alexametrics
26.1 C
Madura
Wednesday, July 6, 2022

PSK Madura Diskusikan Buku Sagara Aeng Mata Ojan

SUMENEP – Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Madura membedah buku peraih Anugerah Sastra Rancagè 2021, antologi puisi Sagara Aeng Mata Ojan Minggu (21/2). Diskusi yang bertepatan dengan Hari Bahasa Ibu Internasional itu digelar di Rumah Budaya Kasokanepon, Desa Kacongan, Sumenep.

PSK Madura menghadirkan penulis buku berbahasa Madura itu Lukman Hakim AG. Pria yang juga wartawan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) itu berbicara seputar alasan dirinya mengandrungi bahasa dan sastra Madura.

Dia mengatakan, antologi puisinya itu hanya bagian kecil dari khasanah kebudayaan Madura. Sebab, dalam pandangannya, pembahasan tentang Madura sangat luas. ”Dan kebetulan buku ini menggunakan bahasa Madura,” katanya.

Lukman mengaku menulis dengan bahasa Madura sebagai bagian dari ekspresi kebanggaan sebagai orang Madura. Selain itu, sebagai bentuk aplikasi dari pendidikan yang diajarkan orang tua dan para guru. Sebab, sejak di rumah dia memang diajarkan berbahasa dengan baik dan benar. 

Pendidikan keluarga itu kemudian diperkuat dengan pembelajaran di sekolah dan interaksi dengan masyarakat. Semua itu membuatnya semakin haus untuk terus belajar bahasa dan sastra Madura. Lalu memunculkan kesadaran untuk mengabadikan dalam bentuk tulisan.

Baca Juga :  5 Ribu Wirausaha Muda Dipertanyakan

”Sebagian orang yang malu berbahasa Madura mungkin karena tidak tahu. Tidak tahu bisa jadi karena tidak diberi tahu atau tidak diajarkan sejak di rumah masing-masing sehingga tidak tahu betapa indah mempelajari bahasa dan sastra Madura itu,” papar pria yang juga menulis buku Cengkal Burung, Oreng-Oreng Palang, dan Tang Bine Majembar Ate itu.

Lukman mengucapkan terima kasih kepada PSK Madura dan Rumah Budaya Kasokanepon yang telah memfasilitasi diskusi bukunya itu. Forum terbatas ini terasa spesial. Sebab, sejak buku ini terbit pada 2008 baru kali ini dibedah. 

Terbitan pertama digarap Balai Bahasa Surabaya secara terbatas. Kemudian diterbitkan ulang oleh Sulur Pustaka pada 2020 dan mendapat penghargaan Anugerah Sastra Rancagè pada 31 Januari 2021.

”Yang tak kalah menarik karena diskusi ini bertepatan dengan Hari Bahasa Ibu Internasional yang biasa diperingati setiap 21 Februari,” ujar pria dua anak itu.

Set. Wahedi dari PSK Madura menjelaskan, lembaganya dibentuk untuk meneliti, mengkaji, dan mendiskusikan kebudayaan Madura. Pada pertemuan pertama sengaja memperbingkan Sagara Aeng Mata Ojan sebagai bentuk apresiasi terhadap karya sastra berbahasa Madura.

Set menambahkan, PSK Madura ingin mengajak orang Madura berpikir dan membongkar pandangan buruk terhadap orang Madura yang selalu menjadi lelucon. Anehnya, kata dia, fenomena itu tak jarang diakui sebagai sisi negatif oleh orang Madura sendiri. Padahal, di sisi lain itu justru menjadi nilai lebih orang Madura.

Baca Juga :  Fattah Jasin Mengayomi tanpa Pandang Bulu

Set mencontohkan anekdot orang Madura sebagai juragan besi tua yang diungkapkan untuk menertakawakan orang Madura. Sebagian orang Madura justru mengamini lelucon itu hingga membuatnya malu mengakui identitas kemaduraannya.

”Padahal, tidak mungkin menekuni besi tua jika tidak punya keahlian di bidang perbesian. Hanya orang Madura yang punya kelebihan dan bisa memanfaatkan peluang itu. Bahkan, dari besi tua ini muncul sosok berpengaruh besar. Mestinya ini menjadi kebanggaan, bukan olok-olok,” ungkap alumnus Universitas Negeri Surabaya itu.

Penyair M. Fauzi selaku pemilik Rumah Budaya Kasokanepon mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas kehadiran dan kesuksesan diskusi buku itu. Dia mengatakan, rumah budaya ini dibangun untuk tempat nongkrong dan diskusi para seniman. 

”Silakan manfaatkan rumah budaya ini untuk berkumpul dan bertukar gagasan. Semoga bermanfaat,” katanya di akhir forum yang dipandu Hafifana itu. (luq)

SUMENEP – Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Madura membedah buku peraih Anugerah Sastra Rancagè 2021, antologi puisi Sagara Aeng Mata Ojan Minggu (21/2). Diskusi yang bertepatan dengan Hari Bahasa Ibu Internasional itu digelar di Rumah Budaya Kasokanepon, Desa Kacongan, Sumenep.


PSK Madura menghadirkan penulis buku berbahasa Madura itu Lukman Hakim AG. Pria yang juga wartawan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) itu berbicara seputar alasan dirinya mengandrungi bahasa dan sastra Madura.

Dia mengatakan, antologi puisinya itu hanya bagian kecil dari khasanah kebudayaan Madura. Sebab, dalam pandangannya, pembahasan tentang Madura sangat luas. ”Dan kebetulan buku ini menggunakan bahasa Madura,” katanya.

Lukman mengaku menulis dengan bahasa Madura sebagai bagian dari ekspresi kebanggaan sebagai orang Madura. Selain itu, sebagai bentuk aplikasi dari pendidikan yang diajarkan orang tua dan para guru. Sebab, sejak di rumah dia memang diajarkan berbahasa dengan baik dan benar. 

Pendidikan keluarga itu kemudian diperkuat dengan pembelajaran di sekolah dan interaksi dengan masyarakat. Semua itu membuatnya semakin haus untuk terus belajar bahasa dan sastra Madura. Lalu memunculkan kesadaran untuk mengabadikan dalam bentuk tulisan.

Baca Juga :  5 Ribu Wirausaha Muda Dipertanyakan

”Sebagian orang yang malu berbahasa Madura mungkin karena tidak tahu. Tidak tahu bisa jadi karena tidak diberi tahu atau tidak diajarkan sejak di rumah masing-masing sehingga tidak tahu betapa indah mempelajari bahasa dan sastra Madura itu,” papar pria yang juga menulis buku Cengkal Burung, Oreng-Oreng Palang, dan Tang Bine Majembar Ate itu.

Lukman mengucapkan terima kasih kepada PSK Madura dan Rumah Budaya Kasokanepon yang telah memfasilitasi diskusi bukunya itu. Forum terbatas ini terasa spesial. Sebab, sejak buku ini terbit pada 2008 baru kali ini dibedah. 

Terbitan pertama digarap Balai Bahasa Surabaya secara terbatas. Kemudian diterbitkan ulang oleh Sulur Pustaka pada 2020 dan mendapat penghargaan Anugerah Sastra Rancagè pada 31 Januari 2021.

”Yang tak kalah menarik karena diskusi ini bertepatan dengan Hari Bahasa Ibu Internasional yang biasa diperingati setiap 21 Februari,” ujar pria dua anak itu.

Set. Wahedi dari PSK Madura menjelaskan, lembaganya dibentuk untuk meneliti, mengkaji, dan mendiskusikan kebudayaan Madura. Pada pertemuan pertama sengaja memperbingkan Sagara Aeng Mata Ojan sebagai bentuk apresiasi terhadap karya sastra berbahasa Madura.

Set menambahkan, PSK Madura ingin mengajak orang Madura berpikir dan membongkar pandangan buruk terhadap orang Madura yang selalu menjadi lelucon. Anehnya, kata dia, fenomena itu tak jarang diakui sebagai sisi negatif oleh orang Madura sendiri. Padahal, di sisi lain itu justru menjadi nilai lebih orang Madura.

Baca Juga :  Perbanyak Penumpang sebelum Tambah Maskapai

Set mencontohkan anekdot orang Madura sebagai juragan besi tua yang diungkapkan untuk menertakawakan orang Madura. Sebagian orang Madura justru mengamini lelucon itu hingga membuatnya malu mengakui identitas kemaduraannya.

”Padahal, tidak mungkin menekuni besi tua jika tidak punya keahlian di bidang perbesian. Hanya orang Madura yang punya kelebihan dan bisa memanfaatkan peluang itu. Bahkan, dari besi tua ini muncul sosok berpengaruh besar. Mestinya ini menjadi kebanggaan, bukan olok-olok,” ungkap alumnus Universitas Negeri Surabaya itu.

Penyair M. Fauzi selaku pemilik Rumah Budaya Kasokanepon mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas kehadiran dan kesuksesan diskusi buku itu. Dia mengatakan, rumah budaya ini dibangun untuk tempat nongkrong dan diskusi para seniman. 

”Silakan manfaatkan rumah budaya ini untuk berkumpul dan bertukar gagasan. Semoga bermanfaat,” katanya di akhir forum yang dipandu Hafifana itu. (luq)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Matangkan Strategi Penanganan Banjir

Tiga Madrasah Tak Mau Terima BOS

Rp 34 M untuk Mobil Sehat Desa

Artikel Terbaru

/