alexametrics
21.4 C
Madura
Monday, June 27, 2022

Ratusan Warga Kekurangan Air Bersih

SUMENEP – Ratusan warga Dusun Tanonggul Barat, Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, kekurangan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan, setiap hari mereka mengambil air di sumur area persawahan yang berjarak 1 kilometer.

Meski mengalami kekeringan, dusun tersebut luput dari perhatian pemerintah. ”Sudah setiap musin panas di sini mengalami kesulitan air,” kata Sidha, 40, warga setempat, saat sedang mengambil air, Selasa (16/10) sekitar pukul 9.15.

Menurut dia, untuk mencapai sumur warga harus berjalan kaki. Tidak jarang mereka harus antre hingga berjam-jam. Dalam sehari, biasanya warga mengambil air dua kali. ”Sampai 50-an timba untuk mengambil air di sumur ini,” ujar ibu empat anak tersebut.

Istri Sawir, 50, itu menjelaskan bahwa air itu digunakan untuk mandi, mencuci, dan memasak. Sebagian warga juga menggunakan air tersebut untuk konsumsi. ”Selain itu, diminumkan untuk hewan ternak. Sebab, rata-rata warga memelihara sapi dan kambing,” tuturnya.

Baca Juga :  Surplus, Sumenep Tak Butuh Impor Beras

Imamuddin, warga setempat, mengatakan hal sama. Paling parah terjadi pada Oktober dan November. Jika pada Desember tetap tidak hujan, kekeringan akan semakin parah. ”Tak pernah dapat bantuan sama sekali,” tuturnya. Bantuan itu hanya untuk dusun yang lain.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep Abd. Rahman Riadi membantah tudingan tersebut. Pihaknya sering memberikan bantuan air di Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan. ”Siapa yang bilang itu. Namanya siapa? Itu bohong,” katanya.

Bahkan, Desa Montorna dan Prancak paling sering mendapat bantuan dibandingkan dengan desa lain. Rahman menduga, air itu digunakan untuk pertanian. ”Kalau seperti itu airnya habis untuk lahan pertanian, kita biasanya ke tandon dan penampungan air,” katanya. 

Baca Juga :  Pembangunan WTP Diprediksi 2020

SUMENEP – Ratusan warga Dusun Tanonggul Barat, Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, kekurangan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan, setiap hari mereka mengambil air di sumur area persawahan yang berjarak 1 kilometer.

Meski mengalami kekeringan, dusun tersebut luput dari perhatian pemerintah. ”Sudah setiap musin panas di sini mengalami kesulitan air,” kata Sidha, 40, warga setempat, saat sedang mengambil air, Selasa (16/10) sekitar pukul 9.15.

Menurut dia, untuk mencapai sumur warga harus berjalan kaki. Tidak jarang mereka harus antre hingga berjam-jam. Dalam sehari, biasanya warga mengambil air dua kali. ”Sampai 50-an timba untuk mengambil air di sumur ini,” ujar ibu empat anak tersebut.


Istri Sawir, 50, itu menjelaskan bahwa air itu digunakan untuk mandi, mencuci, dan memasak. Sebagian warga juga menggunakan air tersebut untuk konsumsi. ”Selain itu, diminumkan untuk hewan ternak. Sebab, rata-rata warga memelihara sapi dan kambing,” tuturnya.

Baca Juga :  DPD Partai Gelora Indonesia Sumenep Kibarkan Sayap

Imamuddin, warga setempat, mengatakan hal sama. Paling parah terjadi pada Oktober dan November. Jika pada Desember tetap tidak hujan, kekeringan akan semakin parah. ”Tak pernah dapat bantuan sama sekali,” tuturnya. Bantuan itu hanya untuk dusun yang lain.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep Abd. Rahman Riadi membantah tudingan tersebut. Pihaknya sering memberikan bantuan air di Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan. ”Siapa yang bilang itu. Namanya siapa? Itu bohong,” katanya.

Bahkan, Desa Montorna dan Prancak paling sering mendapat bantuan dibandingkan dengan desa lain. Rahman menduga, air itu digunakan untuk pertanian. ”Kalau seperti itu airnya habis untuk lahan pertanian, kita biasanya ke tandon dan penampungan air,” katanya. 

Baca Juga :  Pelabuhan Batu Guluk Perlu Pengembangan
- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/