alexametrics
28.9 C
Madura
Thursday, August 11, 2022

Perjuangan M. Ridwan, Anak Pengayuh Becak yang Raih Gelar Doktor

Yakin Para Pencari Ilmu Diberi Kemudahan

Lahir dari keluarga tidak mampu bukan berarti tidak bisa melanjutkan kuliah hingga S-3. Selama memiliki keinginan mencari ilmu pengetahuan pasti diberi kemudahan. Doa orang tua dan guru juga menjadi bekal berharga.

MOH. IQBAL, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

SELAMA ada kemauan dan perjuangan, keinginan pasti akan tercapai. Itu dibuktikan oleh M. Ridwan, warga Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih, Sumenep. Sebab, anak tukang becak itu berhasil meraih gelar doktor.

Ridwan memulai pendidikan dasar di SD. Setelah lulus langsung melanjutkan ke Yayasan Abdullah Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar hingga SMA. Kemudian, melanjutkan kuliah ke STKIP PGRI Sumenep di jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.

Sejak SD hingga S-1 dibiayai oleh keluarga. Ayahnya, Zaini, bekerja mengayuh becak setiap hari di Kota Sumenep. Sedangkan ibunya, Sadrima, bertani di Desa Juruan Daya. Perjuangan orang tuanya itu menjadi pemicu semangat Ridwan untuk belajar dengan giat.

Setelah itu, aktivis Lembaga Kajian Seni Budaya Pangesto Ne¬t_Think Community itu melanjutakn S-2. Dia menempuh pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Atas perjauangan dengan biaya kuliah sendiri itu, akhirnya dia lulus 2013.

Baca Juga :  Bidang ESDA Wujudkan Masyarakat Cerdas dan Hemat Energi

Gelar magister pendidikan yang diraih membuatnya semakin haus ilmu. Dia pun melanjutkan S-3. Perjuangan untuk melanjutkan kuliah S-3 di Universitas Negeri Malang tidak mudah. Apalagi berkiatan dengan keterbatasan biaya. Biaya kuliah hingga mendapatkan gelar doktor tersebut tidak sedikit.

Ridwan selama ini menjadi dosen di kampus Sumenep. Untuk mengembangkan kemampuan di bidang akademik, dirinya berinisiatif melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi.

MEMBANGGAKAN: M. Ridwan (kanan) berfoto bersama istri dan anaknya seusai mengituti ujian disertasi di Universitas Negeri Malang pada Selasa (2/8). (M. Ridwan untuk RadarMadura.id)

Segala perjuangan sudah dilakukan untuk mendapat beasiswa di kampus. Akan tetapi, itu semua tidak berhasil karena memang tidak ada anggaran untuk itu. Kemudian, Ridwan memberanikan diri pinjam uang Rp 10 juta di STKIP PGRI Sumenep untuk membayar SPP S-3 pada 2017.

Ketua Prodi PGSD STKIP PGRI Sumenep itu juga menyatakan, saat berencana ingin melanjutkan kuliah S-3 itu, dirinya sudah berpamitan kepada kedua orang tuanya, guru di ponpes tempatnya belajar, dan kampusnya. Mereka merestui. Akan tetapi, sebagian teman-teman menyarankan agar tidak melanjutkan.

Baca Juga :  Komisi I Nilai Bank Jatim Sumenep Kurang Responsif

Mereka khawatir Ridwan tidak mampu membayar uang kuliah karena mahal. Apalagi, tidak ditanggung beasiswa. ”Tapi, saya yakin apabila kita mencari ilmu pasti akan diberi kemudahan. Itu komitmen awal saya melanjutkan kuliah tanpa beasiswa,” ucap Ridwan.

Banyak perjuangan dan pengorbanan Ridwan yang dilalui selama melanjutkan kuliah S-3. Salah satunya, harus jarang berkumpul dengan keluarga karena harus bolak-balik Sumenep–Malang. Kemudian, harus menghemat kebutuhan keluarga karena dipakai uang kuliah.

Setiap membayar uang semester kebingungan. Beruntung, pihak kampus tempatnya kuliah itu memberikan kemudahan dengan mencicil. Setiap semester harus bayar Rp 10 juta. Semua itu terbayarkan ketika Selasa (2/8) lulus ujian disertasi. Selanjutnya, yudisium akan digelar Jumat (19/8).

”Karena mandiri, saya harus mencari dan berkerja keras, berjuang untuk menutupi utang SPP ke kampus. Tapi, alhamdulillah itu semua bisa saya lalui berkat doa keluarga dan perjuangan selama ini,” jelas pria yang berulang tahun ke-37 Rabu pekan depan itu. (*/luq)

Lahir dari keluarga tidak mampu bukan berarti tidak bisa melanjutkan kuliah hingga S-3. Selama memiliki keinginan mencari ilmu pengetahuan pasti diberi kemudahan. Doa orang tua dan guru juga menjadi bekal berharga.

MOH. IQBAL, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

SELAMA ada kemauan dan perjuangan, keinginan pasti akan tercapai. Itu dibuktikan oleh M. Ridwan, warga Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih, Sumenep. Sebab, anak tukang becak itu berhasil meraih gelar doktor.


Ridwan memulai pendidikan dasar di SD. Setelah lulus langsung melanjutkan ke Yayasan Abdullah Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar hingga SMA. Kemudian, melanjutkan kuliah ke STKIP PGRI Sumenep di jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.

Sejak SD hingga S-1 dibiayai oleh keluarga. Ayahnya, Zaini, bekerja mengayuh becak setiap hari di Kota Sumenep. Sedangkan ibunya, Sadrima, bertani di Desa Juruan Daya. Perjuangan orang tuanya itu menjadi pemicu semangat Ridwan untuk belajar dengan giat.

Setelah itu, aktivis Lembaga Kajian Seni Budaya Pangesto Ne¬t_Think Community itu melanjutakn S-2. Dia menempuh pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Atas perjauangan dengan biaya kuliah sendiri itu, akhirnya dia lulus 2013.

Baca Juga :  Handak Warnai Aktivitas Nelayan

Gelar magister pendidikan yang diraih membuatnya semakin haus ilmu. Dia pun melanjutkan S-3. Perjuangan untuk melanjutkan kuliah S-3 di Universitas Negeri Malang tidak mudah. Apalagi berkiatan dengan keterbatasan biaya. Biaya kuliah hingga mendapatkan gelar doktor tersebut tidak sedikit.

Ridwan selama ini menjadi dosen di kampus Sumenep. Untuk mengembangkan kemampuan di bidang akademik, dirinya berinisiatif melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi.

MEMBANGGAKAN: M. Ridwan (kanan) berfoto bersama istri dan anaknya seusai mengituti ujian disertasi di Universitas Negeri Malang pada Selasa (2/8). (M. Ridwan untuk RadarMadura.id)

Segala perjuangan sudah dilakukan untuk mendapat beasiswa di kampus. Akan tetapi, itu semua tidak berhasil karena memang tidak ada anggaran untuk itu. Kemudian, Ridwan memberanikan diri pinjam uang Rp 10 juta di STKIP PGRI Sumenep untuk membayar SPP S-3 pada 2017.

Ketua Prodi PGSD STKIP PGRI Sumenep itu juga menyatakan, saat berencana ingin melanjutkan kuliah S-3 itu, dirinya sudah berpamitan kepada kedua orang tuanya, guru di ponpes tempatnya belajar, dan kampusnya. Mereka merestui. Akan tetapi, sebagian teman-teman menyarankan agar tidak melanjutkan.

Baca Juga :  Warga Raas Adukan Dugaan Penyimpangan Distribusi BBM ke Dewan

Mereka khawatir Ridwan tidak mampu membayar uang kuliah karena mahal. Apalagi, tidak ditanggung beasiswa. ”Tapi, saya yakin apabila kita mencari ilmu pasti akan diberi kemudahan. Itu komitmen awal saya melanjutkan kuliah tanpa beasiswa,” ucap Ridwan.

Banyak perjuangan dan pengorbanan Ridwan yang dilalui selama melanjutkan kuliah S-3. Salah satunya, harus jarang berkumpul dengan keluarga karena harus bolak-balik Sumenep–Malang. Kemudian, harus menghemat kebutuhan keluarga karena dipakai uang kuliah.

Setiap membayar uang semester kebingungan. Beruntung, pihak kampus tempatnya kuliah itu memberikan kemudahan dengan mencicil. Setiap semester harus bayar Rp 10 juta. Semua itu terbayarkan ketika Selasa (2/8) lulus ujian disertasi. Selanjutnya, yudisium akan digelar Jumat (19/8).

”Karena mandiri, saya harus mencari dan berkerja keras, berjuang untuk menutupi utang SPP ke kampus. Tapi, alhamdulillah itu semua bisa saya lalui berkat doa keluarga dan perjuangan selama ini,” jelas pria yang berulang tahun ke-37 Rabu pekan depan itu. (*/luq)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/