alexametrics
25.4 C
Madura
Monday, May 16, 2022

Jatah Pupuk Dipangkas 21.628 Ton

SUMENEP ­– Petani harap-harap cemas. Pasalnya, alokasi pupuk pertanian yang diberikan pemerintah pusat kepada Pemprov Jawa Timur dikurangi. Hal itu berdampak kepada kuota distribusi pupuk di empat kabupaten di Madura.

Tahun lalu, Sumenep mendapat jatah pupuk bersubsidi 39.958 ton dengan beberapa jenis. Di antaranya, pupuk urea 22.895 ton, SP-36 3.845 ton, ZA 5.224 ton, NPK 5.559 ton, dan organik 2.435 ton. Sementara jatah pupuk hanya 21.628 ton.

Dengan kata lain, pengurangan pupuk bersubsidi untuk petani Kota Keris mencapai 18.330 ton. Pengurangan itu terjadi untuk semua jenis pupuk. Pupuk urea yang awalnya 22.895 ton dipangkas menjadi 13.625, SP-36 3.845 ton dikurangi menjadi 1.776 ton. Sementara pupuk ZA 5.224 ton menyusut menjadi 1.827 ton, NPK dari 5.559 ton dikurangi menjadi 4.000 ton, dan organik dari 2.435 ton tahun kecipratan 400 ton.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Dispertahortbun) Sumenep Arif Firmanto mengatakan, pemangkasan jatah pupuk berdampak kepada pengurangan jatah untuk 38 kabupaten/kota di Jatim. Jatah pupuk untuk Kota Keris menyusut drastis dari tahun lalu. Tahun lalu 39.958 ton, menyusut menjadi 21.628 ton atau berkurang 54,13 persen. ”Itu dampak dari pengurangan jatah Provinsi Jatim yang mencapai 48,44 persen dari tahun sebelumnya,” ucapnya kemarin (19/2).

Baca Juga :  BK DPRD Sumenep Resmi Terbentuk, Ini Identitas Ketua dan Anggotanya

Dia mengklaim pihaknya sudah menyampaikan pemangkasan pupuk bersubsidi tersebut kepada bupati. Tujuannya, agar mendapat perhatian khusus dan ditindaklanjuti ke Pemprov Jatim. ”Kami sudah sampaikan kepada gubernur dan melayangkan surat kepada kementerian untuk mendapat tambahan,” katanya.

Keinginan adanya penambahan distribusi pupuk juga menjadi harapan Pemprov Jatim. Bahkan, gubernur sudah memanggil 13 kabupaten untuk dimintai masukan soal pemangkasan jatah pupuk di semua daerah di Jatim.

”Sebelum ibu gubernur beraudiensi langsung dengan kementerian, 13 kabupaten sudah didengarkan langsung. Termasuk Sumenep yang mewakili kabupaten lainnya,” imbuhnya.

Arif mengaku sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa jatah pupuk di Sumenep dipangkas lebih separo. Tujuannya, supaya petani lebih efisien dalam penggunaan pupuk untuk kebutuhan pertaniannya. Bahkan untuk sosialisasi itu, pihaknya juga memaksimalkan peran penyuluh pertanian. ”Kami harap petani lebih bijak menggunakan pupuk,” harapnya.

Baca Juga :  Target Tanam Jagung Capai 140 Ribu Hektare

Menjelang musim tanam kedua, pihaknya akan lebih mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan pupuk organik. Langkah itu diharapkan dapat mencegah kelangkaan pupuk tahun ini. ”Penggunaan pupuk organik lebih baik untuk tanah dibandingkan pupuk kimia,” imbuhnya.

Meski ada pengurangan 21.628 ton, Arif optimistis tidak akan terjadi kelangkaan. Sebab, pada musim tanam kedua ini kebutuhan pupuk tidak banyak. Alasannya, musim tanam kedua bertepatan musim kemarau. Sementara ketersediaan lahan tanaman lebih banyak lahan basah yang membutuhkan air. Dengan rincian, 25.686 hektare lahan kering dan 117.341 hektare lahan yang membutuhkan air. (jup)

SUMENEP ­– Petani harap-harap cemas. Pasalnya, alokasi pupuk pertanian yang diberikan pemerintah pusat kepada Pemprov Jawa Timur dikurangi. Hal itu berdampak kepada kuota distribusi pupuk di empat kabupaten di Madura.

Tahun lalu, Sumenep mendapat jatah pupuk bersubsidi 39.958 ton dengan beberapa jenis. Di antaranya, pupuk urea 22.895 ton, SP-36 3.845 ton, ZA 5.224 ton, NPK 5.559 ton, dan organik 2.435 ton. Sementara jatah pupuk hanya 21.628 ton.

Dengan kata lain, pengurangan pupuk bersubsidi untuk petani Kota Keris mencapai 18.330 ton. Pengurangan itu terjadi untuk semua jenis pupuk. Pupuk urea yang awalnya 22.895 ton dipangkas menjadi 13.625, SP-36 3.845 ton dikurangi menjadi 1.776 ton. Sementara pupuk ZA 5.224 ton menyusut menjadi 1.827 ton, NPK dari 5.559 ton dikurangi menjadi 4.000 ton, dan organik dari 2.435 ton tahun kecipratan 400 ton.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Dispertahortbun) Sumenep Arif Firmanto mengatakan, pemangkasan jatah pupuk berdampak kepada pengurangan jatah untuk 38 kabupaten/kota di Jatim. Jatah pupuk untuk Kota Keris menyusut drastis dari tahun lalu. Tahun lalu 39.958 ton, menyusut menjadi 21.628 ton atau berkurang 54,13 persen. ”Itu dampak dari pengurangan jatah Provinsi Jatim yang mencapai 48,44 persen dari tahun sebelumnya,” ucapnya kemarin (19/2).

Baca Juga :  Pengembangan Wisata Terganggu Bekas Jembatan

Dia mengklaim pihaknya sudah menyampaikan pemangkasan pupuk bersubsidi tersebut kepada bupati. Tujuannya, agar mendapat perhatian khusus dan ditindaklanjuti ke Pemprov Jatim. ”Kami sudah sampaikan kepada gubernur dan melayangkan surat kepada kementerian untuk mendapat tambahan,” katanya.

Keinginan adanya penambahan distribusi pupuk juga menjadi harapan Pemprov Jatim. Bahkan, gubernur sudah memanggil 13 kabupaten untuk dimintai masukan soal pemangkasan jatah pupuk di semua daerah di Jatim.

”Sebelum ibu gubernur beraudiensi langsung dengan kementerian, 13 kabupaten sudah didengarkan langsung. Termasuk Sumenep yang mewakili kabupaten lainnya,” imbuhnya.

Arif mengaku sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa jatah pupuk di Sumenep dipangkas lebih separo. Tujuannya, supaya petani lebih efisien dalam penggunaan pupuk untuk kebutuhan pertaniannya. Bahkan untuk sosialisasi itu, pihaknya juga memaksimalkan peran penyuluh pertanian. ”Kami harap petani lebih bijak menggunakan pupuk,” harapnya.

Baca Juga :  Delapan Hari Calon Penumpang Telantar

Menjelang musim tanam kedua, pihaknya akan lebih mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan pupuk organik. Langkah itu diharapkan dapat mencegah kelangkaan pupuk tahun ini. ”Penggunaan pupuk organik lebih baik untuk tanah dibandingkan pupuk kimia,” imbuhnya.

Meski ada pengurangan 21.628 ton, Arif optimistis tidak akan terjadi kelangkaan. Sebab, pada musim tanam kedua ini kebutuhan pupuk tidak banyak. Alasannya, musim tanam kedua bertepatan musim kemarau. Sementara ketersediaan lahan tanaman lebih banyak lahan basah yang membutuhkan air. Dengan rincian, 25.686 hektare lahan kering dan 117.341 hektare lahan yang membutuhkan air. (jup)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/