alexametrics
21.3 C
Madura
Saturday, October 1, 2022

Bandara Trunojoyo Telan Anggaran Ratusan Miliar

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Sejak 2014, pembangunan Bandara Trunojoyo sudah dimulai. Pemkab menyediakan anggaran untuk pembebasan lahan. Hingga tahun ini, anggaran tersebut terus dialokasikan untuk menunjang pengoperasian Bandara Trunojoyo.

Kucuran dana untuk pengembangan Bandara Trunojoyo sebenarnya tidak hanya dibebankan ke APBD Sumenep. Tetapi, selama proses itu berlangsung, khusus kegiatan konstruksi bandara, sejauh ini diintervensi melalui APBN. Meski sudah menelan ratusan miliar, Bandara Trunojoyo tidak banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.

Yang terbaru, maskapai Wings Air dan Citilink hengkang dari Bandara Trunojoyo. Kini bandara satu-satunya di Pulau Madura tersebut sudah tidak melayani penerbangan komersial, melainkan hanya penerbangan perintis.

Sekkab Sumenep Edy Rasiyadi mengatakan, sejak Bandara Trunojoyo hendak dioperasikan, peran pemkab sangat besar. Mulai dari penganggaran hingga promosi. Jika sekarang dua maskapai tidak lagi memberikan pelayanan, itu keputusan maskapai. ”Secara detail, saya lupa berapa dana yang bersumber dari APBD Sumenep untuk bandara,” katanya.

Yang jelas, kata Edy, penyediaan anggaran untuk pengembangan Bandara Trunojoyo itu dilakukan secara bertahap. Termasuk, perihal pembebasan lahan, ganti rugi bangunan, hingga peningkatan akses. ”Karena penyediaan anggaran untuk bandara itu jauh sebelum saya jadi Sekkab,” ujarnya.

Edy mengatakan, sudah banyak anggaran dari APBD yang dikucurkan untuk pengembangan Bandara Trunojoyo Sumenep. Meskipun, sebagian besar di-support Kemenhub. ”Dengan semangat yang sama, akhirnya terbangun bandara seperti yang terlihat sekarang,” paparnya.

Dia menyatakan, Bandara Trunojoyo Sumenep dibangun untuk mempermudah transportasi supaya masyarakat ketika ingin bepergian jauh lebih cepat dan terlayani dengan baik. Agar bandara ramai penumpang, pejabat atau pegawai di lingkungan pemkab didorong untuk menggunakan jasa transportasi udara. ”Terutama, ketika ada tugas dinas ke luar kota,” tuturnya.

Baca Juga :  Pulau Sabuntan Terdampak Kekeringan

Mantan Kadis PU Bina Marga Sumenep itu menyatakan, awal-awal setiap pejabat dan pegawai di lingkungan pemkab bertugas ke luar kota, memanfaatkan layanan transportasi udara. Termasuk, bupati jika ada rapat ke luar kota, baik saat periode Bupati A. Busyro Karim maupun Bupati Achmad Fauzi. ”Tapi, tugas dinas ke luar kota kan tidak setiap hari, tidak setiap bulan,” paparnya.

Pada akhrinya, juga tidak bisa langsung bergantung pada pejabat dan pegawai di lingkungan Pemkab Sumenep. Masyarakat harus tetap memiliki kesadaran sendiri untuk menggunakan layanan transportasi udara. ”Kalau dari pemerintah, pasti mendorong naik pesawat,” katanya.

Dia menerangkan, belakangan ini masyarakat enggan naik pesawat. Konon karena tarif tiketnya mulai naik. Jika semula penerbangan komersial di kisaran Rp 200 ribu, sekarang berkisar Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. ”Akhirnya, masyarakat memilih naik bus atau travel karena mungkin lebih murah,” jelasnya.

Edy menambahkan, meski sekarang dua maskapai sudah tidak melayani penerbangan komersial, pemkab tetap mengucurkan anggaran untuk penunjang pengembangan bandara. Semisal dengan membuat akses baru menuju bandara. ”Sampai tahun ini, masih lanjut untuk pembangunan jalan baru menuju bandara. Itu tetap kami lakukan,” ucapnya.

Baca Juga :  Penumpang Lesu, Desak Pacu Event Nasional

Sementara itu, Humas Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep Romzy Sarengat Sani mengatakan, posisinya hanya sebagai fasilitator. ”Kalau pendapatan secara detail, saya tidak tahu. Biasanya ada dari pihak maskapai yang langsung menyetorkan ke negara,” katanya.

Dia menuturkan, harga tiket variatif. Tidak sama setiap pekan. Namun untuk penerbangan komersial tahun ini, harga tiket memang cukup mahal. Karena itu, penumpang masih mikir-mikir. ”Tapi, itu kan kewenangan pihak maskapai. Kalau kami hanya memfasilitasi,” jelasnya.

Dikonfirmsi di tempat terpisah, Station Manager Wings Ari Bayu Kristanto menyatakan, awal April beroperasi kembali ke Bandara Trunojoyo Sumenep, harapannya, penumpang bisa ramai. ”Saat kami kembali ke Sumenep, animo masyarakat memang menurun. Tidak seperti dua tahun sebelumnya,” katanya.

Bayu mengungkapkan, tempat duduk penumpang yang tersedia 72 seat. Tapi setiap kali terbang, rata-rata 30 penumpang. ”Harga tiket naik, kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Namun, kenaikan tiket itu terjadi karena biaya operasional tambah mahal. Akibatnya, tiket lebih mahal daripada sebelum terjadi Covid-19,” terangnya.

Dia menambahkan, pada Juni–Juli, maskapai sering batal terbang lantaran tidak ada penumpang. ”Saya bingung yang mau ambil rata-rata. Intinya sepi sekali. Kalau Wings Air jika tidak sampai melebihi 30 penumpang, jarang sekali melanjutkan penerbangan karena tidak mau rugi. Kalau Citilink, meski hanya 10 penumpang tetap diangkut. Sebab, Citilink punya negara. Kami kan swasta,” tandasnya. (daf/yan)

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Sejak 2014, pembangunan Bandara Trunojoyo sudah dimulai. Pemkab menyediakan anggaran untuk pembebasan lahan. Hingga tahun ini, anggaran tersebut terus dialokasikan untuk menunjang pengoperasian Bandara Trunojoyo.

Kucuran dana untuk pengembangan Bandara Trunojoyo sebenarnya tidak hanya dibebankan ke APBD Sumenep. Tetapi, selama proses itu berlangsung, khusus kegiatan konstruksi bandara, sejauh ini diintervensi melalui APBN. Meski sudah menelan ratusan miliar, Bandara Trunojoyo tidak banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.

Yang terbaru, maskapai Wings Air dan Citilink hengkang dari Bandara Trunojoyo. Kini bandara satu-satunya di Pulau Madura tersebut sudah tidak melayani penerbangan komersial, melainkan hanya penerbangan perintis.


Sekkab Sumenep Edy Rasiyadi mengatakan, sejak Bandara Trunojoyo hendak dioperasikan, peran pemkab sangat besar. Mulai dari penganggaran hingga promosi. Jika sekarang dua maskapai tidak lagi memberikan pelayanan, itu keputusan maskapai. ”Secara detail, saya lupa berapa dana yang bersumber dari APBD Sumenep untuk bandara,” katanya.

Yang jelas, kata Edy, penyediaan anggaran untuk pengembangan Bandara Trunojoyo itu dilakukan secara bertahap. Termasuk, perihal pembebasan lahan, ganti rugi bangunan, hingga peningkatan akses. ”Karena penyediaan anggaran untuk bandara itu jauh sebelum saya jadi Sekkab,” ujarnya.

Edy mengatakan, sudah banyak anggaran dari APBD yang dikucurkan untuk pengembangan Bandara Trunojoyo Sumenep. Meskipun, sebagian besar di-support Kemenhub. ”Dengan semangat yang sama, akhirnya terbangun bandara seperti yang terlihat sekarang,” paparnya.

- Advertisement -

Dia menyatakan, Bandara Trunojoyo Sumenep dibangun untuk mempermudah transportasi supaya masyarakat ketika ingin bepergian jauh lebih cepat dan terlayani dengan baik. Agar bandara ramai penumpang, pejabat atau pegawai di lingkungan pemkab didorong untuk menggunakan jasa transportasi udara. ”Terutama, ketika ada tugas dinas ke luar kota,” tuturnya.

Baca Juga :  Gelombang Laut Tinggi Bisa Terjadi Tiba-Tiba

Mantan Kadis PU Bina Marga Sumenep itu menyatakan, awal-awal setiap pejabat dan pegawai di lingkungan pemkab bertugas ke luar kota, memanfaatkan layanan transportasi udara. Termasuk, bupati jika ada rapat ke luar kota, baik saat periode Bupati A. Busyro Karim maupun Bupati Achmad Fauzi. ”Tapi, tugas dinas ke luar kota kan tidak setiap hari, tidak setiap bulan,” paparnya.

Pada akhrinya, juga tidak bisa langsung bergantung pada pejabat dan pegawai di lingkungan Pemkab Sumenep. Masyarakat harus tetap memiliki kesadaran sendiri untuk menggunakan layanan transportasi udara. ”Kalau dari pemerintah, pasti mendorong naik pesawat,” katanya.

Dia menerangkan, belakangan ini masyarakat enggan naik pesawat. Konon karena tarif tiketnya mulai naik. Jika semula penerbangan komersial di kisaran Rp 200 ribu, sekarang berkisar Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. ”Akhirnya, masyarakat memilih naik bus atau travel karena mungkin lebih murah,” jelasnya.

Edy menambahkan, meski sekarang dua maskapai sudah tidak melayani penerbangan komersial, pemkab tetap mengucurkan anggaran untuk penunjang pengembangan bandara. Semisal dengan membuat akses baru menuju bandara. ”Sampai tahun ini, masih lanjut untuk pembangunan jalan baru menuju bandara. Itu tetap kami lakukan,” ucapnya.

Baca Juga :  Kementerian Perhubungan Beri Sinyal Positif

Sementara itu, Humas Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep Romzy Sarengat Sani mengatakan, posisinya hanya sebagai fasilitator. ”Kalau pendapatan secara detail, saya tidak tahu. Biasanya ada dari pihak maskapai yang langsung menyetorkan ke negara,” katanya.

Dia menuturkan, harga tiket variatif. Tidak sama setiap pekan. Namun untuk penerbangan komersial tahun ini, harga tiket memang cukup mahal. Karena itu, penumpang masih mikir-mikir. ”Tapi, itu kan kewenangan pihak maskapai. Kalau kami hanya memfasilitasi,” jelasnya.

Dikonfirmsi di tempat terpisah, Station Manager Wings Ari Bayu Kristanto menyatakan, awal April beroperasi kembali ke Bandara Trunojoyo Sumenep, harapannya, penumpang bisa ramai. ”Saat kami kembali ke Sumenep, animo masyarakat memang menurun. Tidak seperti dua tahun sebelumnya,” katanya.

Bayu mengungkapkan, tempat duduk penumpang yang tersedia 72 seat. Tapi setiap kali terbang, rata-rata 30 penumpang. ”Harga tiket naik, kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Namun, kenaikan tiket itu terjadi karena biaya operasional tambah mahal. Akibatnya, tiket lebih mahal daripada sebelum terjadi Covid-19,” terangnya.

Dia menambahkan, pada Juni–Juli, maskapai sering batal terbang lantaran tidak ada penumpang. ”Saya bingung yang mau ambil rata-rata. Intinya sepi sekali. Kalau Wings Air jika tidak sampai melebihi 30 penumpang, jarang sekali melanjutkan penerbangan karena tidak mau rugi. Kalau Citilink, meski hanya 10 penumpang tetap diangkut. Sebab, Citilink punya negara. Kami kan swasta,” tandasnya. (daf/yan)

Artikel Terkait

Most Read

Belum Ada Lelang Pembangunan

Kepedulian Berbahasa Madura Rendah

Sinergikan Pembangunan Madura

Artikel Terbaru

Lima Raperda Siap Dibahas

/