alexametrics
21.7 C
Madura
Saturday, July 2, 2022

Bom Ikan Meledak, Satu Nyawa Melayang

SAPEKEN – Petaka itu terjadi di laut utara Desa Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken. Bom ikan yang dibawa tujuh nelayan asal Desa Tanjung Kiaok meledak dan mengenai perahu yang mereka tumpangi. Seorang dinyatakan tewas karena peristiwa nahas tersebut.

Ledakan bom ikan yang terjadi Senin (2/3) pukul 15.00 itu diketahui oleh tiga nelayan di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Yakni, Hosen, Sukarman, dan Nunnang yang berasal dari Desa Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken.

Mereka lalu mendekati TKP dan menolong para nelayan yang terpental akibat ledakan bom ikan. Namun, saat itu hanya enam nelayan yang berhasil diselamatkan. Sementara satu nelayan hilang.

Enam nelayan tersebut beserta perahu Ramadan dievekuasi ke daratan. Perahu rusak cukup parah. Terutama di bagian lambung sisi kiri.

Baca Juga :  Sepi Penumpang, Jadwal Penerbangan Ditunda

Dugaan polisi, bom meledak setelah dilemparkan ke laut, lalu mengenai lambung kapal. Itu berdasarkan keterangan saksi.

”Untuk mendatangi TKP, kita butuh waktu 2 jam menggunakan speed boat. Sekitar pukul 18.00, saya beserta anggota baru sampai di lokasi,” kata Kapolsek Sapeken Iptu Karsono kemarin (3/3).

Pencarian para nelayan terus dilakukan dibantu nelayan setempat. Baru sekitar pukul 11.00 kemarin nelayan yang sempat menghilang itu ditemukan di dasar laut, tapi sudah meninggal.

Karsono menegaskan, tindakan tujuh nelayan tersebut melanggar hukum karena menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan. Proses hukum akan terus dilanjut.

Sampai saat ini, enam nelayan yang selamat tengah dikejar polisi. Mereka diharapkan secepatnya menyerahkan diri. Polisi telah mengantongi nama-nama mereka.

Nelayan yang meninggal diketahui bernama Amir, warga Desa Tanjung Kiaok, Kecamatan Sapeken. Sementara enam nelayan yang selamat yaitu Tamma, Anton, Jeferi, Surji, Indri, dan Erpan. Mereka masih satu desa dengan nelayan yang ditemukan meninggal.

Baca Juga :  Ngaku Cinta NKRI, Ini Yang Dilakukan Sastrawan Pinggiran asal Bluto

”Sekarang belum diamankan karena mereka masih bersembunyi. Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk menangkap mereka,” bebernya.

Sementara itu, Kasatpolair Polres Sumenep Iptu Agung Widodo mengatakan, selama ini, patroli laut rutin dilakukan untuk mencegah penggunaan alat tangkap yang dilarang. Namun, jangkauannya belum sampai ke perairan di kepulauan terluar.

Mengingat, lanjut Agung, ketersediaan armada kapal secara spesifikasi tidak memungkinkan untuk menjangkau hingga kepulauan terluar. ”Kami rutin melakukan pengawasan dengan berpatroli setiap hari. Untuk kepulauan terluar, kami juga bekerja sama dengan polsek jajaran,” ujarnya. (jun)

SAPEKEN – Petaka itu terjadi di laut utara Desa Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken. Bom ikan yang dibawa tujuh nelayan asal Desa Tanjung Kiaok meledak dan mengenai perahu yang mereka tumpangi. Seorang dinyatakan tewas karena peristiwa nahas tersebut.

Ledakan bom ikan yang terjadi Senin (2/3) pukul 15.00 itu diketahui oleh tiga nelayan di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Yakni, Hosen, Sukarman, dan Nunnang yang berasal dari Desa Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken.

Mereka lalu mendekati TKP dan menolong para nelayan yang terpental akibat ledakan bom ikan. Namun, saat itu hanya enam nelayan yang berhasil diselamatkan. Sementara satu nelayan hilang.


Enam nelayan tersebut beserta perahu Ramadan dievekuasi ke daratan. Perahu rusak cukup parah. Terutama di bagian lambung sisi kiri.

Baca Juga :  Pemasangan Sheet Pile Lanjut

Dugaan polisi, bom meledak setelah dilemparkan ke laut, lalu mengenai lambung kapal. Itu berdasarkan keterangan saksi.

”Untuk mendatangi TKP, kita butuh waktu 2 jam menggunakan speed boat. Sekitar pukul 18.00, saya beserta anggota baru sampai di lokasi,” kata Kapolsek Sapeken Iptu Karsono kemarin (3/3).

Pencarian para nelayan terus dilakukan dibantu nelayan setempat. Baru sekitar pukul 11.00 kemarin nelayan yang sempat menghilang itu ditemukan di dasar laut, tapi sudah meninggal.

Karsono menegaskan, tindakan tujuh nelayan tersebut melanggar hukum karena menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan. Proses hukum akan terus dilanjut.

Sampai saat ini, enam nelayan yang selamat tengah dikejar polisi. Mereka diharapkan secepatnya menyerahkan diri. Polisi telah mengantongi nama-nama mereka.

Nelayan yang meninggal diketahui bernama Amir, warga Desa Tanjung Kiaok, Kecamatan Sapeken. Sementara enam nelayan yang selamat yaitu Tamma, Anton, Jeferi, Surji, Indri, dan Erpan. Mereka masih satu desa dengan nelayan yang ditemukan meninggal.

Baca Juga :  Laka Beruntun, Dua Nyawa Melayang

”Sekarang belum diamankan karena mereka masih bersembunyi. Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk menangkap mereka,” bebernya.

Sementara itu, Kasatpolair Polres Sumenep Iptu Agung Widodo mengatakan, selama ini, patroli laut rutin dilakukan untuk mencegah penggunaan alat tangkap yang dilarang. Namun, jangkauannya belum sampai ke perairan di kepulauan terluar.

Mengingat, lanjut Agung, ketersediaan armada kapal secara spesifikasi tidak memungkinkan untuk menjangkau hingga kepulauan terluar. ”Kami rutin melakukan pengawasan dengan berpatroli setiap hari. Untuk kepulauan terluar, kami juga bekerja sama dengan polsek jajaran,” ujarnya. (jun)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/