alexametrics
22.8 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

Intelektual Muslim Harus Mencontoh Sifat Nabi

SUMENEP – Kandidat Doktor Pendidikan Islam Multikultural Unisma Mufiqur Rahman menjadi pembicara pada pembukaan LK-1 HMI Cabang Sumenep Komisariat Ibnu Kholdun, Prenduan, Sabtu malam (17/11). Pada kegiatan itu, dia berbicara perihal bagaimana mencetak intelektual muslim dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Alumnus S-1 Institut Dirosat Islamiah Al-Amaien (IDIA), Prenduan, tersebut mengatakan, seorang muslim harus bersikap inklusif. Seorang muslim harus terbuka dengan segala kemajuan zaman. Sikap itu telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, para sahabat, hingga masa kekhalifahan Abbasiyah.

“Kita harus membaca kembali bagaimana Rasulullah SAW meminta tawanan perang badar menjadi guru baca tulis untuk kaum muslimin. Bagaimana Umar (Khalifah Umar bin Khattab) membebaskan tanah masyarakat Qibty yang nasrani setelah dikuasinya,” tuturnya.

Baca Juga :  Seleksi Dirut PDAM Terbuka untuk Umum

“Kemudian bagaimana Al-Makmun pada Dinasti Abbasiyah membuka keran ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan naskah Persia dan Yunani. Sikap inklusivitas mestinya menjadi roh gerakan pendidikan Islam hari ini dengan membuka diri,” tambahnya.

Kemudian, dosen IAI Al-Khairat, Pamekasan, ini menegaskan, intelektual muslim memiliki ciri khusus. Setidaknya termanives dalam sifat para rasul. Seorang intelektual muslim harus memiliki sifat shiddiq,  amanah tabligh, dan fathoban.

“Seorang intelektual muslim tidak dapat kompromi dengan intelektualitasnya. Mereka tidak dapat dibayar untuk mengkhianati ilmunya seperti banyak ilmuan hari ini yang bisa dibeli dan diperalat,” tegas alumnus UINSU kepada radarmadura.id, Minggu (18/11).

- Advertisement -

SUMENEP – Kandidat Doktor Pendidikan Islam Multikultural Unisma Mufiqur Rahman menjadi pembicara pada pembukaan LK-1 HMI Cabang Sumenep Komisariat Ibnu Kholdun, Prenduan, Sabtu malam (17/11). Pada kegiatan itu, dia berbicara perihal bagaimana mencetak intelektual muslim dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Alumnus S-1 Institut Dirosat Islamiah Al-Amaien (IDIA), Prenduan, tersebut mengatakan, seorang muslim harus bersikap inklusif. Seorang muslim harus terbuka dengan segala kemajuan zaman. Sikap itu telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, para sahabat, hingga masa kekhalifahan Abbasiyah.

“Kita harus membaca kembali bagaimana Rasulullah SAW meminta tawanan perang badar menjadi guru baca tulis untuk kaum muslimin. Bagaimana Umar (Khalifah Umar bin Khattab) membebaskan tanah masyarakat Qibty yang nasrani setelah dikuasinya,” tuturnya.

Baca Juga :  Gali Sejarah di Kota Tua Kalianget

“Kemudian bagaimana Al-Makmun pada Dinasti Abbasiyah membuka keran ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan naskah Persia dan Yunani. Sikap inklusivitas mestinya menjadi roh gerakan pendidikan Islam hari ini dengan membuka diri,” tambahnya.

Kemudian, dosen IAI Al-Khairat, Pamekasan, ini menegaskan, intelektual muslim memiliki ciri khusus. Setidaknya termanives dalam sifat para rasul. Seorang intelektual muslim harus memiliki sifat shiddiq,  amanah tabligh, dan fathoban.

“Seorang intelektual muslim tidak dapat kompromi dengan intelektualitasnya. Mereka tidak dapat dibayar untuk mengkhianati ilmunya seperti banyak ilmuan hari ini yang bisa dibeli dan diperalat,” tegas alumnus UINSU kepada radarmadura.id, Minggu (18/11).

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/