alexametrics
21.8 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Lima PMI Kabur dari Tempat Karantina

SUMENEP – Penjagaan di rumah perlindungan sosial (RPS) yang dimanfaatkan sebagai tempat karantina lemah. Lima pekerja migran Indonesia (PMI) yang seharusnya menjalani karantina 14 hari di gedung  yang terletak di Jalan Raung, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, tersebut dibiarkan kabur.

PMI yang datang dari Malaysia itu melarikan diri pada malam hari saat petugas lengah. Lima orang tersebut dikategorikan orang dalam pemantauan (OPD). Setelah dilakukan serangkaian pemeriksanaan, kelimanya harus menjalani masa karantina 14 hari di RPS.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sumenep Moh. Iksan menyampaikan, sebelum melarikan diri, kelima PMI itu mengajukan izin pulang secara resmi. Namun, izin itu ditolak karena protokol karantina harus dilakukan selama 14 hari. Mengingat mereka baru tiba dari daerah lokal transmisi.

Mereka belum sempat bermalam di RPS. Diduga mereka melarikan diri malam hari. Menurut petugas di RPS, semula dua orang izin keluar untuk membeli kebutuhan tertentu. Teranyata, keesokan harinya lima orang tersebut sudah tidak terlihat di RPS.

Menurut Iksan, petugas RPS tidak berani berkontak langsung. Sementara, belum ada petugas kesehatan yang ikut memantau mereka.

Padahal, lima PMI tersebut tergolong orang dalam pemantauan (ODP) dan harus terpantau oleh tim kesehatan. ”Kami siap memfasilitasi ruangan dan kebutuhan akomodasi selama karantina selama 14 hari. Tapi, untuk pemeriksaan kesehatan, itu bukan kompeten kami,” ujarnya kemarin (17/4).

Ke depan, pihaknya tetap siap memfasilitasi ruang karantina. Dengan catatan, harus ada tim dari kesehatan maupun keamanan. Dengan begitu, peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Baca Juga :  Pembangunan Kolam Labuh Diduga Tak Sesuai RAB

Kepala Dinas Kesehatan Sumenep Agus Mulyono menyayangkan aksi nekat lima PMI tersebut. Sebenarnya untuk sampai di Kota Keris, mereka sudah melalui tahapan pemeriksaan medis. Bahkan, dikarantina di Tanjungpinang sebelum pemberangkatan.

Mereka juga telah mengantongi health alert card (HAC). Namun, dianggap perlu dilakukan karantina lagi untuk mewaspadai. ”Ini memang harus berangkat dari kesadaran masyarakat sendiri. Kalau mereka membawa virus, itu berbahaya juga bagi keluarganya,” terangnya.

Sementara itu, pemulangan PMI oleh pemerintah Malaysia semakin tak terbendung. Sebanyak 73 orang tiba di Madura, Kamis malam (16/4). Pemerintah didesak segera memiliki rumah karantina.

Kepala Terminal Ronggosukowati Riad Abdillah mengatakan, PMI asal Pamekasan tiba di terminal sekitar pukul 22.30. Petugas langsung melakukan pemeriksaan dan penyemprotan cairan disinfektan.

Pemeriksaan itu selesai pukul 00.30 kemarin (17/4). Seluruh pekerja yang baru tiba dari negeri jiran itu pulang ke rumah dijemput keluarga masing-masing. Tim kesehatan menggantar hingga ke kecamatan dan desa. ”Kewenangan kami hanya pemeriksaan di terminal,” katanya kemarin.

Di Sampang, ada 20 PMI dari Malaysia tiba di Kota Bahari, Kamis malam (16/4). Kini puluhan orang tersebut melakukan isolasi secara mandiri di rumahnya masing-masing.

Koordinator Satgas Covid-19 Bidang Informasi dan Komunikasi Sampang Moh. Djuwardi menyampaikan, 17 orang melewati posko penanganan Covid-19 di Jembatan Timbang, Kecamatan Jrengik. Sementara dan 3 orang lainnya diperiksa di posko utara di Kecamatan Banyuates.

Baca Juga :  Silpa Capai Rp 439 Miliar, Dewan Minta OPD Optimalkan Kinerja

”Ya benar, baru datang 20 orang dari Malaysia. Berasal dari wilayah Kecamatan Sokobanah, Ketapang, Banyuates, dan Robatal,” sebutnya.

Menurut dia, puluhan PMI tersebut sudah melewati pemeriksaan di posko untuk memastikan keadaannya bebas dari Covid-19. Pemeriksaan di posko tersebut sudah dilakukan dengan ketat. Di antaranya, pemeriksaan kesehatan dan sterilisasi. ”Iya, kami periksa setelah hasil thermal scanner kesehatan negatif semua,” terang Djuwardi.

Setelah melakukan pemeriksaan tersebut, para PMI yang datang akan tetap berada di bawah pengawasan pemerintah. Artinya, harus melakukan isolasi secara mandiri. ”Mereka menuju rumahnya untuk isolasi mandiri,” sambungnya.

Bupati Sampang Slamet Junaidi sudah menginstruksikan kepada para PMI yang datang dengan memberika dua pilihan. Di antaranya, jika tidak bisa melakukan isolasi secara mandiri, harus dikarantika selama 15 hari.

”Tentunya kami sudah menginstruksikan kepada para PMI yang datang kalau mereka tidak bisa melakukan isolasi mandiri, akan kami karantina,” tegasnya.

Mengenai 20 PMI tersebut, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan kecamatan, termasuk puskesmas agar bekerja sama dengan posko dan polindes setempat untuk melakukan monitoring. ”Untuk memastikan apakah para PMI yang datang melakukan isolasi mandiri apa tidak. Kalau tidak, akan kita jemput untuk dikarantina,” tandasnya. (jun/iqb)

SUMENEP – Penjagaan di rumah perlindungan sosial (RPS) yang dimanfaatkan sebagai tempat karantina lemah. Lima pekerja migran Indonesia (PMI) yang seharusnya menjalani karantina 14 hari di gedung  yang terletak di Jalan Raung, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, tersebut dibiarkan kabur.

PMI yang datang dari Malaysia itu melarikan diri pada malam hari saat petugas lengah. Lima orang tersebut dikategorikan orang dalam pemantauan (OPD). Setelah dilakukan serangkaian pemeriksanaan, kelimanya harus menjalani masa karantina 14 hari di RPS.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sumenep Moh. Iksan menyampaikan, sebelum melarikan diri, kelima PMI itu mengajukan izin pulang secara resmi. Namun, izin itu ditolak karena protokol karantina harus dilakukan selama 14 hari. Mengingat mereka baru tiba dari daerah lokal transmisi.


Mereka belum sempat bermalam di RPS. Diduga mereka melarikan diri malam hari. Menurut petugas di RPS, semula dua orang izin keluar untuk membeli kebutuhan tertentu. Teranyata, keesokan harinya lima orang tersebut sudah tidak terlihat di RPS.

Menurut Iksan, petugas RPS tidak berani berkontak langsung. Sementara, belum ada petugas kesehatan yang ikut memantau mereka.

Padahal, lima PMI tersebut tergolong orang dalam pemantauan (ODP) dan harus terpantau oleh tim kesehatan. ”Kami siap memfasilitasi ruangan dan kebutuhan akomodasi selama karantina selama 14 hari. Tapi, untuk pemeriksaan kesehatan, itu bukan kompeten kami,” ujarnya kemarin (17/4).

Ke depan, pihaknya tetap siap memfasilitasi ruang karantina. Dengan catatan, harus ada tim dari kesehatan maupun keamanan. Dengan begitu, peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Baca Juga :  Silpa Capai Rp 439 Miliar, Dewan Minta OPD Optimalkan Kinerja

Kepala Dinas Kesehatan Sumenep Agus Mulyono menyayangkan aksi nekat lima PMI tersebut. Sebenarnya untuk sampai di Kota Keris, mereka sudah melalui tahapan pemeriksaan medis. Bahkan, dikarantina di Tanjungpinang sebelum pemberangkatan.

Mereka juga telah mengantongi health alert card (HAC). Namun, dianggap perlu dilakukan karantina lagi untuk mewaspadai. ”Ini memang harus berangkat dari kesadaran masyarakat sendiri. Kalau mereka membawa virus, itu berbahaya juga bagi keluarganya,” terangnya.

Sementara itu, pemulangan PMI oleh pemerintah Malaysia semakin tak terbendung. Sebanyak 73 orang tiba di Madura, Kamis malam (16/4). Pemerintah didesak segera memiliki rumah karantina.

Kepala Terminal Ronggosukowati Riad Abdillah mengatakan, PMI asal Pamekasan tiba di terminal sekitar pukul 22.30. Petugas langsung melakukan pemeriksaan dan penyemprotan cairan disinfektan.

Pemeriksaan itu selesai pukul 00.30 kemarin (17/4). Seluruh pekerja yang baru tiba dari negeri jiran itu pulang ke rumah dijemput keluarga masing-masing. Tim kesehatan menggantar hingga ke kecamatan dan desa. ”Kewenangan kami hanya pemeriksaan di terminal,” katanya kemarin.

Di Sampang, ada 20 PMI dari Malaysia tiba di Kota Bahari, Kamis malam (16/4). Kini puluhan orang tersebut melakukan isolasi secara mandiri di rumahnya masing-masing.

Koordinator Satgas Covid-19 Bidang Informasi dan Komunikasi Sampang Moh. Djuwardi menyampaikan, 17 orang melewati posko penanganan Covid-19 di Jembatan Timbang, Kecamatan Jrengik. Sementara dan 3 orang lainnya diperiksa di posko utara di Kecamatan Banyuates.

Baca Juga :  Sunarno: Siaga Selama Lima Hari

”Ya benar, baru datang 20 orang dari Malaysia. Berasal dari wilayah Kecamatan Sokobanah, Ketapang, Banyuates, dan Robatal,” sebutnya.

Menurut dia, puluhan PMI tersebut sudah melewati pemeriksaan di posko untuk memastikan keadaannya bebas dari Covid-19. Pemeriksaan di posko tersebut sudah dilakukan dengan ketat. Di antaranya, pemeriksaan kesehatan dan sterilisasi. ”Iya, kami periksa setelah hasil thermal scanner kesehatan negatif semua,” terang Djuwardi.

Setelah melakukan pemeriksaan tersebut, para PMI yang datang akan tetap berada di bawah pengawasan pemerintah. Artinya, harus melakukan isolasi secara mandiri. ”Mereka menuju rumahnya untuk isolasi mandiri,” sambungnya.

Bupati Sampang Slamet Junaidi sudah menginstruksikan kepada para PMI yang datang dengan memberika dua pilihan. Di antaranya, jika tidak bisa melakukan isolasi secara mandiri, harus dikarantika selama 15 hari.

”Tentunya kami sudah menginstruksikan kepada para PMI yang datang kalau mereka tidak bisa melakukan isolasi mandiri, akan kami karantina,” tegasnya.

Mengenai 20 PMI tersebut, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan kecamatan, termasuk puskesmas agar bekerja sama dengan posko dan polindes setempat untuk melakukan monitoring. ”Untuk memastikan apakah para PMI yang datang melakukan isolasi mandiri apa tidak. Kalau tidak, akan kita jemput untuk dikarantina,” tandasnya. (jun/iqb)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Segera Terbitkan Buletin Sekolah

Napi Kendalikan Bisnis Narkoba

Ratusan KPM PKH Graduasi Mandiri

Artikel Terbaru

/