alexametrics
21 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Muhammadiyah dan NU Waspadai Ekstremisme di Madura

SUMENEP – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumenep bekerja sama dengan Komunitas Cangkir Opini menggelar Ngopi Santuy Bersama Mahasiswa Madura. Acara yang mengusung tajuk Islam Tengahan sebagai Jalan Membangun Toleransi ini dilaksanakan di Hotel de Baghraf Sumenep Minggu (17/10).

Diikuti 50 mahasiswa dari empat kabupaten di Madura, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Kegiatan ini bertujuan menguatkan pemahaman beragama yang moderat. Suatu paham keagamaan yang berpijak pada nilai-nilai humanisme dan anti kekerasan.

Ketua Umum PC IMM Madura Bagaz Arrozi mengatakan, ngopi santuy ini diharapkan bisa memberikan penegasan, khususnya bagi masyarakat Madura, bagaimana Islam diterapkan. Baik sebagai ajaran maupun pedoman dalam kehidupan sosial.

”Kami sangat berharap kegiatan semacam ini terus terselenggara di tempat-tempat yang rawan dengan ekstremisme agama,” kata Bagaz.

Acara yang juga digelar via Zoom Meeting ini menghadirkan mantan narapidana (eks napi) terorisme Nasir Abbas. Dia menyampaikan, di Madura sudah ada gerakan ekstremisme yang digerakkan oleh salah satu tokoh ekstremis dari Solo yakni Abu Husna.

Baca Juga :  Baru Datang dari Malaysia, Wajib Sodorkan Kartu Kuning

”Abu Husna adalah tokoh ekstremis yang sering kali memberikan pengajian-pengajian rutin kepada masyarakat di Madura,” terang pria yang pernah aktif sebagai mahasiswa di Afganistan ini.

Nasir Abbas meminta, khususnya kepada generasi muda di Madura agar senantiasa menjaga keberlangsungan Islam rahmatan li al-‘alamin sebagaimana tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merawatnya. ”Pemuda dan masyarakat harus tahu bahwa di Madura sudah ada kelompok-kelompok ekstrem seperti Jaringan Ansharut Daulah (JAD). Khusus di Sumenep, jaringan yang masuk kelompok ekstrem yaitu Jaringan Ansharut Khilafah (JAK),” paparnya.

Selain itu, ngopi santuy ini juga mengundang dua tokoh organisasi besar Muhammadiyah dan NU sebagai pembicara. Yakni Ahmad Hudaifah dari Muhammadiyah Sumenep dan K. Hantok Sudarto dari NU Sumenep.

Baca Juga :  Kita Semua Ingin Madura Bangkit

Hudaifah menyampaikan bahwa pemahaman Islam moderat harus tetap diterapkan dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Menurutnya, apa pun alasannya, agama Islam tidak akan melabrak batas-batas dan nilai kemanusiaan.

”Justru agama harus dijadikan pijakan untuk menguatkan nilai kemanusiaan kita,” katanya.

Sementara K. Hantok Sudarto dalam paparannya mengatakan, moderasi beragama adalah memahami agama dengan utuh dan pemikiran yang adil. Tidak melebih-lebihkan, apalagi memaknai salah satu ajaran agama seperti jihad sebagai jalan untuk menyakiti orang lain.

”Kegiatan, baik diskusi atau apa pun bentuknya, yang bertujuan mengedukasi masyarakat dalam aspek keagamaan, perlu digaungkan sesering mungkin. Dengan begitu, masyarakat kita tidak gampang terpengaruh dengan paham keagamaan yang ekstrem dan keras,” ucapnya. (c3/dry)

SUMENEP – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumenep bekerja sama dengan Komunitas Cangkir Opini menggelar Ngopi Santuy Bersama Mahasiswa Madura. Acara yang mengusung tajuk Islam Tengahan sebagai Jalan Membangun Toleransi ini dilaksanakan di Hotel de Baghraf Sumenep Minggu (17/10).

Diikuti 50 mahasiswa dari empat kabupaten di Madura, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Kegiatan ini bertujuan menguatkan pemahaman beragama yang moderat. Suatu paham keagamaan yang berpijak pada nilai-nilai humanisme dan anti kekerasan.

Ketua Umum PC IMM Madura Bagaz Arrozi mengatakan, ngopi santuy ini diharapkan bisa memberikan penegasan, khususnya bagi masyarakat Madura, bagaimana Islam diterapkan. Baik sebagai ajaran maupun pedoman dalam kehidupan sosial.

”Kami sangat berharap kegiatan semacam ini terus terselenggara di tempat-tempat yang rawan dengan ekstremisme agama,” kata Bagaz.

Acara yang juga digelar via Zoom Meeting ini menghadirkan mantan narapidana (eks napi) terorisme Nasir Abbas. Dia menyampaikan, di Madura sudah ada gerakan ekstremisme yang digerakkan oleh salah satu tokoh ekstremis dari Solo yakni Abu Husna.

Baca Juga :  Jelang Ramadan, Fokus Penertiban Handak-Prostitusi

”Abu Husna adalah tokoh ekstremis yang sering kali memberikan pengajian-pengajian rutin kepada masyarakat di Madura,” terang pria yang pernah aktif sebagai mahasiswa di Afganistan ini.

Nasir Abbas meminta, khususnya kepada generasi muda di Madura agar senantiasa menjaga keberlangsungan Islam rahmatan li al-‘alamin sebagaimana tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merawatnya. ”Pemuda dan masyarakat harus tahu bahwa di Madura sudah ada kelompok-kelompok ekstrem seperti Jaringan Ansharut Daulah (JAD). Khusus di Sumenep, jaringan yang masuk kelompok ekstrem yaitu Jaringan Ansharut Khilafah (JAK),” paparnya.

Selain itu, ngopi santuy ini juga mengundang dua tokoh organisasi besar Muhammadiyah dan NU sebagai pembicara. Yakni Ahmad Hudaifah dari Muhammadiyah Sumenep dan K. Hantok Sudarto dari NU Sumenep.

Baca Juga :  Baru Datang dari Malaysia, Wajib Sodorkan Kartu Kuning

Hudaifah menyampaikan bahwa pemahaman Islam moderat harus tetap diterapkan dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Menurutnya, apa pun alasannya, agama Islam tidak akan melabrak batas-batas dan nilai kemanusiaan.

”Justru agama harus dijadikan pijakan untuk menguatkan nilai kemanusiaan kita,” katanya.

Sementara K. Hantok Sudarto dalam paparannya mengatakan, moderasi beragama adalah memahami agama dengan utuh dan pemikiran yang adil. Tidak melebih-lebihkan, apalagi memaknai salah satu ajaran agama seperti jihad sebagai jalan untuk menyakiti orang lain.

”Kegiatan, baik diskusi atau apa pun bentuknya, yang bertujuan mengedukasi masyarakat dalam aspek keagamaan, perlu digaungkan sesering mungkin. Dengan begitu, masyarakat kita tidak gampang terpengaruh dengan paham keagamaan yang ekstrem dan keras,” ucapnya. (c3/dry)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/