alexametrics
29.9 C
Madura
Wednesday, May 18, 2022

Radio Amatir Ganggu Penerbangan

SUMENEP – Bandar Udara (Bandara) Trunojoyo Sumenep tidak terhindar dari gangguan penerbangan. Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) Cabang Surabaya mencatat ada lima laporan gangguan penerbangan di satu-satunya bandara di Madura itu pada 2019.

Di Jawa Timur, lembaga yang bergerak di bidang pelayanan navigasi udara (AirNav) itu mendata 56 laporan gangguan penerbangan (hazard) pada 2017. Kemudian meningkat pada 2018 menjadi 73 laporan. Sementara Januari hingga pertengahan Juli 2019 ada 28 laporan gangguan lalu lintas transportasi udara.

Kepala AirNav Surabaya Dian Subismo memaparkan, laporan gangguan penerbangaan semakin marak terjadi. Setiap kegiatan yang dapat mengganggu aktivitas penerbangan tidak diperbolehkan. Itu sesuai Undang-Undang 1/2009 Pasal 210 tentang Penerbangan.

Laporan gangguan penerbangan didominasi dari radio amatir. Yakni radio pemancar ilegal atau media elektronik yang tidak memiliki izin resmi pada frekuensi yang digunakan. Padahal penggunaan frekuensi tidak resmi tersebut dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Baca Juga :  'Taksi' Perahu Kecelakaan, Ini Yang Akan Dilakukan UPT Pantai Lombang

”Sempat ada kasus, ketika pilot melakukan kontak dengan ACT, yang terdengar malah musik dangdut, sehingga komunikasi pilot dengan ACT terganggu,” ungkapnya di sela-sela sosialisasi Safety Awareness and Security Review di Sumenep, kemarin (16/7).

Saluran komunikasi yang digunakan pilot dengan ACT menggunakan frekuensi. Jika terdapat kesamaan penggunaan frekuensi di saluran yang digunakan untuk kepentingan penerbangan, aktivitas transportasi udara dipastikan akan terganggu. Gangguan tersebut bisa menyebabkan komunikasi pilot dengan ACT terputus.

Selain itu, pesan pilot kepada ACT tidak tersampaikan dengan baik. Dampak terburuknya, bisa terjadi kecelakaan antar pesawat. ”Itu akibat putusnya komunikasi dikarenakan gangguan dari radio amatir. Di 2018, laporan gangguan penerbangan meningkat,” jelas Dian.

Baca Juga :  Setelah Terminal, Bandara Bakal Bangun Hanggar

Untuk gangguan penerbangan di Bandara Sumenep baru ada di 2019. Tahun-tahun sebelumnya AirNav Surabaya tidak pernah menerima laporan adanya hazard di Kota Keris. ”Kami bekerja sama dengan balai monitoring (balmon) untuk menertibkan radio-radio amatir. Termasuk di Sumenep, beberapa ditemukan dan sudah ditertibkan,” ujarnya.

Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep Indra Triyantono menerangkan, hazard tidak hanya gangguan dari radio amatir. Gangguan penerbangan juga bisa disebabkan dengan adanya layang-layang atau balon udara di sekitar bandara.

Pada musim kemarau, permainan layang-layang biasanya kian bermunculan. Namun, masyarakat diharapkan sadar agar tidak bermain layangan di sekitar bandara. ”Permasalahan kecil, tapi dapat berdampak fatal pada dunia penerbangan. Kami harap ke depan tidak ada lagi kasus-kasus seperti ini,” tandasnya.

- Advertisement -

SUMENEP – Bandar Udara (Bandara) Trunojoyo Sumenep tidak terhindar dari gangguan penerbangan. Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) Cabang Surabaya mencatat ada lima laporan gangguan penerbangan di satu-satunya bandara di Madura itu pada 2019.

Di Jawa Timur, lembaga yang bergerak di bidang pelayanan navigasi udara (AirNav) itu mendata 56 laporan gangguan penerbangan (hazard) pada 2017. Kemudian meningkat pada 2018 menjadi 73 laporan. Sementara Januari hingga pertengahan Juli 2019 ada 28 laporan gangguan lalu lintas transportasi udara.

Kepala AirNav Surabaya Dian Subismo memaparkan, laporan gangguan penerbangaan semakin marak terjadi. Setiap kegiatan yang dapat mengganggu aktivitas penerbangan tidak diperbolehkan. Itu sesuai Undang-Undang 1/2009 Pasal 210 tentang Penerbangan.


Laporan gangguan penerbangan didominasi dari radio amatir. Yakni radio pemancar ilegal atau media elektronik yang tidak memiliki izin resmi pada frekuensi yang digunakan. Padahal penggunaan frekuensi tidak resmi tersebut dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Baca Juga :  Sumenep–Pagerungan Hanya 75 Menit

”Sempat ada kasus, ketika pilot melakukan kontak dengan ACT, yang terdengar malah musik dangdut, sehingga komunikasi pilot dengan ACT terganggu,” ungkapnya di sela-sela sosialisasi Safety Awareness and Security Review di Sumenep, kemarin (16/7).

Saluran komunikasi yang digunakan pilot dengan ACT menggunakan frekuensi. Jika terdapat kesamaan penggunaan frekuensi di saluran yang digunakan untuk kepentingan penerbangan, aktivitas transportasi udara dipastikan akan terganggu. Gangguan tersebut bisa menyebabkan komunikasi pilot dengan ACT terputus.

Selain itu, pesan pilot kepada ACT tidak tersampaikan dengan baik. Dampak terburuknya, bisa terjadi kecelakaan antar pesawat. ”Itu akibat putusnya komunikasi dikarenakan gangguan dari radio amatir. Di 2018, laporan gangguan penerbangan meningkat,” jelas Dian.

Baca Juga :  Perbanyak Penumpang sebelum Tambah Maskapai

Untuk gangguan penerbangan di Bandara Sumenep baru ada di 2019. Tahun-tahun sebelumnya AirNav Surabaya tidak pernah menerima laporan adanya hazard di Kota Keris. ”Kami bekerja sama dengan balai monitoring (balmon) untuk menertibkan radio-radio amatir. Termasuk di Sumenep, beberapa ditemukan dan sudah ditertibkan,” ujarnya.

Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep Indra Triyantono menerangkan, hazard tidak hanya gangguan dari radio amatir. Gangguan penerbangan juga bisa disebabkan dengan adanya layang-layang atau balon udara di sekitar bandara.

Pada musim kemarau, permainan layang-layang biasanya kian bermunculan. Namun, masyarakat diharapkan sadar agar tidak bermain layangan di sekitar bandara. ”Permasalahan kecil, tapi dapat berdampak fatal pada dunia penerbangan. Kami harap ke depan tidak ada lagi kasus-kasus seperti ini,” tandasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/