alexametrics
19.4 C
Madura
Thursday, August 18, 2022

Pemkab Sumenep Tak Berani Spekulasi Harga Tembakau

SUMENEP – Para petani tembakau di Sumenep masih harap-harap cemas. Pasalnya, tidak ada jaminan bahwa hasil tani mereka di akhir musim nanti akan terjual dengan harga tinggi. Apalagi proses tata niaga tembakau senantiasa dikendalikan pemilik modal alias pengusaha atau pabrikan.

Hasib, petani asal Kecamatan Bluto, mengaku waswas. Dia khawatir tembakau yang dia tanam dibeli dengan harga murah. Padahal, biaya penanaman tembakau tidaklah sedikit. ”Kami berharap, pemerintah bisa mengupayakan agar harga tembakau berpihak kepada petani,” katanya Senin (11/6).

Kasi Tanaman Semusim Dispertapahorbun Sumenep Bejo Budiono mengaku tidak berani berspekulasi soal harga tembakau. Sebab, tanaman tembakau berbeda dengan tanaman lainnya. Petani sama sekali tidak memiliki ruang bernegosiasi atau menentukan harga.

Baca Juga :  Irwan D2 Obati Kerinduan Penggemar

”Kami, pemerintah daerah, tidak bisa berspekulasi soal harga tembakau. Itu menjadi wewenang pihak pabrikan,” katanya.

Salah satu yang menjadi faktor harga tembakau tidak bisa diintervensi yakni karena daun emas ini tidak masuk dalam kelompok tanaman pangan. Jika tanaman pangan, pemerintah berhak mengintervensi harga. Pada saat harga terlalu tinggi dan merugikan masyarakat, pemerintah bisa melakukan sidak pangan.

Sedangkan tembakau merupakan tanaman yang diatur sepenuhnya oleh pasar. Pemerintah hanya bisa berkoordinasi agar tembakau terserap keseluruhan. Di luar target pembelian itu, pemerintah tidak bisa berbuat banyak.

”Dari dulu harga tembakau memang ditentukan pihak pabrikan. Petani tidak dapat menentukan harga sendiri,” jelasnya.

Saat ini para petani mulai menggarap lahan tembakau. Bahkan untuk wilayah Sumenep bagian barat, khususnya di Kecamatan Bluto, tanaman tembakau sudah besar. Ada beberapa tanaman yang sudah setinggi lutut orang dewasa.

Baca Juga :  Bazar Takjil Ramadan Gairahkan Pelaku UMKM

SUMENEP – Para petani tembakau di Sumenep masih harap-harap cemas. Pasalnya, tidak ada jaminan bahwa hasil tani mereka di akhir musim nanti akan terjual dengan harga tinggi. Apalagi proses tata niaga tembakau senantiasa dikendalikan pemilik modal alias pengusaha atau pabrikan.

Hasib, petani asal Kecamatan Bluto, mengaku waswas. Dia khawatir tembakau yang dia tanam dibeli dengan harga murah. Padahal, biaya penanaman tembakau tidaklah sedikit. ”Kami berharap, pemerintah bisa mengupayakan agar harga tembakau berpihak kepada petani,” katanya Senin (11/6).

Kasi Tanaman Semusim Dispertapahorbun Sumenep Bejo Budiono mengaku tidak berani berspekulasi soal harga tembakau. Sebab, tanaman tembakau berbeda dengan tanaman lainnya. Petani sama sekali tidak memiliki ruang bernegosiasi atau menentukan harga.

Baca Juga :  Tuding UPT Arahkan Penggunaan BOP PAUD

”Kami, pemerintah daerah, tidak bisa berspekulasi soal harga tembakau. Itu menjadi wewenang pihak pabrikan,” katanya.

Salah satu yang menjadi faktor harga tembakau tidak bisa diintervensi yakni karena daun emas ini tidak masuk dalam kelompok tanaman pangan. Jika tanaman pangan, pemerintah berhak mengintervensi harga. Pada saat harga terlalu tinggi dan merugikan masyarakat, pemerintah bisa melakukan sidak pangan.

Sedangkan tembakau merupakan tanaman yang diatur sepenuhnya oleh pasar. Pemerintah hanya bisa berkoordinasi agar tembakau terserap keseluruhan. Di luar target pembelian itu, pemerintah tidak bisa berbuat banyak.

”Dari dulu harga tembakau memang ditentukan pihak pabrikan. Petani tidak dapat menentukan harga sendiri,” jelasnya.

- Advertisement -

Saat ini para petani mulai menggarap lahan tembakau. Bahkan untuk wilayah Sumenep bagian barat, khususnya di Kecamatan Bluto, tanaman tembakau sudah besar. Ada beberapa tanaman yang sudah setinggi lutut orang dewasa.

Baca Juga :  Ratusan Desa di Sumenep Belum Miliki BUMDes

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/