinggal kakaktua agar tidak ditebang oleh si pemilik. Semua itu dilakukan demi menjaga kelestariannya. ”Pemerintah belum punya hutan konservasi khusus. Semua habitat milik masyarakat,” katanya.

Baca Juga :  Jika Mendesak, Pemkab Ajukan Pemanfaatan Rumah Sakit Apung

Jika warga hendak menebang pohon, BBKSDA berusaha mencegah. Terutama pohon-pohon yang biasa dijadikan tempat tinggal burung. Pendekatan itu dilakukan agar kakaktua tetap bisa berkembang biak.

BBKSDA bersama Konservasi Kakaktua Indonesia (KKI) juga mengadakan pembinaan habitat. Misal mengajak warga menanam pohon randu, kedondong, jambu air, dan belimbing. Sebab, tanaman ini yang buahnya juga kerap dimakan kakaktua.

Joko berharap peran aktif Pemkab Sumenep melindungi kekayaan alam tersebut dengan membuat perda atau perbup perlindungan kakaktua kecil jambul kuning. Peraturan tersebut dinilai penting agar potensi yang berdampak pada kunjungan wisawatan ini tidak punah.

”Kami pernah duduk bareng dengan jajaran Pemkab Sumenep untuk berembuk pentingnya adanya langkah teknis melindungi satwa dan menjaga habitat. Semoga segera ada perda untuk melakukan perlindungan satwa langka ini,” harapnya.

Sementara, salah satu peneliti dari KKI Dudi Nandika mengatakan, kakaktua jambul kuning jenis abbotti kali pertama ditemukan tahun 1907 oleh Dr WL. Abbott. Karena itu, nama penemu asal Amerika Serikat (AS) itu dijadikan nama jenis burung yang jumlahnya pernah ribuan di Masalembu ini.

Baca Juga :  Separo Jamaah Haji Masuk Lansia

Pada 1990 populasi meningkat. Namun, banyak ditangkapi warga karena dianggap hama. Sebab, burung ini juga memakan tanaman jagung warga. Mereka tidak tahu jika burung ini dilindungi. ”Pada 1999 jumlahnya sempat tinggal 5 ekor. Jenis ini endemik di Pulau Masakambing. Pemerintah perlu melakukan terobosan agar tidak punah,” kata pria asal Cirebon, Jawa Barat, ini.

Untuk mengabadikan sejarah tentang kakaktua jambul kuning, Dudi Nandika bersama Dwi Agustina, Stewart Metz MD., dan Bonnie Zimmermann telah menerbitkan buku. Buku berjudul Kakaktua Langka Abbotti dan Kepulauan Masalembu diterbitkan KKI pada 2013.

Dalam buku itu dibahas tentang keberadaan dan penyebaran kakaktua kecil jambul kuning di Masalembu dan berbagai penyebaran spesies burung di Indonesia. Menurut Dudi, kakaktua jambul kuning memiliki ciri khas warna kuning di pipi dan penutup telinga.

Sulit kelihatan dari jarak yang jauh karena samar. Menurut dia, pemerintah dan masyarakat harus berperan aktif agar satwa ini tidak punah. KKI sudah berperan aktif dengan sosialisasi kepada masyarakat.

”Baik bertemu langsung dengan warga maupun lewat imbauan tertulis yang dipasang di sejumlah jalan Desa Masakambing,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/