21.6 C
Madura
Sunday, May 28, 2023

Air Berkurang, Bayar Lebih Mahal Kok Bisa?

SUMENEP – Kemarau panjang tidak hanya dirasakan warga terdampak kekeringan. Pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sumenep kepada pelanggan juga semakin berkurang.

Diruktur PDAM Sumenep Ach. Supandi mengungkapkan, lembaganya memiliki lima sumber mata air dan tujuh sumur bor. Kemarau panjang tahun ini sangat berpengaruh terhadap sumber mata air yang dikelola PDAM.

Debit air di dua sumber semakin berkurang. Yakni, sumber mata air Giring dan Taman Lake’ di Jalan A. Yani, Sumenep. Akibatnya, pasokan air bersih terhadap pelanggan semakin berkurang.

Berkurangnya debit air di dua sumber mata air itu terjadi sekitar sebulan lalu. Pihaknya memberlakukan sistem buka tutup agar pasokan air terhadap konsumen tetap terjaga.

Baca Juga :  Dari Warga hingga Presiden Ikut Berbagi di Al-Amien Prenduan

”Tutup dulu saluran pipa, kita tampung dulu. Kalau sudah banyak, kita buka lagi,” ujarnya kemarin (4/10).

Supandi menjelaskan, biasanya dalam sehari pasokan air air menyala selama 18 jam. Dia tidak menampik dirinya sering menerima keluhan pelanggan. Misalnya, di wilayah Kelurahan Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep.

Supandi tidak memungkiri sistem buka tutup berdampak pada tagihan. Biaya yang harus dikeluarkan akan lebih mahal. Sebab, setelah air dalam pipa habis, akan berubah menjadi angin.

Meski begitu, Supandi mengaku tidak bisa berbuat banyak lantaran pembayaran pemakaian air tetap berdasar catatan meter (cater). ”Pelanggan yang sering datang ke kami, mengapa biaya tambah besar? Padahal, airnya tambah sedikit,” kata Supandi.

Baca Juga :  Dewan Siap Bersinergi untuk Kemajuan Sumenep

Di tempat terpisah, anggota DPRD Sumenep Suroyo mengapresiasi langkah manajemen PDAM dalam menjaga pasokan air. Dia berharap PDAM memberikan pemahaman soal sistem buka tutup yang diberlakukan dan dampaknya. ”Masyarakat harus tahu agar tidak merasa dirugikan,” pintanya. (jup)

SUMENEP – Kemarau panjang tidak hanya dirasakan warga terdampak kekeringan. Pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sumenep kepada pelanggan juga semakin berkurang.

Diruktur PDAM Sumenep Ach. Supandi mengungkapkan, lembaganya memiliki lima sumber mata air dan tujuh sumur bor. Kemarau panjang tahun ini sangat berpengaruh terhadap sumber mata air yang dikelola PDAM.

Debit air di dua sumber semakin berkurang. Yakni, sumber mata air Giring dan Taman Lake’ di Jalan A. Yani, Sumenep. Akibatnya, pasokan air bersih terhadap pelanggan semakin berkurang.


Berkurangnya debit air di dua sumber mata air itu terjadi sekitar sebulan lalu. Pihaknya memberlakukan sistem buka tutup agar pasokan air terhadap konsumen tetap terjaga.

Baca Juga :  Bom Ikan Meledak, Satu Nyawa Melayang

”Tutup dulu saluran pipa, kita tampung dulu. Kalau sudah banyak, kita buka lagi,” ujarnya kemarin (4/10).

Supandi menjelaskan, biasanya dalam sehari pasokan air air menyala selama 18 jam. Dia tidak menampik dirinya sering menerima keluhan pelanggan. Misalnya, di wilayah Kelurahan Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep.

Supandi tidak memungkiri sistem buka tutup berdampak pada tagihan. Biaya yang harus dikeluarkan akan lebih mahal. Sebab, setelah air dalam pipa habis, akan berubah menjadi angin.

- Advertisement -

Meski begitu, Supandi mengaku tidak bisa berbuat banyak lantaran pembayaran pemakaian air tetap berdasar catatan meter (cater). ”Pelanggan yang sering datang ke kami, mengapa biaya tambah besar? Padahal, airnya tambah sedikit,” kata Supandi.

Baca Juga :  STKIP PGRI Sumenep Wisuda 315 Mahasiswa

Di tempat terpisah, anggota DPRD Sumenep Suroyo mengapresiasi langkah manajemen PDAM dalam menjaga pasokan air. Dia berharap PDAM memberikan pemahaman soal sistem buka tutup yang diberlakukan dan dampaknya. ”Masyarakat harus tahu agar tidak merasa dirugikan,” pintanya. (jup)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/