alexametrics
28.5 C
Madura
Saturday, August 13, 2022

Gara-Gara Api Ini Warga Penasaran Sampai Terobos  Garis Polisi

SUMENEP – Sebidang tanah pertanian yang dikelola Moh. Saleh menyita perhatian warga. Pasalnya, di tanah di Dusun Kebun Kelapa, Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget, Sumenep, itu muncul fenomena aneh yang disebut lumpur api. Warga yang penasaran pun berdatangan ke lahan yang dikelola pria 67 tahun asal Dusun Asem Nunggal, Desa Kalianget Barat, itu.

Warga menyebut lumpur api karena muncul hawa panas dari dalam tanah. Bahkan, dari beberapa titik di lokasi tersebut bisa digunakan untuk membakar daun-daun kering dan kayu yang berada di atas tanah. Pengamatan Radarmadura.id, hanya butuh waktu sekitar 30 detik untuk membakar daun.

Lokasinya yang hanya sekitar 50 meter dari jalan raya membuat fenomena ini menjadi perhatian warga. Meski sudah diberi garis polisi, warga terus berdatangan untuk melihat fenomena tersebut dari dekat.

Saleh yang kali pertama menemukan fenomena tersebut sekitar satu bulan yang lalu. Tetapi, dia tidak langsung melaporkan karena mengira hal itu kejadian biasa. Karena tak kunjung dingin, Saleh akhirnya melapor ke polisi dan Pemkab Sumenep pada Senin (15/10).

Baca Juga :  Genangan Bisa Timbulkan Penyakit

Awalnya dia mencari rumput. Karena panas, lalu dia berteduh. Saat itu dia menginjak tanah yang mengeluarkan hawa panas itu. ”Saya kira itu sudah biasa. Tapi saya tunggu sampai sebulan kok tetap panas,” katanya, Rabu (17/10).

Beberapa warga yang datang mencoba untuk meletakkan daun kering di atas tanah tersebut. Alhasil, hanya butuh waktu beberapa detik sampai daun tersebut terbakar. Bahkan, Saleh juga mengaku pernah mencoba memasak telur dia tas tanah tersebut. Telur tersebut benar-benar matang.

Ketika ditusuk menggunakan kayu, tanah yang berbentuk pasir itu mengeluarkan gas bercampur asap seperti air mendidih. Asap yang keluar dari dalam tanah tersebut juga sedikit berbau belerang.

Kabag Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Setkab Sumenep Abd. Kahir mengaku belum mengetahui penyebab fenomena lumpur api tersebut. Dia menduga, asap dan hawa panas itu berasal dari batu bara di dalam tanah. Lokasi tersebut dahulu memang digunakan sebagai lokasi pembuangan limbah batu bara kereta api pada masa penjajahan Belanda.

”Di sana memang tempat penumpukan batu bara setelah digunakan kereta. Juga tempat pembuangan limbah batu bara untuk garam cetak waktu zaman Belanda,” katanya.

Baca Juga :  BRI Komitmen Dukung Program Pemkab Sumenep

Kahir mengaku belum mengetahui pasti kandungan gas yang keluar dari dalam tanah. Hanya, dia memastikan bahwa gas tersebut sedikit mengandung sulfur. Selain itu, sebaran panas dari tanah di lokasi itu mencapai luas sekitar 100 meter persegi atau sekitar 20×50 meter.

Dia berencana untuk meminta bantuan Badan Geologi Bandung untuk mencari tahu penyebab fenomena yang baru kali pertama terjadi di Sumenep ini. ”Saat kami ke lokasi dan melakukan percobaan, kami menyiramkan air dan air itu seperti mendidih. Kemudian keluar asap hitam berbau belerang,” jelasnya.

Sementara dia akan meminta bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep untuk melakukan pembasahan. Selain itu, dia meminta masyarakat tidak memasuki area yang sudah dipasangi garis polisi. Sebab, Kahir menduga ada rongga yang cukup luas di dalam tanah tersebut.

Dia khawatir ada warga yang terjebak dalam lubang panas itu. Dia juga meminta agar warga tidak membakar atau memasak makanan di lokasi lumpur api.

SUMENEP – Sebidang tanah pertanian yang dikelola Moh. Saleh menyita perhatian warga. Pasalnya, di tanah di Dusun Kebun Kelapa, Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget, Sumenep, itu muncul fenomena aneh yang disebut lumpur api. Warga yang penasaran pun berdatangan ke lahan yang dikelola pria 67 tahun asal Dusun Asem Nunggal, Desa Kalianget Barat, itu.

Warga menyebut lumpur api karena muncul hawa panas dari dalam tanah. Bahkan, dari beberapa titik di lokasi tersebut bisa digunakan untuk membakar daun-daun kering dan kayu yang berada di atas tanah. Pengamatan Radarmadura.id, hanya butuh waktu sekitar 30 detik untuk membakar daun.

Lokasinya yang hanya sekitar 50 meter dari jalan raya membuat fenomena ini menjadi perhatian warga. Meski sudah diberi garis polisi, warga terus berdatangan untuk melihat fenomena tersebut dari dekat.


Saleh yang kali pertama menemukan fenomena tersebut sekitar satu bulan yang lalu. Tetapi, dia tidak langsung melaporkan karena mengira hal itu kejadian biasa. Karena tak kunjung dingin, Saleh akhirnya melapor ke polisi dan Pemkab Sumenep pada Senin (15/10).

Baca Juga :  Drama Pangereng Pangantan Bennosan Sukses Pikat Pengunjung CFD JPRM

Awalnya dia mencari rumput. Karena panas, lalu dia berteduh. Saat itu dia menginjak tanah yang mengeluarkan hawa panas itu. ”Saya kira itu sudah biasa. Tapi saya tunggu sampai sebulan kok tetap panas,” katanya, Rabu (17/10).

Beberapa warga yang datang mencoba untuk meletakkan daun kering di atas tanah tersebut. Alhasil, hanya butuh waktu beberapa detik sampai daun tersebut terbakar. Bahkan, Saleh juga mengaku pernah mencoba memasak telur dia tas tanah tersebut. Telur tersebut benar-benar matang.

Ketika ditusuk menggunakan kayu, tanah yang berbentuk pasir itu mengeluarkan gas bercampur asap seperti air mendidih. Asap yang keluar dari dalam tanah tersebut juga sedikit berbau belerang.

- Advertisement -

Kabag Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Setkab Sumenep Abd. Kahir mengaku belum mengetahui penyebab fenomena lumpur api tersebut. Dia menduga, asap dan hawa panas itu berasal dari batu bara di dalam tanah. Lokasi tersebut dahulu memang digunakan sebagai lokasi pembuangan limbah batu bara kereta api pada masa penjajahan Belanda.

”Di sana memang tempat penumpukan batu bara setelah digunakan kereta. Juga tempat pembuangan limbah batu bara untuk garam cetak waktu zaman Belanda,” katanya.

Baca Juga :  Genangan Bisa Timbulkan Penyakit

Kahir mengaku belum mengetahui pasti kandungan gas yang keluar dari dalam tanah. Hanya, dia memastikan bahwa gas tersebut sedikit mengandung sulfur. Selain itu, sebaran panas dari tanah di lokasi itu mencapai luas sekitar 100 meter persegi atau sekitar 20×50 meter.

Dia berencana untuk meminta bantuan Badan Geologi Bandung untuk mencari tahu penyebab fenomena yang baru kali pertama terjadi di Sumenep ini. ”Saat kami ke lokasi dan melakukan percobaan, kami menyiramkan air dan air itu seperti mendidih. Kemudian keluar asap hitam berbau belerang,” jelasnya.

Sementara dia akan meminta bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep untuk melakukan pembasahan. Selain itu, dia meminta masyarakat tidak memasuki area yang sudah dipasangi garis polisi. Sebab, Kahir menduga ada rongga yang cukup luas di dalam tanah tersebut.

Dia khawatir ada warga yang terjebak dalam lubang panas itu. Dia juga meminta agar warga tidak membakar atau memasak makanan di lokasi lumpur api.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/