alexametrics
19.4 C
Madura
Thursday, August 18, 2022

Penumpang Sepi, Maskapai Rugi

SUMENEP – Musim libur dan tahun baru tidak berdampak pada animo masyarakat untuk memanfaatkan jasa transportasi udara. Jumlah penumpang pesawat di Bandara Trunojoyo Sumenep belum naik secara signifikan. Tak ayal, manajemen maskapai Wings Air mengurangi jadwal terbang jadi empat hari dalam sepekan.

Station Manager Wings Air Sumenep Bayu Kristanto mengutarakan, pengurangan jadwal terbang merupakan keputusan manajemen. Tetapi, kebijakan tersebut hampir dialami semua bandara. Tidak hanya Bandara Trunojoyo Sumenep. ”Pengurangan jadwal terbang sudah diterapkan 9 Januari karena penumpang sepi,” kata dia saat ditemui di Bandara Trunojoyo kemarin (16/1).

Menurut Bayu, penerbangan Surabaya–Sumenep kemarin saja hanya 12 penumpang. Sementara rute Sumenep–Surabaya cukup banyak. Yakni, 32 penumpang. ”Kalau dibandingkan hari normal itu bisa sampai 40–50 dan 60 penumpang,” ujarnya.

Jika berkaca pada musim liburan dan tahun baru sebelumnya, jumlah penumpang sedikit wajar. ”Paling sedikit 10 penumpang rute Surabaya–Sumenep, tapi kondisional. Kadang banyak, kadang hanya belasan penumpang,” tuturnya.

Baca Juga :  Bupati Fauzi Komitmen Tingkatkan Pembangunan dan Pelayanan

Berbicara rugi, kata Bayu, itu hitung-hitungannya ada di pihak manajemen. Tetapi, berdasarkan penghematan bisa dikatakan rugi. Sebab, biaya operasional penerbangan itu tidak murah. Biaya operasional sekali terbang ditaksir bisa sampai Rp 21 juta.

Namun, istilahnya tutup lubang gali lubang. ”Misalnya, yang dari Surabaya–Sumenep sepi. Mungkin, yang dari Sumenep–Surabaya cukup banyak. Itu bisa terbantu,” terangnya.

Yang jelas, ketika terjadi penurunan jumlah penumpang akan mengalami kerugian. Jika sekali terbang hanya mengangkut 12 penumpang, berarti hanya ada pemasukan Rp 3.120.000. Sebab, harga tiket per penumpang hanya Rp 260 ribu. Dengan demikian, untuk mencapai biaya operasional yang mencapai Rp 21 juta sekali terbang kurang Rp 17.880.000.

Baca Juga :  Lagi, Wings Air Batalkan Penerbangan

Ke depan, dia berharap jumlah penumpang penerbangan rute Sumenep–Surabaya dan Surabaya–Sumenep bergeliat lagi. ”Karena Sumenep ini paling murah. Bisa dicek sendiri di bandara lain,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep Indra Triyantono mengatakan, pihak bandara hanya menyiapkan infrastruktur dan prasarana. Kebetulan bandara yang dikelolanya sangat normal dan tidak ada masalah. ”Kalau penumpangnya berkurang, otomatis bicara bisnis merugi. Diharapkan bisa kembali seperti semula,” katanya.

Pihak bandara ingin seperti Banyuwangi dalam menarik penumpang. Misalnya, selain objek wisata, industrinya juga muncul. ”Tapi, kami juga akan berkonsentrasi sekolah pilot di Sumenep,” paparnya.

Sebab, sekolah pilot dari Banyuwangi akan terbang di Sumenep. Dengan adanya para taruna ini, akan ada keramaian di kota Sumenep. ”Strategi yang mungkin bisa membantu penumpang ramai kembali,” terangnya.

SUMENEP – Musim libur dan tahun baru tidak berdampak pada animo masyarakat untuk memanfaatkan jasa transportasi udara. Jumlah penumpang pesawat di Bandara Trunojoyo Sumenep belum naik secara signifikan. Tak ayal, manajemen maskapai Wings Air mengurangi jadwal terbang jadi empat hari dalam sepekan.

Station Manager Wings Air Sumenep Bayu Kristanto mengutarakan, pengurangan jadwal terbang merupakan keputusan manajemen. Tetapi, kebijakan tersebut hampir dialami semua bandara. Tidak hanya Bandara Trunojoyo Sumenep. ”Pengurangan jadwal terbang sudah diterapkan 9 Januari karena penumpang sepi,” kata dia saat ditemui di Bandara Trunojoyo kemarin (16/1).

Menurut Bayu, penerbangan Surabaya–Sumenep kemarin saja hanya 12 penumpang. Sementara rute Sumenep–Surabaya cukup banyak. Yakni, 32 penumpang. ”Kalau dibandingkan hari normal itu bisa sampai 40–50 dan 60 penumpang,” ujarnya.


Jika berkaca pada musim liburan dan tahun baru sebelumnya, jumlah penumpang sedikit wajar. ”Paling sedikit 10 penumpang rute Surabaya–Sumenep, tapi kondisional. Kadang banyak, kadang hanya belasan penumpang,” tuturnya.

Baca Juga :  Penerbangan Pagerungan Sebentar Lagi Dibuka

Berbicara rugi, kata Bayu, itu hitung-hitungannya ada di pihak manajemen. Tetapi, berdasarkan penghematan bisa dikatakan rugi. Sebab, biaya operasional penerbangan itu tidak murah. Biaya operasional sekali terbang ditaksir bisa sampai Rp 21 juta.

Namun, istilahnya tutup lubang gali lubang. ”Misalnya, yang dari Surabaya–Sumenep sepi. Mungkin, yang dari Sumenep–Surabaya cukup banyak. Itu bisa terbantu,” terangnya.

Yang jelas, ketika terjadi penurunan jumlah penumpang akan mengalami kerugian. Jika sekali terbang hanya mengangkut 12 penumpang, berarti hanya ada pemasukan Rp 3.120.000. Sebab, harga tiket per penumpang hanya Rp 260 ribu. Dengan demikian, untuk mencapai biaya operasional yang mencapai Rp 21 juta sekali terbang kurang Rp 17.880.000.

Baca Juga :  Anggaran Pembebasan Lahan Bandara Belum Terserap
- Advertisement -

Ke depan, dia berharap jumlah penumpang penerbangan rute Sumenep–Surabaya dan Surabaya–Sumenep bergeliat lagi. ”Karena Sumenep ini paling murah. Bisa dicek sendiri di bandara lain,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep Indra Triyantono mengatakan, pihak bandara hanya menyiapkan infrastruktur dan prasarana. Kebetulan bandara yang dikelolanya sangat normal dan tidak ada masalah. ”Kalau penumpangnya berkurang, otomatis bicara bisnis merugi. Diharapkan bisa kembali seperti semula,” katanya.

Pihak bandara ingin seperti Banyuwangi dalam menarik penumpang. Misalnya, selain objek wisata, industrinya juga muncul. ”Tapi, kami juga akan berkonsentrasi sekolah pilot di Sumenep,” paparnya.

Sebab, sekolah pilot dari Banyuwangi akan terbang di Sumenep. Dengan adanya para taruna ini, akan ada keramaian di kota Sumenep. ”Strategi yang mungkin bisa membantu penumpang ramai kembali,” terangnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/