alexametrics
18.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Pengerjaan Rumah Sakit Arjasa Harus Dipercepat

PAMEKASAN – Pembangunan rumah sakit Arjasa, Pulau Kangean, tahun lalu berakhir dengan pemutusan kontrak. Meski demikian, pemerintah kembali mengalokasikan dana. Nilainya cukup fantastis, yakni Rp 22 miliar.

Sekkab Sumenep Edy Rasiyadi mengutarakan, tahun lalu rumah sakit Arjasa dianggarkan Rp 4,6 miliar. Namun, rekanan hanya mampu menyelesaikan pekerjaan sekitar 73 persen. Sisanya, 27 persen, dilanjutkan tahun ini.

”Yang putus kontrak ini tetap dilanjutkan tahun ini. Tapi, menunggu audit dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Rekomendasinya seperti apa sebagai acuan kita,” kata dia kemarin (14/1).

Menurut Edy, Februari–Maret harus sudah keluar surat perintah kerja (SPK). Pertimbangannya, mempercepat pembangunan. Sebab, tahun lalu banyak proyek yang mengalami putus kontrak.

Harapannya, pada pertengahan tahun nanti, lanjutan pembangunan tersebut sudah tuntas. ”Yang jelas, proyek-proyek putus kontrak. Rekanannya akan di-blacklist. Selama dua tahun tidak boleh ikut lelang,” ujarnya.

Mantan Kadis PU bina marga tersebut menyampaikan, anggaran Rp 22 miliar itu memang dialokasikan untuk pembangunan rumah sakit Arjasa. Hanya, peruntukan pembangunannya berbeda dengan anggaran yang Rp 4,6 miliar.

Baca Juga :  Warga Histeris Lihat Jokowi Berseragam Raja

”Yang Rp 22 miliar itu tetap fisik. Seperti ruangan rawat inap dan ruangan-ruangan pendukung lainnya. Tapi, lebih detailnya ke Kadinkes,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep A. Fatoni membenarkan bahwa pembangunan rumah sakit Arjasa diputus kontrak. Rekanan tidak mampu menyelesaikan hingga 100 persen. Tetapi, bahan material yang digunakan bukan bahan lokal. Termasuk, rekanannya.

”Kualitasnya memang kita jaga. Rekanannya dari Jakarta. Jadi, bukan pemain lokal Sumenep,” katanya.

Fatoni menjelaskan, setiap dua bulan sekali dilakukan evaluasi. Tujuannya, agar pemborong mempercepat pembangunan. Tetapi, pada Oktober–Desmber, terjadi kendala. Gelombang di perairan Sumenep tidak karuan.

”Kapal tidak berangkat. Barangnya pemborong itu terdampar di darat. Kapal tidak mau ngangkut itu. Akibatnya, ada beberapa yang belum selesai,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tiga Ribu Pelanggan di Kangean Jadi Prioritas PLN

Misalnya, pemasangan keramik, sebagian plafon yang belum sempurna. Tapi, sudah terpasang genting. Kemudian, dindingnya juga diplester. ”Sampai batas waktu yang ditentukan, rekanan hanya mampu mengerjakan hingga 73 persen,” terangnya.

Sisanya Rp 1,2 miliar dilanjutkan tahun ini melalui lelang. ”Untuk melanjutkan pembangunan ruang rawat jalan dan ruang laboratorium,” paparnya.

Adapun anggaran sebesar Rp 22 miliar itu diperuntukan bagi pembangunan ruang rawat inap dan ruangan-ruangan lainya. ”Pokoknya bikin kamar sebanyak-banyaknya untuk anggaran yang Rp 22 miliar itu,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Sumenep Zainal mengatakan, pembangunan rumah sakit Arjasa tahun ini memang dianggarkan Rp 22 miliar. Februari–Maret sudah harus keluar SPK. Tujuannya, agar pengerjaannya tidak telat. Pengerjaan proyek juga tidak asal-asalan.

”Saya tidak mau terjadi putus kontrak seperti pembangunan sebelumnya. Makanya, rekanannya harus bermodal dan pihak eksekutif tidak lemot dalam pengajuan lelang,” pungkasnya. 

 

 

PAMEKASAN – Pembangunan rumah sakit Arjasa, Pulau Kangean, tahun lalu berakhir dengan pemutusan kontrak. Meski demikian, pemerintah kembali mengalokasikan dana. Nilainya cukup fantastis, yakni Rp 22 miliar.

Sekkab Sumenep Edy Rasiyadi mengutarakan, tahun lalu rumah sakit Arjasa dianggarkan Rp 4,6 miliar. Namun, rekanan hanya mampu menyelesaikan pekerjaan sekitar 73 persen. Sisanya, 27 persen, dilanjutkan tahun ini.

”Yang putus kontrak ini tetap dilanjutkan tahun ini. Tapi, menunggu audit dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Rekomendasinya seperti apa sebagai acuan kita,” kata dia kemarin (14/1).


Menurut Edy, Februari–Maret harus sudah keluar surat perintah kerja (SPK). Pertimbangannya, mempercepat pembangunan. Sebab, tahun lalu banyak proyek yang mengalami putus kontrak.

Harapannya, pada pertengahan tahun nanti, lanjutan pembangunan tersebut sudah tuntas. ”Yang jelas, proyek-proyek putus kontrak. Rekanannya akan di-blacklist. Selama dua tahun tidak boleh ikut lelang,” ujarnya.

Mantan Kadis PU bina marga tersebut menyampaikan, anggaran Rp 22 miliar itu memang dialokasikan untuk pembangunan rumah sakit Arjasa. Hanya, peruntukan pembangunannya berbeda dengan anggaran yang Rp 4,6 miliar.

Baca Juga :  Direktur PD Sumekar Mangkir

”Yang Rp 22 miliar itu tetap fisik. Seperti ruangan rawat inap dan ruangan-ruangan pendukung lainnya. Tapi, lebih detailnya ke Kadinkes,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep A. Fatoni membenarkan bahwa pembangunan rumah sakit Arjasa diputus kontrak. Rekanan tidak mampu menyelesaikan hingga 100 persen. Tetapi, bahan material yang digunakan bukan bahan lokal. Termasuk, rekanannya.

”Kualitasnya memang kita jaga. Rekanannya dari Jakarta. Jadi, bukan pemain lokal Sumenep,” katanya.

Fatoni menjelaskan, setiap dua bulan sekali dilakukan evaluasi. Tujuannya, agar pemborong mempercepat pembangunan. Tetapi, pada Oktober–Desmber, terjadi kendala. Gelombang di perairan Sumenep tidak karuan.

”Kapal tidak berangkat. Barangnya pemborong itu terdampar di darat. Kapal tidak mau ngangkut itu. Akibatnya, ada beberapa yang belum selesai,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tanaman Pohon Sasar Lahan Kritis

Misalnya, pemasangan keramik, sebagian plafon yang belum sempurna. Tapi, sudah terpasang genting. Kemudian, dindingnya juga diplester. ”Sampai batas waktu yang ditentukan, rekanan hanya mampu mengerjakan hingga 73 persen,” terangnya.

Sisanya Rp 1,2 miliar dilanjutkan tahun ini melalui lelang. ”Untuk melanjutkan pembangunan ruang rawat jalan dan ruang laboratorium,” paparnya.

Adapun anggaran sebesar Rp 22 miliar itu diperuntukan bagi pembangunan ruang rawat inap dan ruangan-ruangan lainya. ”Pokoknya bikin kamar sebanyak-banyaknya untuk anggaran yang Rp 22 miliar itu,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Sumenep Zainal mengatakan, pembangunan rumah sakit Arjasa tahun ini memang dianggarkan Rp 22 miliar. Februari–Maret sudah harus keluar SPK. Tujuannya, agar pengerjaannya tidak telat. Pengerjaan proyek juga tidak asal-asalan.

”Saya tidak mau terjadi putus kontrak seperti pembangunan sebelumnya. Makanya, rekanannya harus bermodal dan pihak eksekutif tidak lemot dalam pengajuan lelang,” pungkasnya. 

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/