alexametrics
27.2 C
Madura
Thursday, June 30, 2022

Tidak seperti Padi, Tembakau Dirawat Setiap Hari

SUMENEP – Masa tanam tembakau dimulai. Sejumlah petani di Kecamatan Bluto, Sumenep, sudah menanam tanaman yang terkenal dengan sebutan daun emas itu. Tapi, mereka harap-harap cemas kerana khawatir harga jual tembakau tidak memihak petani.

Matahari terik terasa memanggang kulit Sabtu siang (12/5). Tak ada awan yang menutupi angkasa. Tapi garang matahari tak membuat Ririn menepi atau berteduh di bawah pohon yang rindang. Dia tetap setia dengan cangkulnya, merawat tanaman tembakau yang daunnya selebar daun beringin.

Ada sekitar tiga ribu tanaman tembakau yang dia rawat. Tanaman itu berlokasi di Jalan Raya Sumenep–Pamekasan, tepatnya di Kecamatan Bluto. Di kecamatan ini, kata pria paro baya itu, sudah banyak petani yang menggarap lahan untuk ditanami tembakau.

”Beginilah pekerjaan petani tembakau. Tidak hanya perlu disiram, tapi juga dirawat, dicangkul, dipupuk, dan sebagainya,” ucap dia.

Untuk menanam tembakau, dia membeli bibit seharga Rp 9 ribu per seribu biji. Harga ini relatif murah. Sebab, ketika petani sudah serentak menanam, harga bibit tembakau bisa mencapai Rp 25 ribu per seribu biji. Bahkan dalam keadaan krisis bibit, harga bisa mencapai Rp 40 ribu.

Baca Juga :  Fun Bike, Even Spektakuler di Akhir Pekan Bertabur Hadiah Menarik

”Sebenarnya banyak petani yang enggan bertani tembakau karena khawatir harganya murah. Sementara biaya perawatan tembakau cukup tinggi,” tegasnya.

Untuk menanam tembakau butuh waktu sekitar tiga bulan. Jika menanam di awal Mei, petani bisa menjual si daun emas sekitar Agustus mendatang. Selama tiga bulan itu, setiap hari petani melakukan perawatan. Sebab, sehari saja tanaman tembakau tidak disiram, daunnya akan layu.

Tidak hanya menyiram tembakau dengan air, petani juga harus memberi pupuk yang dibutuhkan. Termasuk menimbun akar batang pohon tembakau dan mencangkul area sekitar agar tembakau tumbuh subur. Cara ini tidak perlu dilakukan untuk tanaman jenis lain. ”Padi tidak perlu dirawat setiap hari,” ucapnya.

Sesekali dia berhenti mencangkul. Dia menepi di bawah pohon rindang. Diambilnya kopi dari dalam termos kecil. Dia meneguk, satu hingga dua seruputan. Sembari mengisap rokok keretek, dia menatap sisa pekerjaan.

”Belum selesai ini. Istirahat dulu sebentar. Habis ini dilanjut lagi,” katanya. ”Tak gampang menjadi petani. Butuh kerja keras,” imbuh dia.

Baca Juga :  Produksi Tembakau Belum Capai Target Pemerintah

Dia berharap harga jual tembakau tahun ini baik. Setidaknya pemerintah daerah bisa membantu harapan petani itu. ”Harapan petani hanya satu, harga tembakau memihak kepada kami,” tukasnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Komisi II DPRD Sumenep Nurus Salam berharap agar pemerintah melakukan koordinasi dengan pihak pabrikan. Hal itu penting guna mengetahui berapa target pembelian tembakau tahun ini.

Sebab kebutuhan pabrikan akan menentukan berapa luas tanam tembakau yang harus digarap petani. ”Kalau sampai overload, harga tembakau bisa murah. Kalau harga murah, kasihan petani,” ujar politikus yang akrab disapa Oyok itu.

Sayangnya, Kasi Produksi Tanaman Semusim Dispertahorbun Sumenep Bejo Budiono belum bisa dimintai keterangan. Dihubungi melalui nomor telepon pribadinya, tidak ada jawaban.

Sebelumnya, dia mengatakan belum ada informasi dari pemerintah provinsi terkait kebutuhan pabrikan akan tembakau di Sumenep. Biasanya ada koordinasi di tingkat Jawa Timur untuk target pembelian tembakau di Madura, termasuk di Sumenep. 

SUMENEP – Masa tanam tembakau dimulai. Sejumlah petani di Kecamatan Bluto, Sumenep, sudah menanam tanaman yang terkenal dengan sebutan daun emas itu. Tapi, mereka harap-harap cemas kerana khawatir harga jual tembakau tidak memihak petani.

Matahari terik terasa memanggang kulit Sabtu siang (12/5). Tak ada awan yang menutupi angkasa. Tapi garang matahari tak membuat Ririn menepi atau berteduh di bawah pohon yang rindang. Dia tetap setia dengan cangkulnya, merawat tanaman tembakau yang daunnya selebar daun beringin.

Ada sekitar tiga ribu tanaman tembakau yang dia rawat. Tanaman itu berlokasi di Jalan Raya Sumenep–Pamekasan, tepatnya di Kecamatan Bluto. Di kecamatan ini, kata pria paro baya itu, sudah banyak petani yang menggarap lahan untuk ditanami tembakau.


”Beginilah pekerjaan petani tembakau. Tidak hanya perlu disiram, tapi juga dirawat, dicangkul, dipupuk, dan sebagainya,” ucap dia.

Untuk menanam tembakau, dia membeli bibit seharga Rp 9 ribu per seribu biji. Harga ini relatif murah. Sebab, ketika petani sudah serentak menanam, harga bibit tembakau bisa mencapai Rp 25 ribu per seribu biji. Bahkan dalam keadaan krisis bibit, harga bisa mencapai Rp 40 ribu.

Baca Juga :  Polisi Ringkus 2 Tersangka Curanmor

”Sebenarnya banyak petani yang enggan bertani tembakau karena khawatir harganya murah. Sementara biaya perawatan tembakau cukup tinggi,” tegasnya.

Untuk menanam tembakau butuh waktu sekitar tiga bulan. Jika menanam di awal Mei, petani bisa menjual si daun emas sekitar Agustus mendatang. Selama tiga bulan itu, setiap hari petani melakukan perawatan. Sebab, sehari saja tanaman tembakau tidak disiram, daunnya akan layu.

Tidak hanya menyiram tembakau dengan air, petani juga harus memberi pupuk yang dibutuhkan. Termasuk menimbun akar batang pohon tembakau dan mencangkul area sekitar agar tembakau tumbuh subur. Cara ini tidak perlu dilakukan untuk tanaman jenis lain. ”Padi tidak perlu dirawat setiap hari,” ucapnya.

Sesekali dia berhenti mencangkul. Dia menepi di bawah pohon rindang. Diambilnya kopi dari dalam termos kecil. Dia meneguk, satu hingga dua seruputan. Sembari mengisap rokok keretek, dia menatap sisa pekerjaan.

”Belum selesai ini. Istirahat dulu sebentar. Habis ini dilanjut lagi,” katanya. ”Tak gampang menjadi petani. Butuh kerja keras,” imbuh dia.

Baca Juga :  Pengawasan Tembakau Harus Dievaluasi

Dia berharap harga jual tembakau tahun ini baik. Setidaknya pemerintah daerah bisa membantu harapan petani itu. ”Harapan petani hanya satu, harga tembakau memihak kepada kami,” tukasnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Komisi II DPRD Sumenep Nurus Salam berharap agar pemerintah melakukan koordinasi dengan pihak pabrikan. Hal itu penting guna mengetahui berapa target pembelian tembakau tahun ini.

Sebab kebutuhan pabrikan akan menentukan berapa luas tanam tembakau yang harus digarap petani. ”Kalau sampai overload, harga tembakau bisa murah. Kalau harga murah, kasihan petani,” ujar politikus yang akrab disapa Oyok itu.

Sayangnya, Kasi Produksi Tanaman Semusim Dispertahorbun Sumenep Bejo Budiono belum bisa dimintai keterangan. Dihubungi melalui nomor telepon pribadinya, tidak ada jawaban.

Sebelumnya, dia mengatakan belum ada informasi dari pemerintah provinsi terkait kebutuhan pabrikan akan tembakau di Sumenep. Biasanya ada koordinasi di tingkat Jawa Timur untuk target pembelian tembakau di Madura, termasuk di Sumenep. 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/