alexametrics
23.6 C
Madura
Monday, August 15, 2022

Tidak Segera Ditebus, 8 Ribu Ton Rastra Terancam Hangus

SUMENEP – Kesadaran sebagian kepala desa (Kades) menebus bantuan beras untuk keluarga sejahtera (rastra) rendah. Terbukti, delapan ribu ton belum ditebus hingga kemarin (14/11). Bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) itu masih ngendap di gudang Bulog Kalianget.

            Korlap rastra gudang Bulog Kalianget Iwantoro membenarkan hal itu. Bahkan, ada desa yang belum menebus rastra sejak Januari. Desa yang belum melakukan penebusan tersebar di wilayah daratan dan kepulauan. Jika sampai 15 Desember belum ditebus, bantuan itu akan hangus.

Tiap bulan, jelas dia, jatah rastra di Sumenep mencapai 1.920.240 kg untuk 33 desa perbulan. Sementara yang sudah ditebus baru sekitar 15 ribu ton. Para Kades diminta segera menebus. Sebab, itu merupakan hak warga miskin. ”Capaian penebusan baru sekitar 65 persen,” katanya.

Baca Juga :  PSK Madura Diskusikan Buku Sagara Aeng Mata Ojan

Bulog sudah melakukan langkah agar rastra segera ditebus. Antara lain, memberikan imbauan melalui camat. Dia berharap imbauan itu disampaikan kepada Kades. Menurut dia, stok beras di gudang bulog aman. Dengan demikian, kapan pun Kades melakukan penebusan beras pasti tersedia.

            Iwan mengakui beberapa hari terakhir mulai banyak desa yang melakukan penebusan. Hampir tiap hari selalu ada aktivitas penebusan rastra di bulog. Namun, hanya desa tertentu dan belum merata ke semua desa. Dia berharap waktu yang tersisa dimanfaatkan para Kades.

Terkait keluhan sejumlah Kades yang mengaku tidak memiliki dana untuk menebus, Iwan meminta tidak menjadi alasan. Sebab, desa bisa melakukan penebusan terlebih dahulu. ”Asalkan ada kesepakatan antara camat, Kades, dan pihak-pihak terkait sebagai penjamin,” ujar Iwan.

Baca Juga :  Susi Air Kembali Layani Penerbangan Perintis Rute Sumenep–Pagerungan

            Sebelumnya, Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Sumenep Imam Idhafi menyampaikan, sebagian Kades terkendala keuangan. Sebab, tahun ini uang tebusasn diminta di muka. ”Kalau sebelumnya kan beras diambil dulu ke bulog baru bayar kemudian. Kini berbeda, harus bayar duluan,” katanya.

SUMENEP – Kesadaran sebagian kepala desa (Kades) menebus bantuan beras untuk keluarga sejahtera (rastra) rendah. Terbukti, delapan ribu ton belum ditebus hingga kemarin (14/11). Bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) itu masih ngendap di gudang Bulog Kalianget.

            Korlap rastra gudang Bulog Kalianget Iwantoro membenarkan hal itu. Bahkan, ada desa yang belum menebus rastra sejak Januari. Desa yang belum melakukan penebusan tersebar di wilayah daratan dan kepulauan. Jika sampai 15 Desember belum ditebus, bantuan itu akan hangus.

Tiap bulan, jelas dia, jatah rastra di Sumenep mencapai 1.920.240 kg untuk 33 desa perbulan. Sementara yang sudah ditebus baru sekitar 15 ribu ton. Para Kades diminta segera menebus. Sebab, itu merupakan hak warga miskin. ”Capaian penebusan baru sekitar 65 persen,” katanya.

Baca Juga :  Susi Air Kembali Layani Penerbangan Perintis Rute Sumenep–Pagerungan

Bulog sudah melakukan langkah agar rastra segera ditebus. Antara lain, memberikan imbauan melalui camat. Dia berharap imbauan itu disampaikan kepada Kades. Menurut dia, stok beras di gudang bulog aman. Dengan demikian, kapan pun Kades melakukan penebusan beras pasti tersedia.

            Iwan mengakui beberapa hari terakhir mulai banyak desa yang melakukan penebusan. Hampir tiap hari selalu ada aktivitas penebusan rastra di bulog. Namun, hanya desa tertentu dan belum merata ke semua desa. Dia berharap waktu yang tersisa dimanfaatkan para Kades.

Terkait keluhan sejumlah Kades yang mengaku tidak memiliki dana untuk menebus, Iwan meminta tidak menjadi alasan. Sebab, desa bisa melakukan penebusan terlebih dahulu. ”Asalkan ada kesepakatan antara camat, Kades, dan pihak-pihak terkait sebagai penjamin,” ujar Iwan.

Baca Juga :  Kemensos Hanya Bantu Warga Cacat Ringan

            Sebelumnya, Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Sumenep Imam Idhafi menyampaikan, sebagian Kades terkendala keuangan. Sebab, tahun ini uang tebusasn diminta di muka. ”Kalau sebelumnya kan beras diambil dulu ke bulog baru bayar kemudian. Kini berbeda, harus bayar duluan,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/