alexametrics
20.6 C
Madura
Thursday, July 7, 2022

Busyro Karim Ajak Masyarakat Beraktivitas seperti Biasa

SUMENEP – Bupati Sumenep A. Busyro Karim mengunjungi korban gempa di Kecamatan Nonggunong dan Gayam, Pulau Sapudi, Kamis (18/10). Salah satunya di Dusun Jam Busok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam.

Selain memberikan bantuan, politikus PKB itu menghibur korban di posko pengungsian. Pasalnya, gempa berkekuatan magnitudo 6,4 itu membuat warga trauma dan tidak mau menempati rumah.

Busyro meminta warga menerima bencana itu dan menganggapnya sebagai ujian. ”Ada yang tahu Nabi Ayyub yang diberi ujian oleh Allah? Nabi Ayyub saat jadi pemimpin dan mencapai puncaknya memimpin masyarakat diberi cobaan oleh Allah. Hartanya habis semua,” katanya.

Tidak hanya itu, Nabi Ayyub, jelas Busyro, juga diberi cobaan dengan penyakit. Badannya hancur. Warga yang awalnya suka pergi meninggalkannya. Namun, ujian itu dijalani dengan sabar. Berkat doa-doanya, Allah menyembuhkan penyakit tersebut.

Baca Juga :  Bangun Semangat Kerja ASN dengan Halalbihalal

Busyro mengajak warga meneladani sikap Nabi Ayyub saat diberi ujian. Mulai orang tua, dewasa, hingga anak-anak mendengarkan penyampaian mantan ketua DPRD itu. Para korban bencana diminta bersabar dan tidak memikirkan harta benda yang hilang.

Bupati dua periode tersebut meminta warga terdampak gempa bumi kembali menjalani aktivitas seperti biasa. ”Yang kerja kembali kerja. Anak-anak yang sekolah ayo sekolah lagi,” ajak suami Nurfitriana itu.

Kepada wartawan, Busyro menyatakan pemerintah memberikan perhatian penuh kepada korban gempa. Sebagian bantuan sudah tiba. Namun, ada yang tidak bisa dibawa karena alat transportasi sangat terbatas.

Untuk tiga korban meninggal; yakni H. Nadhar, Nuril Kamiliyah, dan Suhamar; Pemkab Sumenep memberikan bantuan uang Rp 2,5 juta. Sementara 10 korban luka berat mendapat uang Rp 1,5 juta.

Baca Juga :  Jalani Isolasi di RS, Nurfitriana Ingatkan Warga Terapkan Prokes

Tujuh orang berasal dari Desa Prambanan. Yakni, Muzawiyah, Buhama, Rahmani, Syarwini, Nasiya, Samsu, dan Zusida. Sementara dua korban lainnya dari Desa Pancor. Yakni, Aswiyah dan Suatip. Kemudian, Rihamidari merupakan warga Desa Nyamplong. (c2) 

 

SUMENEP – Bupati Sumenep A. Busyro Karim mengunjungi korban gempa di Kecamatan Nonggunong dan Gayam, Pulau Sapudi, Kamis (18/10). Salah satunya di Dusun Jam Busok, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam.

Selain memberikan bantuan, politikus PKB itu menghibur korban di posko pengungsian. Pasalnya, gempa berkekuatan magnitudo 6,4 itu membuat warga trauma dan tidak mau menempati rumah.

Busyro meminta warga menerima bencana itu dan menganggapnya sebagai ujian. ”Ada yang tahu Nabi Ayyub yang diberi ujian oleh Allah? Nabi Ayyub saat jadi pemimpin dan mencapai puncaknya memimpin masyarakat diberi cobaan oleh Allah. Hartanya habis semua,” katanya.


Tidak hanya itu, Nabi Ayyub, jelas Busyro, juga diberi cobaan dengan penyakit. Badannya hancur. Warga yang awalnya suka pergi meninggalkannya. Namun, ujian itu dijalani dengan sabar. Berkat doa-doanya, Allah menyembuhkan penyakit tersebut.

Baca Juga :  Jalani Isolasi di RS, Nurfitriana Ingatkan Warga Terapkan Prokes

Busyro mengajak warga meneladani sikap Nabi Ayyub saat diberi ujian. Mulai orang tua, dewasa, hingga anak-anak mendengarkan penyampaian mantan ketua DPRD itu. Para korban bencana diminta bersabar dan tidak memikirkan harta benda yang hilang.

Bupati dua periode tersebut meminta warga terdampak gempa bumi kembali menjalani aktivitas seperti biasa. ”Yang kerja kembali kerja. Anak-anak yang sekolah ayo sekolah lagi,” ajak suami Nurfitriana itu.

Kepada wartawan, Busyro menyatakan pemerintah memberikan perhatian penuh kepada korban gempa. Sebagian bantuan sudah tiba. Namun, ada yang tidak bisa dibawa karena alat transportasi sangat terbatas.

Untuk tiga korban meninggal; yakni H. Nadhar, Nuril Kamiliyah, dan Suhamar; Pemkab Sumenep memberikan bantuan uang Rp 2,5 juta. Sementara 10 korban luka berat mendapat uang Rp 1,5 juta.

Baca Juga :  Nyaris Ambruk, Jembatan Bahayakan Warga

Tujuh orang berasal dari Desa Prambanan. Yakni, Muzawiyah, Buhama, Rahmani, Syarwini, Nasiya, Samsu, dan Zusida. Sementara dua korban lainnya dari Desa Pancor. Yakni, Aswiyah dan Suatip. Kemudian, Rihamidari merupakan warga Desa Nyamplong. (c2) 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/