alexametrics
20.3 C
Madura
Friday, May 27, 2022

Revitalisasi Belum Bisa Dieksekusi

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Upaya untuk merevitalisasi cagar budaya Kota Tua Kalianget berlanjut. Namun, hingga saat ini belum bisa dieksekusi. Ada persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satunya penandatanganan memorandum of understanding (MoU).

Corporate Communication PT Garam (Persero) Miftahol Arifin menerangkan, sebelum MoU ditandatangani sudah dilakukan kajian strategis. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) sudah melakukan kajian pada 2020.

Kajian itu terkait museum garam dan semua situs cagar budaya di sekitar Kantor PT Garam (Persero) Kalianget. ”Untuk eksekusinya belum diketahui kapan,” tambahnya sebelum pendatanganan nota kesepahaman antara Ketua TACB Sumenep Tadjul Arifien R dan Direktur Utama (Dirut) PT Garam Achmad Ardianto kemarin (17/8).

Miftahol Arifin menegaskan, dalam pembangunan dan revitalisasi kota tua tidak boleh sembarangan. Harus merujuk pada bentuk dan desain yang sudah ada dan ditentukan sebelumnya.

”Sebagai generasi penerus saat ini, yang ada sekarang kan kita tidak tahu bagaimana bentuk yang orisinil dari bangunan atau peninggalan dari bangunan tersebut. Oleh karena itu, kami meminta Tim Ahli Cagar Budaya yang lebih paham dan tahu untuk mengembalikan pada bentuk yang semula, sehingga tidak ada kesalahan dari kerja revitalisasi ini,” katanya.

Baca Juga :  89 SMP Belum Bisa Mandiri

Agenda revitalisasi ini diharapkan bisa memberikan dampak yang positif bagi masyarakat. Terutama dalam hal pendidikan sejarah dan pariwisata. ”Dengan begitu, masyarakat akan tahu bahwa Sumenep merupakan satu-satunya kota yang memiliki pabrik garam sejak masa kolonial,” tuturnya.

Sementara itu, Tadjul Arifien mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih karena sudah dilibatkan atas rencana revitalisasi Kota Tua Kalianget. Dia mengatakan, TACB berfungsi menjaga dan mengawal agar tidak menyimpang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Tadjul mengungkapkan, ide revitalisasi cagar budaya Kota Tua Kalianget muncul dari PT Garam sendiri. Dulu, kata dia, memang ada rencana tata bangunan lingkungan (RTBL) yang dilaksanakan dinas PU cipta karya provinsi. ”Sekarang ada lagi program kawasan Kota Tua Kalianget oleh PT Garam,” tegasnya.

Baca Juga :  Lahan Eks Rumah Sakit Belum Bisa Ditempati PKL

Kabid Kebudayaan Disparbudpora Sumenep Robi Firmansyah mengatakan, hasil kajian TACB 2020 dan sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya peringkat kabupaten. Keputusan itu berdasar Keputusan Bupati Sumenep Nomor 188/34/KEP/435.013/2020. Keputusan itu mengatur tentang Penetapan Kawasan Kota Tua Kalianget sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Kabupaten.

Objek yang ditetapkan sebagai cagar budaya yaitu Kantor Utama PT Garam, magazine/gudang penyimpanan, kamar lonceng, kantor telegraf, dan kantor koperasi karyawan PT Garam. Selain itu, puing bangunan pabrik, pembangkit tenaga listrik, kamar pompa, dan Sekolah Taman Dewasa. Lalu, Bangunan SD Teknik/SMP Persari, Gedung Bioskop Krezno, Kolam Renang, Kamar Bola, dan Lapangan Tenis. (c3)

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Upaya untuk merevitalisasi cagar budaya Kota Tua Kalianget berlanjut. Namun, hingga saat ini belum bisa dieksekusi. Ada persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satunya penandatanganan memorandum of understanding (MoU).

Corporate Communication PT Garam (Persero) Miftahol Arifin menerangkan, sebelum MoU ditandatangani sudah dilakukan kajian strategis. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) sudah melakukan kajian pada 2020.

Kajian itu terkait museum garam dan semua situs cagar budaya di sekitar Kantor PT Garam (Persero) Kalianget. ”Untuk eksekusinya belum diketahui kapan,” tambahnya sebelum pendatanganan nota kesepahaman antara Ketua TACB Sumenep Tadjul Arifien R dan Direktur Utama (Dirut) PT Garam Achmad Ardianto kemarin (17/8).


Miftahol Arifin menegaskan, dalam pembangunan dan revitalisasi kota tua tidak boleh sembarangan. Harus merujuk pada bentuk dan desain yang sudah ada dan ditentukan sebelumnya.

”Sebagai generasi penerus saat ini, yang ada sekarang kan kita tidak tahu bagaimana bentuk yang orisinil dari bangunan atau peninggalan dari bangunan tersebut. Oleh karena itu, kami meminta Tim Ahli Cagar Budaya yang lebih paham dan tahu untuk mengembalikan pada bentuk yang semula, sehingga tidak ada kesalahan dari kerja revitalisasi ini,” katanya.

Baca Juga :  89 SMP Belum Bisa Mandiri

Agenda revitalisasi ini diharapkan bisa memberikan dampak yang positif bagi masyarakat. Terutama dalam hal pendidikan sejarah dan pariwisata. ”Dengan begitu, masyarakat akan tahu bahwa Sumenep merupakan satu-satunya kota yang memiliki pabrik garam sejak masa kolonial,” tuturnya.

Sementara itu, Tadjul Arifien mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih karena sudah dilibatkan atas rencana revitalisasi Kota Tua Kalianget. Dia mengatakan, TACB berfungsi menjaga dan mengawal agar tidak menyimpang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Tadjul mengungkapkan, ide revitalisasi cagar budaya Kota Tua Kalianget muncul dari PT Garam sendiri. Dulu, kata dia, memang ada rencana tata bangunan lingkungan (RTBL) yang dilaksanakan dinas PU cipta karya provinsi. ”Sekarang ada lagi program kawasan Kota Tua Kalianget oleh PT Garam,” tegasnya.

Baca Juga :  Pemilik┬áToko Mokong, Pekerja Tewas Tersetrum

Kabid Kebudayaan Disparbudpora Sumenep Robi Firmansyah mengatakan, hasil kajian TACB 2020 dan sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya peringkat kabupaten. Keputusan itu berdasar Keputusan Bupati Sumenep Nomor 188/34/KEP/435.013/2020. Keputusan itu mengatur tentang Penetapan Kawasan Kota Tua Kalianget sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Kabupaten.

Objek yang ditetapkan sebagai cagar budaya yaitu Kantor Utama PT Garam, magazine/gudang penyimpanan, kamar lonceng, kantor telegraf, dan kantor koperasi karyawan PT Garam. Selain itu, puing bangunan pabrik, pembangkit tenaga listrik, kamar pompa, dan Sekolah Taman Dewasa. Lalu, Bangunan SD Teknik/SMP Persari, Gedung Bioskop Krezno, Kolam Renang, Kamar Bola, dan Lapangan Tenis. (c3)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/