alexametrics
21 C
Madura
Tuesday, May 17, 2022

Covid-19 Turunkan Omzet Pengusaha Batik

SUMENEP – Tatanan sosial berubah setelah terjadi pandemi Covid-19. Selain di bidang kesehatan, dampak terhadap sektor ekonomi tidak terbendung. Industri batik juga kena imbas hingga omzet menurun.

Moh. Tazam, pemilik usaha batik di Desa Mandala, Kecamatan Rubaru, menyampaikan, beragam jenis usaha terkena imbas. Termasuk usahanya sendiri yang memproduksi batik tulis. Sangat dirasakan bahwa selama masa pandemi penghasilanya menurun drastis.

Sebagian pelanggan menghentikan pesanan sejak ada persebaran virus korona. Terutama untuk konsumen dari luar Sumenep dan luar Pulau Madura. Termasuk pesanan batik untuk seragam instansi pemerintah. Pesanan dibatalkan karena dana dialihkan untuk penanganan Covid-19.

Harga batik yang dipatok bervariasi. Menyesuaikan dengan keinginan pemesan beserta jenis kain dan motif batik yang dipilih. Kualitas tertinggi sempat dijual Rp 3 juta dan kualitas terendah Rp 450 ribu. ”Kami melayani sesuai dengan permintaan dengan harga yang menyesuaikan dari pilihan pemesan,” jelasnya.

Baca Juga :  Ketua Dewan Pimpin Sidak ke Kantor PT Tanjung Odi, Ini Hasilnya

Usaha yang baru digeluti selama dua tahun itu belum memiliki nama besar. Tapi, menjual hingga luar Pulau Madura sudah biasa karena dipasarkan melalui online. Sebab itu, pembatalan pesanan itu juga banyak dari konsumen di luar Madura.

Hasil penjualan selama ini memang belum cukup untuk balik modal. Apalagi, situasinya masih tersendat persebaran virus korona. Permintaan konsumen yang menyusut berakibat pada omzet perusahaan. ”Saya merintis usaha ini bersama dua teman. Saat ini sudah memiliki enam pekerja,” jelasnya. (jun)

SUMENEP – Tatanan sosial berubah setelah terjadi pandemi Covid-19. Selain di bidang kesehatan, dampak terhadap sektor ekonomi tidak terbendung. Industri batik juga kena imbas hingga omzet menurun.

Moh. Tazam, pemilik usaha batik di Desa Mandala, Kecamatan Rubaru, menyampaikan, beragam jenis usaha terkena imbas. Termasuk usahanya sendiri yang memproduksi batik tulis. Sangat dirasakan bahwa selama masa pandemi penghasilanya menurun drastis.

Sebagian pelanggan menghentikan pesanan sejak ada persebaran virus korona. Terutama untuk konsumen dari luar Sumenep dan luar Pulau Madura. Termasuk pesanan batik untuk seragam instansi pemerintah. Pesanan dibatalkan karena dana dialihkan untuk penanganan Covid-19.

Harga batik yang dipatok bervariasi. Menyesuaikan dengan keinginan pemesan beserta jenis kain dan motif batik yang dipilih. Kualitas tertinggi sempat dijual Rp 3 juta dan kualitas terendah Rp 450 ribu. ”Kami melayani sesuai dengan permintaan dengan harga yang menyesuaikan dari pilihan pemesan,” jelasnya.

Baca Juga :  Kelanjutan Seleksi Komisioner KIP Tak Jelas

Usaha yang baru digeluti selama dua tahun itu belum memiliki nama besar. Tapi, menjual hingga luar Pulau Madura sudah biasa karena dipasarkan melalui online. Sebab itu, pembatalan pesanan itu juga banyak dari konsumen di luar Madura.

Hasil penjualan selama ini memang belum cukup untuk balik modal. Apalagi, situasinya masih tersendat persebaran virus korona. Permintaan konsumen yang menyusut berakibat pada omzet perusahaan. ”Saya merintis usaha ini bersama dua teman. Saat ini sudah memiliki enam pekerja,” jelasnya. (jun)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/