alexametrics
21.8 C
Madura
Tuesday, May 24, 2022

Nelayan Luruk Kantor UPT Pelabuhan Pasongsongan

SUMENEP – Puluhan nelayan mendatangi kantor UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pasongsongan kemarin (16/9). Mereka menuntut pihak pelabuhan segera turun tangan terkait dangkalnya pintu masuk kolam labuh.

Ahmad Saleh Harianto, perwakilan nelayan, menyampaikan, keberadaan pelabuhan memberikan banyak manfaat kepada masyarakat di Kecamatan Pasongsongan. Terutama, kepada masyarakat Dusun Lebak, Desa Pasongsongan, dan Desa Panaongan. Namun, banyak fasilitas umum yang tidak dikelola dan dipelihara dengan baik. Salah satunya, kolam labuh.

Menurut dia, kondisi pintu masuk kolam labuh sangat dangkal. Dengan demikian, perahu para nelayan yang ingin masuk dan keluar kolam labuh harus menunggu air pasang.

Padahal berdasar aturan, kedalaman kolam labuh pelabuhan minimal 5 meter. Dengan demikian, perahu nelayan bisa keluar masuk kolam labuh dalam kondisi surut dan pasang.

Harianto menerangkan, banyak kapal nelayan ditaruh di luar kolam labuh jika ingin berangkat kembali melaut pada siang hari. Sebab, jika ditaruh di dalam kolam labuh, perahu tidak bisa keluar.

Begitu juga perahu yang dari luar kolam labuh tidak bisa masuk. Akibatnya, Jumat (13/9) perahu nelayan yang ditambatkan di luar kolam labuh disapu ombak dan angin. Akibatnya, perahu hancur karena karam dan terus diterpa ombak. Bahkan, pemilik perahu mengalami kerugian hingga ratusan juta.

Baca Juga :  Nelayan Abaikan Asuransi Mandiri Dari 12 Ribu,¬†Hanya 250 Terdaftar

Untuk itu, masyarakat Desa Pasongsongan dan Panaongan yang rata-rata menjadi nelayan meminta pihak pelabuhan mengeruk pasir di pintu masuk kolam labuh dengan tenaga manusia. Sebab, tenaga mesin yang sering digunakan pihak Pelabuhan Pasongsongan tak membuahkan hasil yang maksimal.

”Pengerukan kolam labuh dilakukan secara rutin maksimal tiap tiga bulan sekali. Segera diberikan solusi. Karena ini menyangkut persoalan perut,” pintanya.

Jika dalam waktu dekat pihak pelabuhan tidak bisa melaksanakan pengerukan tersebut, masyarakat secara swadaya akan melakukan pengerukan sendiri. Mengingat, dangkalnya pintu masuk kolam labuh sangat mengganggu dan membatasi aktivitas bagi para nelayan untuk mengais rejeki di laut.

”Kolam labuh juga sudah tidak begitu memadai. Ada sekitar 80 perahu besar dan 30 perahu kecil milik nelayan. Jadi sudah tidak cukup untuk menampung,” terang Harianto.

Dia menambahkan, pengerukan sudah lama tidak dilakukan oleh pihak pelabuhan. Sepengetahuannya, pengerukan terakhir kali dilakukan pada 2018 lalu. Praktis, pasir di pintu masuk kolam labuh kian menumpuk dan mengganggu keluar masuk perahu nelayan.

Baca Juga :  Jarang Melaut, Pendapatan Nelayan Menyusut

Menjawab tuntutan tersebut, Kasubbag TU Kantor UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pasongsongan Achmad Sonhaji tidak menampik sudah lama tidak mengeruk pasir tersebut. Pengerukan biasanya rutin dilaksanakan. Hanya, tahun ini tidak dilakukan karena mesin penyedot pasirnya rusak berat dan masih diperbaiki.

”Mesin yang digunakan itu custome. Sperpart-nya khusus. Jadi, perbaikannya agak lama. Tapi, tahun ini yang jelas akan kami kerjakan pengerukan,” janjinya.

Pihaknya meminta waktu untuk menyampaikan aspirasi tersebut kepada pimpinannya di Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur. Sebab, Sonhaji mengaku tidak memiliki kapasitas untuk memberikan keputusan mengenai tuntutan yang diberikan para nelayan. ”Semua perlu planning, actuating, dan organizing. Tidak bisa langsung,” ujarnya.

Setelah menggeruduk Kantor UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pasongsongan, perwakilan nelayan, pihak nelayan, dan Forkopimka Pasongsongan melakukan musyawarah. Dari hasil pembahasan, pengerukan disepakati dilakukan dengan cara manual, yakni menggunakan tenaga manusia. Pihak pelabuhan yang akan memfasilitasi segala kebutuhan untuk pengerukan.

SUMENEP – Puluhan nelayan mendatangi kantor UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pasongsongan kemarin (16/9). Mereka menuntut pihak pelabuhan segera turun tangan terkait dangkalnya pintu masuk kolam labuh.

Ahmad Saleh Harianto, perwakilan nelayan, menyampaikan, keberadaan pelabuhan memberikan banyak manfaat kepada masyarakat di Kecamatan Pasongsongan. Terutama, kepada masyarakat Dusun Lebak, Desa Pasongsongan, dan Desa Panaongan. Namun, banyak fasilitas umum yang tidak dikelola dan dipelihara dengan baik. Salah satunya, kolam labuh.

Menurut dia, kondisi pintu masuk kolam labuh sangat dangkal. Dengan demikian, perahu para nelayan yang ingin masuk dan keluar kolam labuh harus menunggu air pasang.


Padahal berdasar aturan, kedalaman kolam labuh pelabuhan minimal 5 meter. Dengan demikian, perahu nelayan bisa keluar masuk kolam labuh dalam kondisi surut dan pasang.

Harianto menerangkan, banyak kapal nelayan ditaruh di luar kolam labuh jika ingin berangkat kembali melaut pada siang hari. Sebab, jika ditaruh di dalam kolam labuh, perahu tidak bisa keluar.

Begitu juga perahu yang dari luar kolam labuh tidak bisa masuk. Akibatnya, Jumat (13/9) perahu nelayan yang ditambatkan di luar kolam labuh disapu ombak dan angin. Akibatnya, perahu hancur karena karam dan terus diterpa ombak. Bahkan, pemilik perahu mengalami kerugian hingga ratusan juta.

Baca Juga :  Jumlah Penerima Sehat Nelayan Bertambah

Untuk itu, masyarakat Desa Pasongsongan dan Panaongan yang rata-rata menjadi nelayan meminta pihak pelabuhan mengeruk pasir di pintu masuk kolam labuh dengan tenaga manusia. Sebab, tenaga mesin yang sering digunakan pihak Pelabuhan Pasongsongan tak membuahkan hasil yang maksimal.

”Pengerukan kolam labuh dilakukan secara rutin maksimal tiap tiga bulan sekali. Segera diberikan solusi. Karena ini menyangkut persoalan perut,” pintanya.

Jika dalam waktu dekat pihak pelabuhan tidak bisa melaksanakan pengerukan tersebut, masyarakat secara swadaya akan melakukan pengerukan sendiri. Mengingat, dangkalnya pintu masuk kolam labuh sangat mengganggu dan membatasi aktivitas bagi para nelayan untuk mengais rejeki di laut.

”Kolam labuh juga sudah tidak begitu memadai. Ada sekitar 80 perahu besar dan 30 perahu kecil milik nelayan. Jadi sudah tidak cukup untuk menampung,” terang Harianto.

Dia menambahkan, pengerukan sudah lama tidak dilakukan oleh pihak pelabuhan. Sepengetahuannya, pengerukan terakhir kali dilakukan pada 2018 lalu. Praktis, pasir di pintu masuk kolam labuh kian menumpuk dan mengganggu keluar masuk perahu nelayan.

Baca Juga :  Penerima Kusuka Baru 5 Persen

Menjawab tuntutan tersebut, Kasubbag TU Kantor UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pasongsongan Achmad Sonhaji tidak menampik sudah lama tidak mengeruk pasir tersebut. Pengerukan biasanya rutin dilaksanakan. Hanya, tahun ini tidak dilakukan karena mesin penyedot pasirnya rusak berat dan masih diperbaiki.

”Mesin yang digunakan itu custome. Sperpart-nya khusus. Jadi, perbaikannya agak lama. Tapi, tahun ini yang jelas akan kami kerjakan pengerukan,” janjinya.

Pihaknya meminta waktu untuk menyampaikan aspirasi tersebut kepada pimpinannya di Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur. Sebab, Sonhaji mengaku tidak memiliki kapasitas untuk memberikan keputusan mengenai tuntutan yang diberikan para nelayan. ”Semua perlu planning, actuating, dan organizing. Tidak bisa langsung,” ujarnya.

Setelah menggeruduk Kantor UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pasongsongan, perwakilan nelayan, pihak nelayan, dan Forkopimka Pasongsongan melakukan musyawarah. Dari hasil pembahasan, pengerukan disepakati dilakukan dengan cara manual, yakni menggunakan tenaga manusia. Pihak pelabuhan yang akan memfasilitasi segala kebutuhan untuk pengerukan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/