alexametrics
21 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Ratusan Nelayan Lurug Satpolair

SUMENEP – Ratusan nelayan dari berbagai kecamatan lurug kantor Satuan Polisi Air (Satpolair) Polres Sumenep di Kalianget kemarin siang (18/2). Mereka memprotes ketidaktegasan polisi dalam menangani pengguna sarkak. Mereka menangkap dan menyerahkan empat nelayan lengkap dengan barang bukti.

Ratusan nelayan itu bersandar di Dermaga Kalianget sekitar pukul 12.00. Mereka menggunakan 20 perahu. Saat tiba di pinggir pantai, nelayan langsung berteriak-teriak hendak membakar perahu beserta alat tangkap sarkak (pukat tarik penggaruk) yang baru saja diamankan.

Antara aparat kepolisian dan para nelayan berseteru. Para nelayan merasa tidak dilindungi oleh aparat, terutama polair. Mereka menyebut selama ini nelayan yang menggunakan sarkak dibiarkan beroperasi tanpa tindakan tegas.

”Selama ini tidak ada razia laut oleh kepolisian. Baru setelah kami menangkap sendiri nelayan yang menggunakan sarkak, polisi menggelar operasi,” kata Amir, 55, nelayan asal Poteran, Kecamatan Talango, yang kemarin siang ikut berdemo.

Protes juga disampaikan Muhammad, 45, nelayan asal Desa Longos, Kecamatan Gapura. Dia memprotes karena penggunaan sarkak merusak ekosistem laut. Termasuk bibit-bibit ikan rusak gara-gara alat tersebut.

Baca Juga :  Program Sehat Nelayan Buram

”Polisi enak setiap tanggal 2 dapat gaji. Tapi, kami nelayan hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan,” katanya. ”Kalau ikan kami habis gara-gara sarkak, mau cari nafkah di mana kami ini,” jelasnya.

Protes juga disampaikan Suhram, 60, nelayan asal Kecamatan Talango. Pria yang ikut menangkap empat nelayan pengguna sarkak itu mengaku berang lantaran selama ini sering tidak dapat ikan. Kalaupun dapat tangkapan, jumlahnya tidak seberapa. Jauh berbanding terbalik sebelum ada pengoperasian sarkak di Sumenep.

”Akibat penggunaan sarkak, bibit ikan mati. Akhirnya, orang Talango tidak dapat ikan. Terpaksa kami menangkap nelayan yang menggunakan sarkak,” paparnya. ”Saya tidak melarang mereka kerja, tapi harus sama alat yang digunakan. Saya pakai jaring, mereka juga harus pakai jaring. Tapi kenyataannya, mereka memakai sarkak,” imbuhnya.

Demonstrasi oleh ratusan nelayan berlangsung sekitar satu jam. Mereka mendesak aparat kepolisian bertindak tegas terhadap pengguna sarkak. Jika tidak, perahu milik nelayan pengguna sarkak yang sudah disita oleh polisi akan dibakar.

Baca Juga :  Sindir Pemerintah, Warga Mancing di Jalan

Wakapolres Sumenep Kompol Sutarno turun tangan menenangkan ratusan nelayan yang tersulut emosi. Bahkan dia sempat memarahi Kasatpolair AKP Ludwi Yarsa karena kurang sigap mengatasi nelayan yang terbakar amarah.

Perwira menengah dengan satu melati di pundak itu memimpin langsung negosiasi tertutup dengan para nelayan. Setelah ada kesepakatan, barulah para nelayan bubar dan pulang dengan perahu masing-masing.

”Tadi satpolair menerima penyerahan nelayan dan perahu yang diindikasikan ada pelanggaran terkait alat tangkap,” kata Sutarno usai bernegosiasi dengan para nelayan.

Untuk mengamankan jalannya protes nelayan, ada sekitar 70 polisi yang dikerahkan. Meski sempat terjadi gesekan, petugas mampu meredam hingga kondisi kembali kondusif. ”Sekitar satu jam negosiasi ataupun dialog,” tegasnya.

Sementara itu, empat nelayan beserta barang bukti tetap diamankan di markas satpolair di Kalianget. Selanjutnya, aparat kepolisian akan melakukan pemeriksaan. Kemarin siang empat nelayan itu tidak sempat diperiksa.

”Yang diamankan perahu, alat tangkap, dan rajungan hasil tangkapan,” tegas Sutarno. ”Kami akan menunggu pemeriksaan sesuai prosedur,” tukasnya. (mam/hud)

 

SUMENEP – Ratusan nelayan dari berbagai kecamatan lurug kantor Satuan Polisi Air (Satpolair) Polres Sumenep di Kalianget kemarin siang (18/2). Mereka memprotes ketidaktegasan polisi dalam menangani pengguna sarkak. Mereka menangkap dan menyerahkan empat nelayan lengkap dengan barang bukti.

Ratusan nelayan itu bersandar di Dermaga Kalianget sekitar pukul 12.00. Mereka menggunakan 20 perahu. Saat tiba di pinggir pantai, nelayan langsung berteriak-teriak hendak membakar perahu beserta alat tangkap sarkak (pukat tarik penggaruk) yang baru saja diamankan.

Antara aparat kepolisian dan para nelayan berseteru. Para nelayan merasa tidak dilindungi oleh aparat, terutama polair. Mereka menyebut selama ini nelayan yang menggunakan sarkak dibiarkan beroperasi tanpa tindakan tegas.


”Selama ini tidak ada razia laut oleh kepolisian. Baru setelah kami menangkap sendiri nelayan yang menggunakan sarkak, polisi menggelar operasi,” kata Amir, 55, nelayan asal Poteran, Kecamatan Talango, yang kemarin siang ikut berdemo.

Protes juga disampaikan Muhammad, 45, nelayan asal Desa Longos, Kecamatan Gapura. Dia memprotes karena penggunaan sarkak merusak ekosistem laut. Termasuk bibit-bibit ikan rusak gara-gara alat tersebut.

Baca Juga :  Banyak Bantuan, Pokyan Harus Terdaftar

”Polisi enak setiap tanggal 2 dapat gaji. Tapi, kami nelayan hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan,” katanya. ”Kalau ikan kami habis gara-gara sarkak, mau cari nafkah di mana kami ini,” jelasnya.

Protes juga disampaikan Suhram, 60, nelayan asal Kecamatan Talango. Pria yang ikut menangkap empat nelayan pengguna sarkak itu mengaku berang lantaran selama ini sering tidak dapat ikan. Kalaupun dapat tangkapan, jumlahnya tidak seberapa. Jauh berbanding terbalik sebelum ada pengoperasian sarkak di Sumenep.

”Akibat penggunaan sarkak, bibit ikan mati. Akhirnya, orang Talango tidak dapat ikan. Terpaksa kami menangkap nelayan yang menggunakan sarkak,” paparnya. ”Saya tidak melarang mereka kerja, tapi harus sama alat yang digunakan. Saya pakai jaring, mereka juga harus pakai jaring. Tapi kenyataannya, mereka memakai sarkak,” imbuhnya.

Demonstrasi oleh ratusan nelayan berlangsung sekitar satu jam. Mereka mendesak aparat kepolisian bertindak tegas terhadap pengguna sarkak. Jika tidak, perahu milik nelayan pengguna sarkak yang sudah disita oleh polisi akan dibakar.

Baca Juga :  Pemkab Sumenep Promosikan Wisata kepada Pengurus Perbamida

Wakapolres Sumenep Kompol Sutarno turun tangan menenangkan ratusan nelayan yang tersulut emosi. Bahkan dia sempat memarahi Kasatpolair AKP Ludwi Yarsa karena kurang sigap mengatasi nelayan yang terbakar amarah.

Perwira menengah dengan satu melati di pundak itu memimpin langsung negosiasi tertutup dengan para nelayan. Setelah ada kesepakatan, barulah para nelayan bubar dan pulang dengan perahu masing-masing.

”Tadi satpolair menerima penyerahan nelayan dan perahu yang diindikasikan ada pelanggaran terkait alat tangkap,” kata Sutarno usai bernegosiasi dengan para nelayan.

Untuk mengamankan jalannya protes nelayan, ada sekitar 70 polisi yang dikerahkan. Meski sempat terjadi gesekan, petugas mampu meredam hingga kondisi kembali kondusif. ”Sekitar satu jam negosiasi ataupun dialog,” tegasnya.

Sementara itu, empat nelayan beserta barang bukti tetap diamankan di markas satpolair di Kalianget. Selanjutnya, aparat kepolisian akan melakukan pemeriksaan. Kemarin siang empat nelayan itu tidak sempat diperiksa.

”Yang diamankan perahu, alat tangkap, dan rajungan hasil tangkapan,” tegas Sutarno. ”Kami akan menunggu pemeriksaan sesuai prosedur,” tukasnya. (mam/hud)

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/