alexametrics
21.5 C
Madura
Sunday, July 3, 2022

Tagihan Berlipat, Pengasuh Ponpes Komplain PLN

SUMENEP – Tagihan listrik yang tidak wajar masih dirasakan pelanggan PLN. Wakil Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Aqidah Usymuni KH Nurul Khatim bersama istrinya, Aisyah, mendatangi kantor PT PLN (Persero) Rayon Sumenep Rabu (7/3). Mereka menyampaikan keberatan naiknya tagihan listrik.

Aisyah mengaku keberatan dengan kenaikan tagihan listrik yang tidak masuk akal. Biasanya, tagihan listrik di ponpes hanya berkisar Rp 400 ribu sampai Rp 450 ribu. Tetapi, Februari, tagihan listrik di ponpesnya mencapai Rp 1,4 juta dengan daya kWh 2200 VA.

”Padahal tidak ada penambahan alat elektronik di ponpes. Penggunaannya juga sama dengan bulan-bulan sebelumnya. Tapi, kenapa bisa naik sampai seperti ini?” jelasnya.

Selain di Ponpes Aqidah Usymuni, kenaikan tagihan listrik juga terjadi di rumahnya yang berdaya kWh 900 VA. Rumah mereka tidak jauh dari ponpes di Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep.

Baca Juga :  Dewan Siap Bersinergi dengan Kapolres Baru

Menurut dia, normalnya tagihan listrik di rumahnya sekitar Rp 470 ribu. Tetapi, Februari lalu membengkak menjadi Rp 700 ribu. ”Di rumah saya dan tetangga saya juga seperti itu. Sama saja,” ungkapnya.

Manajer PT PLN (Persero) Rayon Sumenep Rudi Hartono meminta maaf kepada para pelanggan. Menurut dia, kenaikan tersebut terjadi akibat petugas pembaca meter (cater) tidak aktif. Akibatnya, pelanggaran di seluruh Madura terjadi komplain.

”Komplain ini karena kontrak pembaca meter habis pada bulan Oktober. November hingga Januari tidak ada pembacaan,” terangnya.

Akibat tidak aktifnya petugas pembaca meter tersebut, pelanggan PLN mengalami lebih tagih dan kurang tagih. Untuk pelanggan yang kurang tagih, PLN membebankan tagihan di bulan Februari. Sementara untuk pelanggan yang lebih tagih, PLN memberi kompensasi untuk pengurangan beban di bulan selanjutnya.

Baca Juga :  Banyak Kelompok Nelayan Tak Dapat Bantuan

”Jadi lebih tagih itu artinya pelanggan membayar lebih banyak dari penggunaan listrik. Sedangkan kurang tagih itu pelanggan membayar kurang dari penggunaan listriknya,” kata dia.

Meski mengakui naiknya tagihan listrik murni kesalahan PLN, Rudi mengaku tidak bisa memberi kompensasi. Hingga saat ini, kompensasi untuk pelanggan yang mengalami kurang tagih adalah untuk mencicil tagihan sesuai dengan kemampuan pelanggan.

”Kompensasi yang kami berikan ada dua. Untuk lebih tagih bulan depannya kami kurangi bebannya. Sedangkan untuk yang kurang tagih, pelanggan bisa mencicil tagihan sesuai dengan kemampuan pelanggan,” pungkasnya.

SUMENEP – Tagihan listrik yang tidak wajar masih dirasakan pelanggan PLN. Wakil Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Aqidah Usymuni KH Nurul Khatim bersama istrinya, Aisyah, mendatangi kantor PT PLN (Persero) Rayon Sumenep Rabu (7/3). Mereka menyampaikan keberatan naiknya tagihan listrik.

Aisyah mengaku keberatan dengan kenaikan tagihan listrik yang tidak masuk akal. Biasanya, tagihan listrik di ponpes hanya berkisar Rp 400 ribu sampai Rp 450 ribu. Tetapi, Februari, tagihan listrik di ponpesnya mencapai Rp 1,4 juta dengan daya kWh 2200 VA.

”Padahal tidak ada penambahan alat elektronik di ponpes. Penggunaannya juga sama dengan bulan-bulan sebelumnya. Tapi, kenapa bisa naik sampai seperti ini?” jelasnya.


Selain di Ponpes Aqidah Usymuni, kenaikan tagihan listrik juga terjadi di rumahnya yang berdaya kWh 900 VA. Rumah mereka tidak jauh dari ponpes di Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep.

Baca Juga :  Dr. KH. Safradji Menjawab Problem Modern dalam Perspektif Hukum Islam

Menurut dia, normalnya tagihan listrik di rumahnya sekitar Rp 470 ribu. Tetapi, Februari lalu membengkak menjadi Rp 700 ribu. ”Di rumah saya dan tetangga saya juga seperti itu. Sama saja,” ungkapnya.

Manajer PT PLN (Persero) Rayon Sumenep Rudi Hartono meminta maaf kepada para pelanggan. Menurut dia, kenaikan tersebut terjadi akibat petugas pembaca meter (cater) tidak aktif. Akibatnya, pelanggaran di seluruh Madura terjadi komplain.

”Komplain ini karena kontrak pembaca meter habis pada bulan Oktober. November hingga Januari tidak ada pembacaan,” terangnya.

Akibat tidak aktifnya petugas pembaca meter tersebut, pelanggan PLN mengalami lebih tagih dan kurang tagih. Untuk pelanggan yang kurang tagih, PLN membebankan tagihan di bulan Februari. Sementara untuk pelanggan yang lebih tagih, PLN memberi kompensasi untuk pengurangan beban di bulan selanjutnya.

Baca Juga :  Kejaksaan Kembalikan Uang Kasus Pasar Pragaan

”Jadi lebih tagih itu artinya pelanggan membayar lebih banyak dari penggunaan listrik. Sedangkan kurang tagih itu pelanggan membayar kurang dari penggunaan listriknya,” kata dia.

Meski mengakui naiknya tagihan listrik murni kesalahan PLN, Rudi mengaku tidak bisa memberi kompensasi. Hingga saat ini, kompensasi untuk pelanggan yang mengalami kurang tagih adalah untuk mencicil tagihan sesuai dengan kemampuan pelanggan.

”Kompensasi yang kami berikan ada dua. Untuk lebih tagih bulan depannya kami kurangi bebannya. Sedangkan untuk yang kurang tagih, pelanggan bisa mencicil tagihan sesuai dengan kemampuan pelanggan,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/