alexametrics
20.5 C
Madura
Thursday, July 7, 2022

Sebagian Besar Korban Gempa di Sapudi Sumenep Alami Dehidrasi

SUMENEP – Derita korban gempa di Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, Sumenep, berlipat. Selain harus ketakutan dan kehilangan rumah karena rusak, mereka juga kekurangan air bersih. Pantauan Radarmadura.id, cuaca di lokasi terdampak gempa terparah itu memang panas.  Bahkan, cuaca yang panas juga mempengaruhi kesehatan para korban.

 

Jumlah bangunan rusak bertambah. Data terakhir menyebutkan, jumlah rumah rusak di Kecamatan Gayam 412 unit. Perinciannya, 78 unit rusak berat, 101 unit rusak sedang, dan 233 unit rumah rusak ringan.

 

Selain itu ada 12 unit masjid rusak. Terdiri dari 6 unit rusak berat, 4 unit rusak sedang, dan 2 unit rusak ringan. ditambah 1 unit dedung madrasah rusak sedang dan 2 unit gedung PAUD rusak sedang.

Sementara itu, jumlah rumah rusak di Kecamatan Nonggunong 71 unit. Perinciannya, 36 unit rusak berat, 20 unit rusak sedang, dan 15 unit rusak ringan.

Kabid Pelayanan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep Erliyanti mengungkapkan, sebagian besar warga yang memeriksakan diri di posko kesehatan mengalami dehidrasi. Hal itu disebabkan sulitnya memperoleh air bersih, udara panas, dan stress usai gempa.

Baca Juga :  Pengakuan Korban Selamat Gempa dan Tsunami asal Sumenep

”Saya perhatikan hampir semua pasien saya yang datang itu mengalami dehidrasi ringan, panas dalam, lalu bibir pecah-pecah, dan beberapa ciri-ciri lain yang mengindikasikan mereka mengalami dehidrasi,” ungkapnya.

Husaini, 53, warga Desa Prambanan, mengungkapkan, untuk mendapat air bersih mengambil air di Sumur Agung milik Pak Mah. Sekitar 700 meter dari rumahnya. ”Kalau musim kemarau memang disini biasa kekeringan, kurang air. Nggak ada persediaan air, hanya ada di sumur itu,” katanya Jum’at (12/10).

Bagi warga yang mampu biasanya membeli air bersih dengan harga Rp 75 ribu per pikap. Selain itu, warga yang berada di sekitar sumur mengambil air dengan memasang mesin pompa air dan paralon menuju ke rumah masing-masing.

Setiap hari, rata-rata Husaini mengambil air 3 kali. Setiap berangkat, dia membawa dua jeriken yang masing-masing berisi sekitar 30 liter air. ”Sekali dalam seminggu bisa bolak-balik 7 kali sehari untuk mengisi kamar mandi,” katanya.

Baca Juga :  Pembinaan Perajin Ukiran Kayu Harus Lebih Merata

Hal yang sama diungkiapkan Wahidin, 46, warga Desa Prambanan. Menurut dia, warga di desanya memang sudah mengalami kekurangan air sejak 4 bulan lalu. ”Ini sudah hampir nggak mandi. Bisanya untuk air minum saya beli. Untuk mandi dan cuci saya ambil di sumur,” katanya.

Sekretaris Kecamatan Gayam Ikbal mengatakan, pihaknya sedang berusaha memenuhi kebutuhan air bersih di Desa Prambanan. Saat ini, pihaknya sedang berusaha menghubungkan jaringan pipa Himpunan Pemakai Air Minum (Hipam) di sekitar lokasi. ”Kami sedang berusaha menyambungkan paralon untuk mengalirkan air ke rumah warga-warga yang masih belum mendapat pasokan air bersih. Kemungkinan dalam waktu dekat akan dilakukan pemasangan pipa paralon,” ucapnya.

Di lain pihak Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya Kolonel Inf Sudaryanto mengatakan, pihaknya akan menyediakan tangki air dalam waktu dekat untuk memenuhi kebutuhan air di posko bencana di Desa Prambanan. ”Dalam waktu dekat kami akan menyediakan tangki air untuk lokasi pengungsian,” terangnya.

SUMENEP – Derita korban gempa di Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, Sumenep, berlipat. Selain harus ketakutan dan kehilangan rumah karena rusak, mereka juga kekurangan air bersih. Pantauan Radarmadura.id, cuaca di lokasi terdampak gempa terparah itu memang panas.  Bahkan, cuaca yang panas juga mempengaruhi kesehatan para korban.

 

Jumlah bangunan rusak bertambah. Data terakhir menyebutkan, jumlah rumah rusak di Kecamatan Gayam 412 unit. Perinciannya, 78 unit rusak berat, 101 unit rusak sedang, dan 233 unit rumah rusak ringan.


 

Selain itu ada 12 unit masjid rusak. Terdiri dari 6 unit rusak berat, 4 unit rusak sedang, dan 2 unit rusak ringan. ditambah 1 unit dedung madrasah rusak sedang dan 2 unit gedung PAUD rusak sedang.

Sementara itu, jumlah rumah rusak di Kecamatan Nonggunong 71 unit. Perinciannya, 36 unit rusak berat, 20 unit rusak sedang, dan 15 unit rusak ringan.

Kabid Pelayanan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep Erliyanti mengungkapkan, sebagian besar warga yang memeriksakan diri di posko kesehatan mengalami dehidrasi. Hal itu disebabkan sulitnya memperoleh air bersih, udara panas, dan stress usai gempa.

Baca Juga :  Direktur BPRS Maksimalkan Tabungan dan Deposito

”Saya perhatikan hampir semua pasien saya yang datang itu mengalami dehidrasi ringan, panas dalam, lalu bibir pecah-pecah, dan beberapa ciri-ciri lain yang mengindikasikan mereka mengalami dehidrasi,” ungkapnya.

Husaini, 53, warga Desa Prambanan, mengungkapkan, untuk mendapat air bersih mengambil air di Sumur Agung milik Pak Mah. Sekitar 700 meter dari rumahnya. ”Kalau musim kemarau memang disini biasa kekeringan, kurang air. Nggak ada persediaan air, hanya ada di sumur itu,” katanya Jum’at (12/10).

Bagi warga yang mampu biasanya membeli air bersih dengan harga Rp 75 ribu per pikap. Selain itu, warga yang berada di sekitar sumur mengambil air dengan memasang mesin pompa air dan paralon menuju ke rumah masing-masing.

Setiap hari, rata-rata Husaini mengambil air 3 kali. Setiap berangkat, dia membawa dua jeriken yang masing-masing berisi sekitar 30 liter air. ”Sekali dalam seminggu bisa bolak-balik 7 kali sehari untuk mengisi kamar mandi,” katanya.

Baca Juga :  BMKG Pastikan Tidak Ada Gempa Susulan

Hal yang sama diungkiapkan Wahidin, 46, warga Desa Prambanan. Menurut dia, warga di desanya memang sudah mengalami kekurangan air sejak 4 bulan lalu. ”Ini sudah hampir nggak mandi. Bisanya untuk air minum saya beli. Untuk mandi dan cuci saya ambil di sumur,” katanya.

Sekretaris Kecamatan Gayam Ikbal mengatakan, pihaknya sedang berusaha memenuhi kebutuhan air bersih di Desa Prambanan. Saat ini, pihaknya sedang berusaha menghubungkan jaringan pipa Himpunan Pemakai Air Minum (Hipam) di sekitar lokasi. ”Kami sedang berusaha menyambungkan paralon untuk mengalirkan air ke rumah warga-warga yang masih belum mendapat pasokan air bersih. Kemungkinan dalam waktu dekat akan dilakukan pemasangan pipa paralon,” ucapnya.

Di lain pihak Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya Kolonel Inf Sudaryanto mengatakan, pihaknya akan menyediakan tangki air dalam waktu dekat untuk memenuhi kebutuhan air di posko bencana di Desa Prambanan. ”Dalam waktu dekat kami akan menyediakan tangki air untuk lokasi pengungsian,” terangnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/