alexametrics
18.5 C
Madura
Wednesday, June 29, 2022

Anggaran Air Bersih Terdampak Korona

SUMENEP – Intensitas hujan mulai turun dan diprediksi mulai memasuki musim kemarau. Bencana kekeringan kerap terjadi di sejumlah daerah dan butuh dropping air bersih. Namun, pemerintah belum menyiapkan anggaran untuk penanganan bencana kekeringan.

Kepala BPBD Sumenep Abd. Rahman Riadi menyampaikan, masyarakat diimbau waspada karena cuaca ekstrem biasa terjadi menjelang kemarau. Pihaknya telah melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan. Yakni, 11 desa kering kritis, 20 desa kering terbatas, dan 7 desa kering langka.

Pemetaan tersebut tidak cukup untuk menentukan pengajuan anggaran dropping air bersih. Sebab, anggaran untuk bencana kekeringan itu dialokasikan dari dana tidak terduga (DTT). Penganggarannya sesuai kebutuhan bencana yang terjadi.

Anggaran tahun lalu Rp 120 juta tidak bisa menjadi patokan untuk penganggaran tahun ini. Apalagi, sampai saat ini belum ada masyarakat yang mengajukan untuk dropping air bersih. Ketersediaan air di daerah rawan kekeringan mungkin masih cukup untuk keperluan konsumsi.

Baca Juga :  Andai Tak Salat Tarawih Mungkin Kena Reruntuhan Rumah

”Pengajuan itu sesuai kebutuhan akibat bencana. Bisa lebih dari anggaran tahun lalu, juga bisa kurang,” jelasnya.

Selain belum ada laporan, program untuk mengantisipasi kebencanaan ini juga terdampak persebaran Covid-19. Seluruh anggaran dari dana tidak terduga kabupaten sudah dialokasikan untuk penanganan korona.

Kendati demikian, BPBD optimistis bisa melayani masyarakat terdampak kekeringan. Pemetaan daerah kekeringan dilakukan dengan berbagai cara. Seperti meminta laporan organisasi perangkat daerah (OPD) lain yang melakukan program pencegahan kekeringan.

Termasuk, mengulas data pemetaan bencana kekeringan tahun lalu dan menerima laporan langsung dari masyarakat. Distribusi air bersih dilakukan bersama PDAM.

”Kami akan perjuangkan agar tetap ada anggaran untuk penanganan kekeringan. Hal ini sudah disampaikan kepada Sekkab dan akan segera dirapatkan,” jelasnya. (jun)

Baca Juga :  Diterjang Angin Kencang, 20 Rumah Rusak

SUMENEP – Intensitas hujan mulai turun dan diprediksi mulai memasuki musim kemarau. Bencana kekeringan kerap terjadi di sejumlah daerah dan butuh dropping air bersih. Namun, pemerintah belum menyiapkan anggaran untuk penanganan bencana kekeringan.

Kepala BPBD Sumenep Abd. Rahman Riadi menyampaikan, masyarakat diimbau waspada karena cuaca ekstrem biasa terjadi menjelang kemarau. Pihaknya telah melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan. Yakni, 11 desa kering kritis, 20 desa kering terbatas, dan 7 desa kering langka.

Pemetaan tersebut tidak cukup untuk menentukan pengajuan anggaran dropping air bersih. Sebab, anggaran untuk bencana kekeringan itu dialokasikan dari dana tidak terduga (DTT). Penganggarannya sesuai kebutuhan bencana yang terjadi.


Anggaran tahun lalu Rp 120 juta tidak bisa menjadi patokan untuk penganggaran tahun ini. Apalagi, sampai saat ini belum ada masyarakat yang mengajukan untuk dropping air bersih. Ketersediaan air di daerah rawan kekeringan mungkin masih cukup untuk keperluan konsumsi.

Baca Juga :  Andai Tak Salat Tarawih Mungkin Kena Reruntuhan Rumah

”Pengajuan itu sesuai kebutuhan akibat bencana. Bisa lebih dari anggaran tahun lalu, juga bisa kurang,” jelasnya.

Selain belum ada laporan, program untuk mengantisipasi kebencanaan ini juga terdampak persebaran Covid-19. Seluruh anggaran dari dana tidak terduga kabupaten sudah dialokasikan untuk penanganan korona.

Kendati demikian, BPBD optimistis bisa melayani masyarakat terdampak kekeringan. Pemetaan daerah kekeringan dilakukan dengan berbagai cara. Seperti meminta laporan organisasi perangkat daerah (OPD) lain yang melakukan program pencegahan kekeringan.

Termasuk, mengulas data pemetaan bencana kekeringan tahun lalu dan menerima laporan langsung dari masyarakat. Distribusi air bersih dilakukan bersama PDAM.

”Kami akan perjuangkan agar tetap ada anggaran untuk penanganan kekeringan. Hal ini sudah disampaikan kepada Sekkab dan akan segera dirapatkan,” jelasnya. (jun)

Baca Juga :  Pengunjung Pasar Wajib Pakai Masker dan Cuci Tangan
- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/