alexametrics
21.6 C
Madura
Thursday, May 26, 2022

Petani Tak Ingin Lewatkan Momentum Harga Garam Mahal

SUMENEP – Garam mahal menjadi berkah bagi petani garam di Sumenep. Tak mau kehilangan momentum bagus tersebut, petani mempercepat produksi garam.

Harga garam sungguh menggiurkan bagi petani garam. Harga garam saat ini lima kali lipat dari sebelumnya. Petani berusaha mempercepat produksi garam untuk segera dijual.

Normalnya, bertani garam membutuhkan waktu seminggu untuk panen. Namun sejak dua bulan terakhir, petani berusaha panen lebih cepat. Bahkan petani bisa panen garam dalam waktu tiga hari.

Mereka sengaja panen lebih cepat karena khawatir ada perubahan cuaca secara mendadak. Meskipun hasil garam tidak banyak, yang penting bisa terjual. Mumpung harga garam melambung tinggi.

Sebelumnya, harga garam per ton rata-rata Rp 500 ribu. Sejak dua bulan terakhir, satu ton garam bisa seharga Rp 3 juta–Rp 4 juta tergantung kualitas. Petani di Sumenep biasanya menjual garam dengan hitungan sak atau karung.

Baca Juga :  Bakal Adukan Persoalan Garam ke Pemerintah Pusat

Setiap satu sak garam dibanderol Rp 180 ribu. Bahkan jika kualitasnya bagus, satu sak garam laku seharga Rp 200 ribu. Satu ton garam sebanyak 20 sak. Dalam satu ton, petani bisa menjual garam seharga Rp 4 juta. Harga garam semahal itu tidak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

”Karena harga mahal, saya berusaha panen cepat. Kalau menunggu panen seperti waktu normal, khawatir hujan. Solusinya, mempercepat waktu produksi,” kata Ahmad Jufri, petani garam di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Sumenep, kemarin.

Petani bisa saja memanen garam sesuai keinginan. Satu hari juga bisa dipanen. Namun hasilnya sedikit. Karena itu, di Desa Nambakor lebih banyak petani yang memanen garam setelah berusia enam hari.

Baca Juga :  Distribusikan Perlengkapan Coklit ke Kepulauan

”Mumpung garam mahal. Meski hasil produksi tidak banyak, namun penjualan lancar dengan harga tinggi,” ucapnya.

Petani garam di Desa Marengan Laok, Karang Anyar, maupun Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget juga bekerja keras mempercepat produksi. Mereka berpacu dengan waktu karena tidak ingin melewatkan momentum garam mahal. Apalagi beberapa hari terakhir ini santer terdengar pemerintah mengizinkan impor garam.

Direktur Produksi PT Garam Budi Sasongko mengaku, pihaknya tidak melakukan penyerapan garam rakyat secara maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya. ”Stok garam sangat minim. Kami tidak bisa menyerap garam secara maksimal di Madura,” ucapnya.

SUMENEP – Garam mahal menjadi berkah bagi petani garam di Sumenep. Tak mau kehilangan momentum bagus tersebut, petani mempercepat produksi garam.

Harga garam sungguh menggiurkan bagi petani garam. Harga garam saat ini lima kali lipat dari sebelumnya. Petani berusaha mempercepat produksi garam untuk segera dijual.

Normalnya, bertani garam membutuhkan waktu seminggu untuk panen. Namun sejak dua bulan terakhir, petani berusaha panen lebih cepat. Bahkan petani bisa panen garam dalam waktu tiga hari.


Mereka sengaja panen lebih cepat karena khawatir ada perubahan cuaca secara mendadak. Meskipun hasil garam tidak banyak, yang penting bisa terjual. Mumpung harga garam melambung tinggi.

Sebelumnya, harga garam per ton rata-rata Rp 500 ribu. Sejak dua bulan terakhir, satu ton garam bisa seharga Rp 3 juta–Rp 4 juta tergantung kualitas. Petani di Sumenep biasanya menjual garam dengan hitungan sak atau karung.

Baca Juga :  Upaya Mendongkrak Stabilitas Harga Garam di Madura

Setiap satu sak garam dibanderol Rp 180 ribu. Bahkan jika kualitasnya bagus, satu sak garam laku seharga Rp 200 ribu. Satu ton garam sebanyak 20 sak. Dalam satu ton, petani bisa menjual garam seharga Rp 4 juta. Harga garam semahal itu tidak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

”Karena harga mahal, saya berusaha panen cepat. Kalau menunggu panen seperti waktu normal, khawatir hujan. Solusinya, mempercepat waktu produksi,” kata Ahmad Jufri, petani garam di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Sumenep, kemarin.

Petani bisa saja memanen garam sesuai keinginan. Satu hari juga bisa dipanen. Namun hasilnya sedikit. Karena itu, di Desa Nambakor lebih banyak petani yang memanen garam setelah berusia enam hari.

Baca Juga :  Bakal Adukan Persoalan Garam ke Pemerintah Pusat

”Mumpung garam mahal. Meski hasil produksi tidak banyak, namun penjualan lancar dengan harga tinggi,” ucapnya.

Petani garam di Desa Marengan Laok, Karang Anyar, maupun Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget juga bekerja keras mempercepat produksi. Mereka berpacu dengan waktu karena tidak ingin melewatkan momentum garam mahal. Apalagi beberapa hari terakhir ini santer terdengar pemerintah mengizinkan impor garam.

Direktur Produksi PT Garam Budi Sasongko mengaku, pihaknya tidak melakukan penyerapan garam rakyat secara maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya. ”Stok garam sangat minim. Kami tidak bisa menyerap garam secara maksimal di Madura,” ucapnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/