alexametrics
26.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Minta Pabrikan Bangun Kemitraan dengan Petani Tembakau

SUMENEP – Pertanian tembakau di Sumenep belum memihak kepada petani. Selama ini petani dibiarkan berjuang sendiri. Program pemberdayaan dari pabrikan masih minim. Itulah yang disampaikan oleh Ketua Komisi II DPRD Sumenep Nurus Salam.

Pria yang akrab disapa Oyok itu mengkatakan, pemerintah daerah semestinya mengajak duduk bareng pihak pabrikan tembakau. Salah satu poin yang perlu dibicarakan yakni dana corporate social responsibility (CSR). Dana CSR pabrikan perlu diarahkan pada pemberdayaan petani.

”Ayo dong dengan dana CSR mereka lakukan program kemitraan dengan petani yang ada di Sumenep. Ada berapa pabrikan sih? Ada tujuh pabrikan, misalnya. Kemudian, kita berikan areal tanam,” jelasnya.

Kebutuhan pabrikan, jelas Oyok, berbeda-beda. Ada pabrikan yang butuh tembakau tegalan dan pegunungan. Ada pula yang butuh tembakau yang ditanam di sawah dengan tegal.

Baca Juga :  Penarikan Retribusi Masuk Pasar di Sumenep Masih Manual

”Sehingga nanti jika terjadi program kemitraan seperti itu, tidak akan ada lagi petani tembakau yang tidak terserap pabrikan,” tegasnya.

Kalau ada tujuh pabrikan tinggal dibagikan dengan jumlah kecamatan yang ada. Di Sumenep ada 27 kecamatan, baik di kepulauan atau di daratan. Dengan demikian, satu pabrikan bisa membangun kemitraan dan pemberdayaan di tiga kecamatan.

”Selama ini cara-cara seperti itu belum dilakukan oleh pabrikan,” papar politikus Gerindra itu.

Yang tak kalah penting, seluruh pabrikan juga mesti punya kuasa pembelian di Sumenep. Selama ini para petani tidak bisa menjual seluruh produk tembakaunya di Kota Keris. Penyebabnya, rata-rata gudang tembakau ada di Pamekasan.

”Rokoknya dibeli masyarakat Sumenep, tapi kemudian orang Sumenep suruh jual tembakau ke Pamekasan,” pintanya. ”Akhirnya berputar duitnya juga di Pamekasan,” tukasnya.

Baca Juga :  Sidak Pasar Anom Baru, DPRD Sumenep Temukan Kios Rusak

 

 

 

SUMENEP – Pertanian tembakau di Sumenep belum memihak kepada petani. Selama ini petani dibiarkan berjuang sendiri. Program pemberdayaan dari pabrikan masih minim. Itulah yang disampaikan oleh Ketua Komisi II DPRD Sumenep Nurus Salam.

Pria yang akrab disapa Oyok itu mengkatakan, pemerintah daerah semestinya mengajak duduk bareng pihak pabrikan tembakau. Salah satu poin yang perlu dibicarakan yakni dana corporate social responsibility (CSR). Dana CSR pabrikan perlu diarahkan pada pemberdayaan petani.

”Ayo dong dengan dana CSR mereka lakukan program kemitraan dengan petani yang ada di Sumenep. Ada berapa pabrikan sih? Ada tujuh pabrikan, misalnya. Kemudian, kita berikan areal tanam,” jelasnya.


Kebutuhan pabrikan, jelas Oyok, berbeda-beda. Ada pabrikan yang butuh tembakau tegalan dan pegunungan. Ada pula yang butuh tembakau yang ditanam di sawah dengan tegal.

Baca Juga :  Pantai Lombang Tidak Boleh Dipihakketigakan

”Sehingga nanti jika terjadi program kemitraan seperti itu, tidak akan ada lagi petani tembakau yang tidak terserap pabrikan,” tegasnya.

Kalau ada tujuh pabrikan tinggal dibagikan dengan jumlah kecamatan yang ada. Di Sumenep ada 27 kecamatan, baik di kepulauan atau di daratan. Dengan demikian, satu pabrikan bisa membangun kemitraan dan pemberdayaan di tiga kecamatan.

”Selama ini cara-cara seperti itu belum dilakukan oleh pabrikan,” papar politikus Gerindra itu.

Yang tak kalah penting, seluruh pabrikan juga mesti punya kuasa pembelian di Sumenep. Selama ini para petani tidak bisa menjual seluruh produk tembakaunya di Kota Keris. Penyebabnya, rata-rata gudang tembakau ada di Pamekasan.

”Rokoknya dibeli masyarakat Sumenep, tapi kemudian orang Sumenep suruh jual tembakau ke Pamekasan,” pintanya. ”Akhirnya berputar duitnya juga di Pamekasan,” tukasnya.

Baca Juga :  Ikatan Alumni dan Simpatisan Nurus Salam (Insan) Saba Tambak

 

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/