alexametrics
22 C
Madura
Monday, July 4, 2022

Waris Bersyukur Biaya Operasi Usus Buntu Ditanggung JKN-KIS

SUMENEP – Penyakit apendisitis atau penyakit usus buntu merupakan penyakit peradangan yang terjadi pada usus buntu atau apendiks. Jika kambuh, penderita dapat merasa nyeri di perut kanan bagian bawah. Jika berlanjut, penderita dapat mengalami rasa nyeri hebat disertai mual dan demam.

Penyakit inilah yang sempat dialami Waris, 41, warga Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep. Ayah satu anak itu menceritakan penyakit yang dialaminya hingga mengharuskan dirinya menjalani operasi di salah satu rumah sakit di Kabupaten Sumenep.

”Waktu kena (radang usus buntu, Red) perut ini rasanya sakit kayak kembung dan nyeri. Terus badan demam. Tapi, saya biarkan. Tidak ke dokter karena saya kira masuk angin atau flu saja. Lama kelamaan, saya tidak kuat menahan sakit dan hampir pingsan. Akhirnya saya dibawa ke rumah sakit,” ucapnya.

Baca Juga :  Jangan Tunggu Sakit Parah untuk Jadi Peserta JKN-KIS

Saat di rumah sakit, sambung Waris, hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa dia menderita penyakit radang usus buntu. Karena itu, harus dilakukan tindakan operasi agar tidak semakin memburuk. ”Saat disuruh operasi, saya takut. Sebab, nanti pasti dibius dan disuntik. Supaya sembuh, saya beranikan untuk operasi,” ujarnya.

Waris mengaku bersyukur operasinya lancar. Apalagi, tidak mengeluarkan biaya sepeser pun. Sebab, dia telah terdaftar sebagai peserta penerima bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN). Semua biaya operasi ditanggung BPJS Kesehatan.

”Alhamdulillah operasinya gratis. Sebab, ditanggung BPJS (JKN-KIS). Pelayanan yang diberikan pihak rumah sakit juga sangat baik, penanganannya cepat. Kalau bayar sendiri ya pasti berat. Wong saya hanya tukang bangunan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bolak-Balik Berobat Sakit Lambung, Beban Hadi Diringankan JKN-KIS

Waris berharap, program JKN-KIS semakin baik dan berkesinambungan. Sebab, saat ini JKN-KIS menjadi tumpuan masyarakat untuk dapat mengakses pelayanan kesehatan. ”Bagi orang mampu, tidak ada BPJS (JKN-KIS) masih bisa berobat. Tapi kalau untuk orang menengah ke bawah atau yang pas-pasan pasti sulit,” pungkasnya. (*/par)

SUMENEP – Penyakit apendisitis atau penyakit usus buntu merupakan penyakit peradangan yang terjadi pada usus buntu atau apendiks. Jika kambuh, penderita dapat merasa nyeri di perut kanan bagian bawah. Jika berlanjut, penderita dapat mengalami rasa nyeri hebat disertai mual dan demam.

Penyakit inilah yang sempat dialami Waris, 41, warga Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep. Ayah satu anak itu menceritakan penyakit yang dialaminya hingga mengharuskan dirinya menjalani operasi di salah satu rumah sakit di Kabupaten Sumenep.

”Waktu kena (radang usus buntu, Red) perut ini rasanya sakit kayak kembung dan nyeri. Terus badan demam. Tapi, saya biarkan. Tidak ke dokter karena saya kira masuk angin atau flu saja. Lama kelamaan, saya tidak kuat menahan sakit dan hampir pingsan. Akhirnya saya dibawa ke rumah sakit,” ucapnya.

Baca Juga :  Rayakan HKN, Puskesmas Pasongsongan Gelorakan 3M dan Bagi Masker


Saat di rumah sakit, sambung Waris, hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa dia menderita penyakit radang usus buntu. Karena itu, harus dilakukan tindakan operasi agar tidak semakin memburuk. ”Saat disuruh operasi, saya takut. Sebab, nanti pasti dibius dan disuntik. Supaya sembuh, saya beranikan untuk operasi,” ujarnya.

Waris mengaku bersyukur operasinya lancar. Apalagi, tidak mengeluarkan biaya sepeser pun. Sebab, dia telah terdaftar sebagai peserta penerima bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN). Semua biaya operasi ditanggung BPJS Kesehatan.

”Alhamdulillah operasinya gratis. Sebab, ditanggung BPJS (JKN-KIS). Pelayanan yang diberikan pihak rumah sakit juga sangat baik, penanganannya cepat. Kalau bayar sendiri ya pasti berat. Wong saya hanya tukang bangunan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kasus Dugaan Tipikor di Kantor BRI Pragaan Tunggu Keterangan Ahli

Waris berharap, program JKN-KIS semakin baik dan berkesinambungan. Sebab, saat ini JKN-KIS menjadi tumpuan masyarakat untuk dapat mengakses pelayanan kesehatan. ”Bagi orang mampu, tidak ada BPJS (JKN-KIS) masih bisa berobat. Tapi kalau untuk orang menengah ke bawah atau yang pas-pasan pasti sulit,” pungkasnya. (*/par)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Putuskan Gelar MTQ Jatim secara Offline

Hanya Kualitas 1 Bisa Masuk Gudang Garam

Akan Berlakukan Satu Jalur Suramadu

Ra Latif Target Menang 80 Persen

Artikel Terbaru

/