alexametrics
21 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

LPA Minta Ruang Berdigital Anak Dibatasi

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Pola pembelajaran siswa sejak dimulainya tahun ajaran 2021–2022 di Sumenep secara virtual. Memanfaatkan teknologi digital agar kegiatan belajar tetap berlangsung di tengah pandemi Covid-19. Satu sisi menjadi kehawatiran para pemerhati anak.

Tak bisa dimungkiri, pengawasan guru kepada siswa lebih longgar. Sebab, jarak menjadi kendala dalam mengontrol siswa di rumah masing-masing. Dengan demikian, peran orang tua menjadi amat penting untuk memantau perkembangan belajar anak.

Penerapan pembelajaran daring membuat peserta didik lebih leluasa menggunakan smartphone. Penggunaan teknologi tanpa pendampingan orang tua berpotensi menjerumuskan anak pada hal yang negatif.

Ketua Lembaga Perlidungan Anak (LPA) Sumenep Nurul Sugiyati menyampaikan, penerapan pembelajaran daring di masa pandemi merupakan suatu keniscayaan. Sekolah harus mematuhi keputusan pemerintah. Namun, sekolah diminta memberikan pengawasan lebih, tidak hanya melepas kepada orang tua.

Baca Juga :  Terdaftar di Poktan, Petani Tak Pernah Terima Bantuan

Terutama dalam penggunaan teknologi yang menjadi media pembelajaran agar tidak disalagunakan oleh siswa yang memicu dampak negatif. Misalnya, untuk bermain game online maupun mengakses konten negatif.

”Jangan sampai pembelajaran daring anak tidak terpantau. Kesalahan penggunaan tekonologi bisa berakibat fatal,” pesannya kemarin (15/7).

Nurul menjelaskan, orang tua harus menyadari bahwa membentuk karakter anak tidaklah mudah. Begitu juga dengan dinas pendidikan maupun guru harus tetap memantau siswa. Baik secara daring maupun mengagendakan kunjungan ke rumah siswa dengan protokol kesehatan (prokes).

Plt Kapala Dinas Pendidikan Sumenep Moh. Iksan menyampaikan, pembelajaran daring tidak serta-merta langsung dimulai. Apalagi untuk anak-anak yang baru peralihan dari TK ke SD. Sekolah sudah menyiasati untuk mengumpulkan anak beserta orang tua.

”Kami juga paham anak itu perlu dipandu. Karena ini daring, kami libatkan orang tuanya. Sebelum dimulai tahun ajaran baru, sudah ada technical meeting,” jelasnya.

Baca Juga :  Ombak Besar Masalembu Karamkan Kapal

Sekolah harus profesional menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa. Bahkan, kalau perlu sesekali memantau secara door to door ke rumah siswa. ”Kami juga minta orang tua mengontrol penggunaan gadget yang digunakan siswa,” jelasnya.

Salah seorang wali murid Buyana menyampaikan, sejak dimulai tahun ajaran baru, dirinya aktif memantau anak ketika belajar. Sekaligus memperketat penggunaan smartphone. Dengan begitu, teknologi tersebut tidak disalahgunakan oleh sang anak.

Dirinya amat menyadari bahwa pengunaan teknologi oleh anak kerap diselewengkan. Misalnya, digunakan untuk permainan maupun atau sekadar menonton hal yang tidak penting lainnya.

”Saya ketat. Selain untuk keperluan belajar, saya batasi anak bermain smartphone,” jelas ibu yang anaknya baru masuk SD itu. (jun/dry)

 

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Pola pembelajaran siswa sejak dimulainya tahun ajaran 2021–2022 di Sumenep secara virtual. Memanfaatkan teknologi digital agar kegiatan belajar tetap berlangsung di tengah pandemi Covid-19. Satu sisi menjadi kehawatiran para pemerhati anak.

Tak bisa dimungkiri, pengawasan guru kepada siswa lebih longgar. Sebab, jarak menjadi kendala dalam mengontrol siswa di rumah masing-masing. Dengan demikian, peran orang tua menjadi amat penting untuk memantau perkembangan belajar anak.

Penerapan pembelajaran daring membuat peserta didik lebih leluasa menggunakan smartphone. Penggunaan teknologi tanpa pendampingan orang tua berpotensi menjerumuskan anak pada hal yang negatif.

Ketua Lembaga Perlidungan Anak (LPA) Sumenep Nurul Sugiyati menyampaikan, penerapan pembelajaran daring di masa pandemi merupakan suatu keniscayaan. Sekolah harus mematuhi keputusan pemerintah. Namun, sekolah diminta memberikan pengawasan lebih, tidak hanya melepas kepada orang tua.

Baca Juga :  Nyaris Ambruk, Jembatan Bahayakan Warga

Terutama dalam penggunaan teknologi yang menjadi media pembelajaran agar tidak disalagunakan oleh siswa yang memicu dampak negatif. Misalnya, untuk bermain game online maupun mengakses konten negatif.

”Jangan sampai pembelajaran daring anak tidak terpantau. Kesalahan penggunaan tekonologi bisa berakibat fatal,” pesannya kemarin (15/7).

Nurul menjelaskan, orang tua harus menyadari bahwa membentuk karakter anak tidaklah mudah. Begitu juga dengan dinas pendidikan maupun guru harus tetap memantau siswa. Baik secara daring maupun mengagendakan kunjungan ke rumah siswa dengan protokol kesehatan (prokes).

Plt Kapala Dinas Pendidikan Sumenep Moh. Iksan menyampaikan, pembelajaran daring tidak serta-merta langsung dimulai. Apalagi untuk anak-anak yang baru peralihan dari TK ke SD. Sekolah sudah menyiasati untuk mengumpulkan anak beserta orang tua.

”Kami juga paham anak itu perlu dipandu. Karena ini daring, kami libatkan orang tuanya. Sebelum dimulai tahun ajaran baru, sudah ada technical meeting,” jelasnya.

Baca Juga :  Siswa Ini Bahas Nasi Goreng, Nasi Uduk, dan Nasi Kuning Tingkat Dunia

Sekolah harus profesional menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa. Bahkan, kalau perlu sesekali memantau secara door to door ke rumah siswa. ”Kami juga minta orang tua mengontrol penggunaan gadget yang digunakan siswa,” jelasnya.

Salah seorang wali murid Buyana menyampaikan, sejak dimulai tahun ajaran baru, dirinya aktif memantau anak ketika belajar. Sekaligus memperketat penggunaan smartphone. Dengan begitu, teknologi tersebut tidak disalahgunakan oleh sang anak.

Dirinya amat menyadari bahwa pengunaan teknologi oleh anak kerap diselewengkan. Misalnya, digunakan untuk permainan maupun atau sekadar menonton hal yang tidak penting lainnya.

”Saya ketat. Selain untuk keperluan belajar, saya batasi anak bermain smartphone,” jelas ibu yang anaknya baru masuk SD itu. (jun/dry)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/