alexametrics
26.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Kesadaran Nelayan Urus Asuransi Minim

SUMENEP – Program asuransi bagi nelayan yang dijalankan pemerintah belum berjalan sesuai harapan. Pelaksanaannya belum disambut antusias di Sumenep. Baru segelintir nelayan yang mendaftarkan asuransi.

Wiyono, nelayan di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, menyampaikan, masyarakat di desanya mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Sejauh ini, belum banyak yang mengajukan diri ikut asuransi nelayan. Sebagian besar tetap fokus dengan kesibukan sehari-hari sebagai pelaut.

Wiyono mengakui mendengar informasi tentang asuransi nelayan dari perangkat desa setempat. Menurut dia, asuransi nelayan baik untuk berjaga-jaga sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. ”Sepertinya masih sangat sedikit nelayan di sini yang ikut asuransi. Kalau tidak salah yang saya ketahui hanya lima nelayan,” katanya.

Baca Juga :  Menunaikan Ibadah Haji, Sakit, Mbah Moen Akhirnya Tutup Usia

Kasi Perlindungan Nelayan Dinas Perikanan Sumenep Iwan Darmanzah menyampaikan, antusiasme nelayan terhadap program asuransi nelayan memang variatif. Sebagian merespons cepat untuk mengajukan. Sebagian yang lain biasa saja.

Masyarakat Sapeken antusias mendaftar kartu pelaku usaha kelautan dan perikanan (Kusuka). Kartu Kusuka juga menjadi persyaratan untuk mengikuti asuransi nelayan. Kemudian, yang menentukan mereka mendapatkan asuransi itu langsung dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Dinas Perikanan Sumenep hanya sebagai fasilitator untuk menyampaikan kepada nelayan. Keputusan akhir tetap ada pada nelayan yang bersangkutan. Tahun pertama digratiskan karena disubsidi pemerintah. Baru tahun berikutnya ada biaya perpanjangan Rp 175 ribu per tahun.

Baca Juga :  Temui Cak Imin, Syafiuddin Kawal Aspirasi Nelayan

Pengurusannya bisa melalui penyuluh perikanan bantu (PPB) atau melalui pemerintah desa. Keuntungan bagi nelayan akan mendapat tunjangan Rp 200 juta apabila meninggal dunia. Jika meninggal biasa atau sempat dirawat di rumah, nelayan akan mendapat tunjangan Rp 5 juta.

Ketentuan tersebut diberlakukan tahun ini. Berbeda dengan 2018 yang menyesuaikan dengan usia nelayan. Dengan usia 50 tahun ke bawah mendapat Rp 160 juta, 51–60 tahun Rp 40 juta, dan 60–65 tahun Rp 20 juta. ”Tapi, yang menentukan itu Jesindo perusahaan asuransinya,” jelasnya. (c3)

SUMENEP – Program asuransi bagi nelayan yang dijalankan pemerintah belum berjalan sesuai harapan. Pelaksanaannya belum disambut antusias di Sumenep. Baru segelintir nelayan yang mendaftarkan asuransi.

Wiyono, nelayan di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, menyampaikan, masyarakat di desanya mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Sejauh ini, belum banyak yang mengajukan diri ikut asuransi nelayan. Sebagian besar tetap fokus dengan kesibukan sehari-hari sebagai pelaut.

Wiyono mengakui mendengar informasi tentang asuransi nelayan dari perangkat desa setempat. Menurut dia, asuransi nelayan baik untuk berjaga-jaga sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. ”Sepertinya masih sangat sedikit nelayan di sini yang ikut asuransi. Kalau tidak salah yang saya ketahui hanya lima nelayan,” katanya.

Baca Juga :  Sidak Bulog, Ketua Dewan Minta Penyedia Diawasi


Kasi Perlindungan Nelayan Dinas Perikanan Sumenep Iwan Darmanzah menyampaikan, antusiasme nelayan terhadap program asuransi nelayan memang variatif. Sebagian merespons cepat untuk mengajukan. Sebagian yang lain biasa saja.

Masyarakat Sapeken antusias mendaftar kartu pelaku usaha kelautan dan perikanan (Kusuka). Kartu Kusuka juga menjadi persyaratan untuk mengikuti asuransi nelayan. Kemudian, yang menentukan mereka mendapatkan asuransi itu langsung dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Dinas Perikanan Sumenep hanya sebagai fasilitator untuk menyampaikan kepada nelayan. Keputusan akhir tetap ada pada nelayan yang bersangkutan. Tahun pertama digratiskan karena disubsidi pemerintah. Baru tahun berikutnya ada biaya perpanjangan Rp 175 ribu per tahun.

Baca Juga :  Nelayan Tak Tahu Fungsi Kartu Nelayan

Pengurusannya bisa melalui penyuluh perikanan bantu (PPB) atau melalui pemerintah desa. Keuntungan bagi nelayan akan mendapat tunjangan Rp 200 juta apabila meninggal dunia. Jika meninggal biasa atau sempat dirawat di rumah, nelayan akan mendapat tunjangan Rp 5 juta.

Ketentuan tersebut diberlakukan tahun ini. Berbeda dengan 2018 yang menyesuaikan dengan usia nelayan. Dengan usia 50 tahun ke bawah mendapat Rp 160 juta, 51–60 tahun Rp 40 juta, dan 60–65 tahun Rp 20 juta. ”Tapi, yang menentukan itu Jesindo perusahaan asuransinya,” jelasnya. (c3)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/