alexametrics
25.1 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Target Luas Lahan Padi Menyusut

SUMENEP – Musim padi periode April–September 2018 dimulai. Para petani mulai menggarap lahan masing-masing. Ada yang sudah menanam, ada pula yang masih membajak sawah. Seperti dilakukan petani di sekitar Jalan Lingkar Barat, Kota Sumenep, kemarin (19/4).

Musim tanam padi periode April–September ini lebih kecil jika dibandingkan dengan periode Oktober 2017–Maret 2018. Hal itu tidak lepas dari kondisi lahan yang sebagian besar tanah di Sumenep mengandalkan tadah hujan.

”Target luas tanam periode Oktober–Maret sebanyak 35 ribu hektare. Itu dengan luas lahan 25 ribu hektare. Asumsinya, ada yang dua kali tanam,” kata Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Dispertapahortbun) Sumenep Habe Hajat. ”Untuk periode April–September, tidak bisa mencapai angka itu karena sudah masuk musim kemarau,” tambahnya.

Baca Juga :  PC NU Sumenep Galang Dana Korban Tragedi Rohingya

Periode April–September, jelas Habe, hanya mengandalkan jaringan irigasi. Petani yang menggarap sawah untuk ditanami padi hanya di daerah-daerah yang pengairannya cukup. Misalnya, di Kecamatan Kota Sumenep, Gapura, dan Ganding.

”Luas lahan yang tersambung dengan irigasi itu sekitar delapan ribu hektare. Tapi, apakah semua itu bisa ditanami padi? Bergantung pada ketersediaan airnya,” tegasnya.

”Kalau misalnya ketersediaan air hanya cukup untuk tujuh ribu hektare, sementara petani menanam delapan ribu hektare, terus seribu hektarenya akan kering dong,” tambahnya.

Sementara itu, seorang petani asal Kecamatan Batang-Batang Rendi mengaku tidak bisa menanam padi periode April–September. Sebab, di wilayahnya belum tersedia jaringan irigasi. Dia beserta masyarakat sekitar hanya mengandalkan musim penghujan.

Baca Juga :  Omset Penambangan Liar Capai Belasan Miliar Per Tahun

”Kalau musim kemarau, para petani menanam tembakau. Sebab kalau menanam padi, pasti mati karena tidak airnya,” tegasnya. 

 

- Advertisement -

SUMENEP – Musim padi periode April–September 2018 dimulai. Para petani mulai menggarap lahan masing-masing. Ada yang sudah menanam, ada pula yang masih membajak sawah. Seperti dilakukan petani di sekitar Jalan Lingkar Barat, Kota Sumenep, kemarin (19/4).

Musim tanam padi periode April–September ini lebih kecil jika dibandingkan dengan periode Oktober 2017–Maret 2018. Hal itu tidak lepas dari kondisi lahan yang sebagian besar tanah di Sumenep mengandalkan tadah hujan.

”Target luas tanam periode Oktober–Maret sebanyak 35 ribu hektare. Itu dengan luas lahan 25 ribu hektare. Asumsinya, ada yang dua kali tanam,” kata Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Dispertapahortbun) Sumenep Habe Hajat. ”Untuk periode April–September, tidak bisa mencapai angka itu karena sudah masuk musim kemarau,” tambahnya.

Baca Juga :  Mekanisasi Pertanian Bisa Tarik Generasi Muda

Periode April–September, jelas Habe, hanya mengandalkan jaringan irigasi. Petani yang menggarap sawah untuk ditanami padi hanya di daerah-daerah yang pengairannya cukup. Misalnya, di Kecamatan Kota Sumenep, Gapura, dan Ganding.

”Luas lahan yang tersambung dengan irigasi itu sekitar delapan ribu hektare. Tapi, apakah semua itu bisa ditanami padi? Bergantung pada ketersediaan airnya,” tegasnya.

”Kalau misalnya ketersediaan air hanya cukup untuk tujuh ribu hektare, sementara petani menanam delapan ribu hektare, terus seribu hektarenya akan kering dong,” tambahnya.

Sementara itu, seorang petani asal Kecamatan Batang-Batang Rendi mengaku tidak bisa menanam padi periode April–September. Sebab, di wilayahnya belum tersedia jaringan irigasi. Dia beserta masyarakat sekitar hanya mengandalkan musim penghujan.

Baca Juga :  Asta Tinggi Sumenep Hendak Dicat, Yayasan Kumpulkan Dana

”Kalau musim kemarau, para petani menanam tembakau. Sebab kalau menanam padi, pasti mati karena tidak airnya,” tegasnya. 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/