alexametrics
28.2 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Pengembangan Wisata Terganggu Bekas Jembatan

SUMENEP – Mengembangkan bisnis wisata tidaklah mudah. Seperti dialami Hamsuri, pengelola wisata Apoeng Kheta di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Sumenep. Dia mengaku terganggu dengan sisa bangunan bekas jembatan lama yang tidak dibersihkan.

Jembatan Nambakor dibangun kembali pada 2015. Jembatan baru dibangun di atas jembatan lama. Sayangnya, sisa bangunan jembatan lama tidak dibersihkan. Karenanya, jarak permukaan air sungai dengan jembatan sekitar 70 sentimeter.

Bahkan ketika pasang, air menyentuh jembatan. Kondisi itu mengakibatkan sungai di bawah jembatan tidak bisa dilalui perahu. Hal tersebut berdampak pada bisnis wisata Apoeng Kheta yang baru dikelola Hamsuri.

”Saya mengembangkan wisata apung. Tapi ternyata terkendala jembatan. Sepertinya pembangunan jembatan itu belum selesai karena bekas jembatan lama tidak dibersihkan,” keluhnya Minggu (20/5).

Baca Juga :  Hanya Kembangkan Dua Destinasi Wisata Alam

Hamsuri berencana mengoperasikan dua speedboat untuk penikmat wisata air di Sumenep. Dia juga berencana membuka jalur transportasi air ke Pulau Giligenteng dengan perahu motor.

”Naik speedboat dari sini ke Pantai Sembilan di Pulau Giligenteng hanya butuh waktu sekitar 15–20 menit. Lumayan bisa ada koneksi antara satu tempat wisata dengan wisata lainnya,” ujar dia.

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Teknik Dinas PU Bina Marga Sumenep Agus Adi Hidayat mengatakan, pembangunan jembatan di Desa Nambakor itu merupakan proyek pemerintah pusat. Dengan begitu, pihaknya tidak memiliki wewenang untuk bertanggung jawab.

”Jembatan di Desa Nambakor itu proyek nasional karena ada di jalan nasional. Pengerjaannya pun digarap pemerintah pusat,” katanya.

Baca Juga :  Aktivis Minta Disparbud Tak Antikritik

SUMENEP – Mengembangkan bisnis wisata tidaklah mudah. Seperti dialami Hamsuri, pengelola wisata Apoeng Kheta di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Sumenep. Dia mengaku terganggu dengan sisa bangunan bekas jembatan lama yang tidak dibersihkan.

Jembatan Nambakor dibangun kembali pada 2015. Jembatan baru dibangun di atas jembatan lama. Sayangnya, sisa bangunan jembatan lama tidak dibersihkan. Karenanya, jarak permukaan air sungai dengan jembatan sekitar 70 sentimeter.

Bahkan ketika pasang, air menyentuh jembatan. Kondisi itu mengakibatkan sungai di bawah jembatan tidak bisa dilalui perahu. Hal tersebut berdampak pada bisnis wisata Apoeng Kheta yang baru dikelola Hamsuri.


”Saya mengembangkan wisata apung. Tapi ternyata terkendala jembatan. Sepertinya pembangunan jembatan itu belum selesai karena bekas jembatan lama tidak dibersihkan,” keluhnya Minggu (20/5).

Baca Juga :  Paling Besar Renovasi Rumah

Hamsuri berencana mengoperasikan dua speedboat untuk penikmat wisata air di Sumenep. Dia juga berencana membuka jalur transportasi air ke Pulau Giligenteng dengan perahu motor.

”Naik speedboat dari sini ke Pantai Sembilan di Pulau Giligenteng hanya butuh waktu sekitar 15–20 menit. Lumayan bisa ada koneksi antara satu tempat wisata dengan wisata lainnya,” ujar dia.

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Teknik Dinas PU Bina Marga Sumenep Agus Adi Hidayat mengatakan, pembangunan jembatan di Desa Nambakor itu merupakan proyek pemerintah pusat. Dengan begitu, pihaknya tidak memiliki wewenang untuk bertanggung jawab.

”Jembatan di Desa Nambakor itu proyek nasional karena ada di jalan nasional. Pengerjaannya pun digarap pemerintah pusat,” katanya.

Baca Juga :  Kelompok 60 PMM UMM Mengabdikan Diri di Desa Nyabakan Barat
- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/