alexametrics
24.4 C
Madura
Saturday, May 21, 2022

13 Kecamatan di Sumenep Rawan Kekeringan

SUMENEP – Musim kemarau mulai melanda wilayah Madura. Di Kabupaten Sumenep, terdapat 28 desa di 13 kecamatan yang masuk dalam daerah rawan kekeringan. Hingga hari ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep telah mendapat permintaan bantuan air bersih dari tiga desa.

Kecamatan yang mulai dilanda kekeringan adalah Pasongsongan, Batuputih, Dasuk, Batang-Batang, Rubaru, Ganding, Lenteng, Saronggi, Bluto, Batuan, Pragaan, Nonggunong, dan Giligenting. Sedangkan tiga desa yang telah dilanda kekeringan saat ini adalah Batang-Batang Daya, Kolpo, dan Jangkong, Kecamatan Batang-Batang.

”Sebenarnya ada satu desa lagi di Kecamatan Ambunten, tapi saya lupa nama desanya,” ungkap Kepala BPBD Sumenep Abd. Rahman Riadi Rabu (16/8).

Baca Juga :  Seminggu, HWT-ACT Salurkan Bantuan Air Bagi 19.400 Warga Palestina

Rahman menjelaskan, ada dua penyebab kekeringan di Sumenep. Yaitu, musim kemaru yang lama dan minimnya sumber air di daerah tersebut. Untuk mengantisipasi meluasnya kekeringan, BPBD akan bekerja sama dengan instansi lain yang juga berurusan dengan air bersih di Sumenep.

”Kalau kami sendiri mungkin akan sulit. Karena itu, kami akan mengadakan kerja sama dengan beberapa instansi di Sumenep,” jelasnya.

Rahman mengimbau masyarakat untuk menghemat air. Dia juga menyarankan agar pemerintah mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi kekeringan. Sebab, kekeringan tiap tahun melanda Sumenep. Bukan hanya di wilayah daratan, sebagian wilayah kepulauan juga terjadi kekeringan.

”Yang pertama, tentu masyarakat harus menghemat air. Solusi jangka panjang bisa berupa pembangunan waduk. Kemudian, langkah ketiga mengatur pengeluaran air bersih untuk pertanian. Sebab, pertanian membutuhkan air dalam jumlah banyak,” usulnya.

Baca Juga :  Anggaran Darurat Bencana Capai Rp 3,5 Miliar

Rahman berharap, desa yang mengalami kekeringan segera melapor ke BPBD. Dengan demikian, distribusi air segera dilakukan. Menurut dia, berdasar laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau akan berakhir Oktober.

- Advertisement -

SUMENEP – Musim kemarau mulai melanda wilayah Madura. Di Kabupaten Sumenep, terdapat 28 desa di 13 kecamatan yang masuk dalam daerah rawan kekeringan. Hingga hari ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep telah mendapat permintaan bantuan air bersih dari tiga desa.

Kecamatan yang mulai dilanda kekeringan adalah Pasongsongan, Batuputih, Dasuk, Batang-Batang, Rubaru, Ganding, Lenteng, Saronggi, Bluto, Batuan, Pragaan, Nonggunong, dan Giligenting. Sedangkan tiga desa yang telah dilanda kekeringan saat ini adalah Batang-Batang Daya, Kolpo, dan Jangkong, Kecamatan Batang-Batang.

”Sebenarnya ada satu desa lagi di Kecamatan Ambunten, tapi saya lupa nama desanya,” ungkap Kepala BPBD Sumenep Abd. Rahman Riadi Rabu (16/8).

Baca Juga :  Anggaran Darurat Bencana Capai Rp 3,5 Miliar

Rahman menjelaskan, ada dua penyebab kekeringan di Sumenep. Yaitu, musim kemaru yang lama dan minimnya sumber air di daerah tersebut. Untuk mengantisipasi meluasnya kekeringan, BPBD akan bekerja sama dengan instansi lain yang juga berurusan dengan air bersih di Sumenep.

”Kalau kami sendiri mungkin akan sulit. Karena itu, kami akan mengadakan kerja sama dengan beberapa instansi di Sumenep,” jelasnya.

Rahman mengimbau masyarakat untuk menghemat air. Dia juga menyarankan agar pemerintah mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi kekeringan. Sebab, kekeringan tiap tahun melanda Sumenep. Bukan hanya di wilayah daratan, sebagian wilayah kepulauan juga terjadi kekeringan.

”Yang pertama, tentu masyarakat harus menghemat air. Solusi jangka panjang bisa berupa pembangunan waduk. Kemudian, langkah ketiga mengatur pengeluaran air bersih untuk pertanian. Sebab, pertanian membutuhkan air dalam jumlah banyak,” usulnya.

Baca Juga :  Malu Terlahir Cacat, Warga Sumenep Tega Buang Anaknya di Kuburan

Rahman berharap, desa yang mengalami kekeringan segera melapor ke BPBD. Dengan demikian, distribusi air segera dilakukan. Menurut dia, berdasar laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau akan berakhir Oktober.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/