alexametrics
21.6 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Klaim Produksi Ikan Capai 58 Ribu Ton

SUMENEP – Potensi sektor perikanan di Sumenep sangat melimpah. Kabupaten ujung timur Madura dengan 126 pulau itu setiap tahun bisa menghasilkan produksi ikan 58 ribu ton. Jumlah itu hanya dari hasil tangkap ikan di laut.

Jumlah ikan tawar yang dibudidayakan masyarakat jauh lebih tinggi. Berdasar data Dinas Perikanan Sumenep, produksi ikan air tawar bisa mencapai 140 ribu ton setiap tahun. Dengan demikian, total produksi ikan di Sumenep hampir mencapai 200 ribu ton tiap tahun.

Bupati A. Busyro Karim mengatakan, banyaknya ikan di Sumenep disebabkan luasnya perairan laut di wilayah yang dipimpinnya. Sumenep memiliki luas perairan 50 ribu kilometer persegi. Angka tersebut setara dengan dua pertiga dari seluruh luas Jawa Timur.

Selain itu, dari 332 desa di Sumenep, 170 desa termasuk daerah perikanan. Nelayan juga cukup banyak. Berdasar data, ada 40.126 warga Sumenep yang hidup dengan mata pencaharian di laut atau berprofesi sebagai nelayan.

”Sektor perikanan bersama kehutanan dan pertanian menyumbangkan 36 persen bagi PDRB Kabupaten Sumenep,” jelas Busyro.

Tapi, banyaknya produksi ikan di Kota Keris ini belum sepenuhnya dikelola daerah. Sebagian ikan yang ditangkap dari perairan Sumenep malah banyak dijual ke luar. Misalnya, ke Surabaya, Banyuwangi, Bali, bahkan hingga luar negeri. Ironisnya, yang mengekspor ke luar negeri justru kebanyakan pengusaha-pengusaha dari luar Sumenep.

Baca Juga :  CSR Migas Perbaiki Ekonomi Masyarakat

”Sayangnya, produksi industri olahan ikan masih rendah, yakni hanya 19.602 ton,” tegas mantan ketua DPRD Sumenep tersebut. Mengapa banyak ikan yang justru dikirim ke luar? Menurut dia, karena di Sumenep dari dulu belum punya wadah pengelolaan ikan yang memadai. Akibatnya, para nelayan langsung menjual ikan kepada pengusaha di tengah lautan.

Namun, pihaknya optimistis hasil ikan di Sumenep bisa diekspor sendiri ke luar negeri. Sebab, saat ini Sumenep sudah memiliki gudang beku terintegrasi alias integrated cold storage (ICS) sebagai tempat pengolahan ikan. Gudang yang dibangun dengan biaya APBN sekitar Rp 17,2 miliar itu telah diserahterimakan oleh pemerintah pusat kepada Pemkab Sumenep.

”Keberadaan ICS ini sangat strategis dalam menanggulangi kendala mendasar di pulau-pulau kecil terluar dan daerah sentra produksi perikanan,” jelasnya.

Faktor musim, keterpencilan, dan karakteristik komoditas ikan yang mudah rusak juga bisa diatasi dengan adanya ICS. Termasuk optimalisasi potensi perikanan dan peningkatan nilai tambah produk hasil perikanan. ”Agar produk perikanan di Sumenep berkualitas ekspor,” tegasnya.

Tapi, sampai saat ini ICS belum dioperasikan. RadarMadura.id mengujungi gudang di Jalan Raya Dungkek–Gapura itu kemarin (19/11). Tidak ada aktivitas apa pun di gudang tersebut. Bahkan tidak ada seorang pun di dalam gudang yang terletak di utara Jalan Raya Dungkek itu.

Menurut Busyro, gudang beku itu memang belum dioperasikan. Sebab, pengelolanya belum ada. Pemkab masih mencari pengelola yang ahli dengan sistem lelang secara terbuka. Pihaknya memastikan bahwa pengelola ICS akan diambil dari masyarakat atau pengusaha profesional.

Baca Juga :  Duh, pak prabowo injak batas suci masjid pakai sandal?

”Salah satu syarat bagi pengelola ICS ini adalah memiliki ketersediaan modal dan armada pengangkutan ikan ke kepulauan. Insya Allah target kami bulan Desember pengelola ICS ini sudah terbentuk melalui sistem kerja sama kesepakatan,” tukasnya.

Sebelumnya, Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian KKP Rifki Efendi Hardijanto berharap gudang tersebut dimanfaatkan dengan maksimal. Pembangunan fasilitas itu tentu untuk membangun perekonomian Sumenep, terutama di sektor perikanan.

Rifki menjelaskan, gudang ikan berkapasitas 100 ton itu dibangun di Sumenep karena Sumenep merupakan salah satu kabupaten yang konsumsi ikannya tertinggi di Indonesia. Wilayah lautnya juga luas. ”Dengan adanya gudang ini, kami memang ingin melakukan ekspor secara langsung,” terangnya dalam proses serah terima Selasa (13/11).

Pemanfaatan gudang tersebut berada dalam pengawasan Komisi IV DPR RI. Anggota DPR RI Yus Sudarso menyebutkan bahwa gudang beku terintegrasi sudah mendekati siap dioperasikan. Dia berharap, operator pengelola gudang itu betul-betul profesional di bidangnya. Dengan begitu, gudang tersebut bisa menyerap ikan secara maksimal dan terjual dengan harga tinggi.

”Sehingga kesejahteraan masyarakat nelayan bisa stabil dan perekonomian masyarakat Madura semakin meningkat,” paparnya.

- Advertisement -

SUMENEP – Potensi sektor perikanan di Sumenep sangat melimpah. Kabupaten ujung timur Madura dengan 126 pulau itu setiap tahun bisa menghasilkan produksi ikan 58 ribu ton. Jumlah itu hanya dari hasil tangkap ikan di laut.

Jumlah ikan tawar yang dibudidayakan masyarakat jauh lebih tinggi. Berdasar data Dinas Perikanan Sumenep, produksi ikan air tawar bisa mencapai 140 ribu ton setiap tahun. Dengan demikian, total produksi ikan di Sumenep hampir mencapai 200 ribu ton tiap tahun.

Bupati A. Busyro Karim mengatakan, banyaknya ikan di Sumenep disebabkan luasnya perairan laut di wilayah yang dipimpinnya. Sumenep memiliki luas perairan 50 ribu kilometer persegi. Angka tersebut setara dengan dua pertiga dari seluruh luas Jawa Timur.


Selain itu, dari 332 desa di Sumenep, 170 desa termasuk daerah perikanan. Nelayan juga cukup banyak. Berdasar data, ada 40.126 warga Sumenep yang hidup dengan mata pencaharian di laut atau berprofesi sebagai nelayan.

”Sektor perikanan bersama kehutanan dan pertanian menyumbangkan 36 persen bagi PDRB Kabupaten Sumenep,” jelas Busyro.

Tapi, banyaknya produksi ikan di Kota Keris ini belum sepenuhnya dikelola daerah. Sebagian ikan yang ditangkap dari perairan Sumenep malah banyak dijual ke luar. Misalnya, ke Surabaya, Banyuwangi, Bali, bahkan hingga luar negeri. Ironisnya, yang mengekspor ke luar negeri justru kebanyakan pengusaha-pengusaha dari luar Sumenep.

Baca Juga :  Tak Daftarkan Karyawan ke BPJSTK, Perusahaan Bisa Dilaporkan

”Sayangnya, produksi industri olahan ikan masih rendah, yakni hanya 19.602 ton,” tegas mantan ketua DPRD Sumenep tersebut. Mengapa banyak ikan yang justru dikirim ke luar? Menurut dia, karena di Sumenep dari dulu belum punya wadah pengelolaan ikan yang memadai. Akibatnya, para nelayan langsung menjual ikan kepada pengusaha di tengah lautan.

Namun, pihaknya optimistis hasil ikan di Sumenep bisa diekspor sendiri ke luar negeri. Sebab, saat ini Sumenep sudah memiliki gudang beku terintegrasi alias integrated cold storage (ICS) sebagai tempat pengolahan ikan. Gudang yang dibangun dengan biaya APBN sekitar Rp 17,2 miliar itu telah diserahterimakan oleh pemerintah pusat kepada Pemkab Sumenep.

”Keberadaan ICS ini sangat strategis dalam menanggulangi kendala mendasar di pulau-pulau kecil terluar dan daerah sentra produksi perikanan,” jelasnya.

Faktor musim, keterpencilan, dan karakteristik komoditas ikan yang mudah rusak juga bisa diatasi dengan adanya ICS. Termasuk optimalisasi potensi perikanan dan peningkatan nilai tambah produk hasil perikanan. ”Agar produk perikanan di Sumenep berkualitas ekspor,” tegasnya.

Tapi, sampai saat ini ICS belum dioperasikan. RadarMadura.id mengujungi gudang di Jalan Raya Dungkek–Gapura itu kemarin (19/11). Tidak ada aktivitas apa pun di gudang tersebut. Bahkan tidak ada seorang pun di dalam gudang yang terletak di utara Jalan Raya Dungkek itu.

Menurut Busyro, gudang beku itu memang belum dioperasikan. Sebab, pengelolanya belum ada. Pemkab masih mencari pengelola yang ahli dengan sistem lelang secara terbuka. Pihaknya memastikan bahwa pengelola ICS akan diambil dari masyarakat atau pengusaha profesional.

Baca Juga :  Jalan Provinsi ”Tumbuh” Pohon Pisang

”Salah satu syarat bagi pengelola ICS ini adalah memiliki ketersediaan modal dan armada pengangkutan ikan ke kepulauan. Insya Allah target kami bulan Desember pengelola ICS ini sudah terbentuk melalui sistem kerja sama kesepakatan,” tukasnya.

Sebelumnya, Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian KKP Rifki Efendi Hardijanto berharap gudang tersebut dimanfaatkan dengan maksimal. Pembangunan fasilitas itu tentu untuk membangun perekonomian Sumenep, terutama di sektor perikanan.

Rifki menjelaskan, gudang ikan berkapasitas 100 ton itu dibangun di Sumenep karena Sumenep merupakan salah satu kabupaten yang konsumsi ikannya tertinggi di Indonesia. Wilayah lautnya juga luas. ”Dengan adanya gudang ini, kami memang ingin melakukan ekspor secara langsung,” terangnya dalam proses serah terima Selasa (13/11).

Pemanfaatan gudang tersebut berada dalam pengawasan Komisi IV DPR RI. Anggota DPR RI Yus Sudarso menyebutkan bahwa gudang beku terintegrasi sudah mendekati siap dioperasikan. Dia berharap, operator pengelola gudang itu betul-betul profesional di bidangnya. Dengan begitu, gudang tersebut bisa menyerap ikan secara maksimal dan terjual dengan harga tinggi.

”Sehingga kesejahteraan masyarakat nelayan bisa stabil dan perekonomian masyarakat Madura semakin meningkat,” paparnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/