alexametrics
21 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Ancam Adukan Proyek Saluran Air ke APH

SUMENEP – Proyek saluran air dan plengsengan di Dusun Guder Laok, Desa Nyamplong, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi, yang diduga dikerjakan asal-asalan bakal berlanjut. Ahmad Afandi, salah satu tokoh pemuda meminta aparat penegak hukum (APH) turun tangan. Bahkan, dia berencana mengadukan masalah tersebut.

            Dia menilai, proyek yang memakan anggaran sekitar Rp 75 juta itu bermasalah. Salah satu indikasinya, tidak menggunakan pasir hitam. ”Kami dan beberapa masyarakat sedang mengumpulkan bukti-bukti awal sebagai langkah awal untuk bersurat atau mengadu ke penegak hukum,” kata Afandi Kamis (18/1).

            Saat pihaknya kroscek ke lokasi, tidak ada konsultan pengawas. Dengan begitu, pelaksana tak ada yang mengontrol. Hal itu berpotensi terjadinya penyelewengan. Karena material yang digunakan tidak sesuai, dia memprediksi proyek tersebut tidak akan bertahan lama. Dia berjanji dalam waktu dekat surat itu akan dilayangkan.

Baca Juga :  Pasutri Adukan RSIA Esto Ebu ke IDI

Selain itu, proyek yang diusulkan lewat wakil rakyat itu molor. Meski dianggarkan  pada 2017 hingga awal 2018, proyek tersebut masih dikerjakan. Pihak pelaksana berdalih sering hujan, sehingga menganggu pelaksanaan pembangunan. Namun, hal itu tetap tidak bisa dibenarkan.

            Kepala Desa (Kades) Nyamplong Mutawa membantah proyek itu dikerjakan secara asal-asalan. Material yang digunakan sudah sesuai dengan rencana anggaran biaya (RAB), termasuk penggunakan pasir hitam. ”Silakan kroscek, pengerjaan sudah sesuai dengan ketentuan. Ini uang amanah, tidak mungkin dikerjakan main-main,” katanya.

SUMENEP – Proyek saluran air dan plengsengan di Dusun Guder Laok, Desa Nyamplong, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi, yang diduga dikerjakan asal-asalan bakal berlanjut. Ahmad Afandi, salah satu tokoh pemuda meminta aparat penegak hukum (APH) turun tangan. Bahkan, dia berencana mengadukan masalah tersebut.

            Dia menilai, proyek yang memakan anggaran sekitar Rp 75 juta itu bermasalah. Salah satu indikasinya, tidak menggunakan pasir hitam. ”Kami dan beberapa masyarakat sedang mengumpulkan bukti-bukti awal sebagai langkah awal untuk bersurat atau mengadu ke penegak hukum,” kata Afandi Kamis (18/1).

            Saat pihaknya kroscek ke lokasi, tidak ada konsultan pengawas. Dengan begitu, pelaksana tak ada yang mengontrol. Hal itu berpotensi terjadinya penyelewengan. Karena material yang digunakan tidak sesuai, dia memprediksi proyek tersebut tidak akan bertahan lama. Dia berjanji dalam waktu dekat surat itu akan dilayangkan.

Baca Juga :  Volume Pemeliharaan Jalan Sonok Berkurang

Selain itu, proyek yang diusulkan lewat wakil rakyat itu molor. Meski dianggarkan  pada 2017 hingga awal 2018, proyek tersebut masih dikerjakan. Pihak pelaksana berdalih sering hujan, sehingga menganggu pelaksanaan pembangunan. Namun, hal itu tetap tidak bisa dibenarkan.

            Kepala Desa (Kades) Nyamplong Mutawa membantah proyek itu dikerjakan secara asal-asalan. Material yang digunakan sudah sesuai dengan rencana anggaran biaya (RAB), termasuk penggunakan pasir hitam. ”Silakan kroscek, pengerjaan sudah sesuai dengan ketentuan. Ini uang amanah, tidak mungkin dikerjakan main-main,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Ojung Bisa Menjadi Festival Kebudayaan

Perpusda Bangkalan Tak Menambah Buku

Puluhan Ribu Warga Belum Bisa Baca Tulis

Artikel Terbaru

/